
Dalam Maleakhi 3:3, Allah menggambarkan diri-Nya seperti tukang pemurni emas dan perak dalam hubungan dengan umat-Nya. Ini menunjukkan bahwa Allah terus menerus menguji, iman, ketaatan, kasih, karakter dan kesetiaan kita kepada-Nya.
Allah menguji Abraham dengan menyuruhnya mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal yang ia kasihi, yang kelahirannya telah dinantikan selama 25 tahun. Abraham lulus dalam ujian ini, sehingga ia mengalami penyediaan Allah dan membawa berkat bagi bangsa-bangsa.
Namun tidak setiap orang lulus dalam ujian iman yang mereka hadapi. Adam dan Hawa gagal dalam ujian mereka di Taman Eden. Daud gagal dalam ujian yang diberikan kepadanya dalam beberapa peristiwa.
Selain mengembangkan karakter dan iman, ujian yang kita hadapi akan mengungkapkan: Kepada siapakah kasih kita terpaut? Allah atau yang lainnya? Ujian juga akan mengungkapkan di manakah kita menaruh prioritas kehidupan kita sebenarnya: Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya atau hal- hal sementara dan fana di dunia ini?
Abraham mengalami ujian iman yang sangat besar ketika Allah memintanya untuk mempersembahkan Ishak. Namun, ketahuilah bahwa ujian tidak selalu datang dalam peristiwa besar, ujian itu bisa datang dalam peristiwa kecil yang bahkan tampak tidak berarti. Misalnya:
- Ketika orang lain yang berada di belakang menyalib dan mendahului Anda mengisi tempat parkir yang seharusnya akan kita isi. Apa reaksi Anda?
- Ketika Anda sedang lapar dan baru pulang kerja. Mengharapkan segera menikmati hidangan lezat yang telah disediakan isteri seperti yang biasa dilakukannya. Tapi kali ini, saat tiba di rumah, Anda mendapati meja makan kosong tidak ada apa-apa, karena isteri ketiduran. Apa reaksi Anda?
Adalah penting lulus dalam setiap ujian yang terjadi di sepanjang kehidupan kita. Lulus melewati ujian-ujian kehidupan adalah cara yang dipakai Allah untuk membawa kita mengalami penyediaan, berkat dan perkenanan-Nya, seperti yang terjadi pada Abraham. Untuk itu beberapa hal yang harus kita lakukan:
- Prioritaskan Tuhan
Matius 6:33 berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Tindakan praktis yang dapat kita lakukan adalah membangun persekutuan yang akrab dengan Tuhan melalui membaca Alkitab dan berdoa. Juga mengajak seluruh anggota keluarga kita beribadah, dan menyisihkan sebagian penghasilan kita untuk dipersembahkan sebagai ucapan syukur maupun persepuluhan. Dari persekutuan yang akrab dengan Tuhan dan dari saat-saat ibadahlah kita mendapatkan kekuatan rohani untuk bisa melewati ujian-ujian iman yang diijinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita.
- Percaya pada pemeliharaan Allah
Allah berjanji untuk memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Fil. 4:19). Percaya pada pemeliharaan Allah menghindarkan kita dari kekuatiran tentang apa pun di dalam kehidupan ini. Kepercayaan kepada Allah tidak berarti kita bersikap pasif tidak melakukan apa pun, sebaliknya mendorong kita untuk bekerja dengan giat dan rajin.
- Berdoa dengan sungguh-sungguh agar hal-hal besar terjadi di dalam hidup kita
Banyak anak Tuhan tidak mengalami hal-hal besar dalam hidupnya bukan karena mereka tidak berdoa. Tetapi karena mereka meminta hal-hal yang tidak terlalu berarti. Allah memanggil kita untuk meminta dan mengharapkan hal-hal yang besar dari Dia. “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui.” (Yer. 33:3). Yakobus mengatakan bahwa Elia adalah manusia biasa seperti kita, tetapi ia berdoa untuk hal-hal besar terjadi di dalam kehidupannya. Dan Allah menjawabnya. Mengapa? Yakobus melanjutkan: “Karena doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya.” (Yak. 5:16). Amin.
GBI Pasir Koja 39 Bandung