TUGAS SEORANG IBU

TUGAS SEORANG IBU - Hadiah yang paling indah yang kedua yang bisa Anda berikan kepada anak Anda adalah "tongkat" kedisiplinan. Hadiah kedisiplinan tidak bisa
Oleh: Indri Haans

TUGAS SEORANG IBU

Hadiah Kedisiplinan TUGAS SEORANG IBU
Hadiah yang paling indah yang kedua yang bisa Anda berikan kepada anak Anda adalah “tongkat” kedisiplinan. Hadiah kedisiplinan tidak bisa dianggap remeh. Seorang anak yang mempunyai hati pemberontak mempunyai kesulitan untuk menerima firman Allah. Hatinya keras bagaikan batu karang, tanah yang berduri seperti perumpamaan Yesus di Markus 4. Ketika kita memberikan anak-anak kita kasih tanpa syarat, mereka bisa menerima pendisiplinan kita. Ketika kita mendisiplinkan anak-anak kita, itu akan menghasilkan kelembutan di hati mereka, sehingga mereka bisa memberi tanggapan kepada Allah dan menerima perkataan-Nya. Hadiah seperti inilah yang seharusnya diberikan seorang ibu kepada anaknya, saling bergantung satu dengan yang lainnya. TUGAS SEORANG IBU

Seorang anak yang belajar menaati orang tuanya suatu hari akan dapat belajar menaati Allah. Ketika kita mengajarkan anak-anak kita untuk mendengarkan suara-suara kita untuk taat, kita sedang melatih mereka untuk menjadi anak-anak Allah yang akan mendengarkan suara-Nya dan taat. TUGAS SEORANG IBU

Melalui kehidupan anak-anak kita, kita akan menetapkan batasan-batasan yang patut. Dalam masa kecilnya hingga tahun-tahun di sekolahnya orang tua dapat memperkuat batasan-batasan yang ditentukan dengan teknik pendisiplinan eksternal.

Ketika seorang anak memasuki sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, ibu-ibu perlu memikirkan kembali cara-cara mereka mendisiplin. Anak sedang beranjak dari menaati otoritas hanya untuk menyenangkan orangtua. Sekarang dia harus taat sebagai pengendalian diri internal. Jika dia memilih untuk tidak taat, seharusnya ada konsekuensi yang menyakitkan yang harus dibayar.

Batasan-batasan yang sepantasnya masih tetap dibutuhkan ketika anak-anak kita meninggalkan rumah. Mereka harus sudah mulai mengambil tanggung jawab atas penghidupan mereka secara finansial, emosional, hubungan antar sesama dan spiritual segera setelah mereka meninggalkan sangkar kita. Kita tetap memberikan kasih tanpa syarat kepada anak-anak kita, dukungan dan doa. Tetapi untuk membantu mereka agar menjadi orang dewasa dan utuh, kita perlu menetapkan batasan-batasan yang jelas untuk diri kita sendiri dan untuk mereka dalam dukungan finansial dan dalam hal terlalu terlibat dalam masalah pribadi mereka. Tujuannya adalah untuk menyiapkan mereka untuk meninggalkan kita dan bersatu dengan keluarga mereka yang baru ketika mereka menikah.

Sukacita Pendisiplinan
Seorang anak yang mendengarkan didikan adalah satu kesukaan bagi orangtuanya dan dengan bebas dapat melakukan apa yang Allah rencanakan atas hidupnya. Seorang anak yang bebal mendatangkan duka bagi orang tuanya. Dia memiliki banyak masalah dengan dirinya sendiri, dia tidak bisa melampaui dirinya sendiri untuk mencapai rencana besar Allah untuk dirinya (Amsal 10:1; 13:1; 15:20).

Dalam 1 Samuel 2: 26 dan Lukas 2: 40, 52 diceritakan tentang Samuel dan Yesus.
Yesus dan Samuel bertumbuh dalam hikmat, dan secara fisik, dan menjadi kesukaan bagi Allah dan manusia. Inilah tujuan pendisiplinan kita. Kita ingin anak-anak kita bertumbuh secara spiritual, fisik dan antar hubungan. Disiplin dalam rumah dapat menciptakan suasana yang tepat untuk pertumbuhan itu.
Siapakah yang bertanggungjawab di sini?
Untuk memberikan anak-anak kita hadiah kedisiplinan ini, kita harus menetapkan dari awal siapa yang menduduki posisi yang berwenang atas anak-anak kita.

Dalam Keluaran 20:12, Efesus 6:1 dan Kolose 3: 20. Alkitab berbicara jelas di sini. Orang tua yang berwenang atas anak-anak. Ini adalah rencana yang ditetapkan oleh Allah untuk organisasi keluarga. Ketika rencana ini diabaikan, akan terjadi kekacauan.
Anak-anak harus hormat dan taat kepada ibu dan ayah. Ayah adalah yang Allah tunjuk sebagai kepala rumah tangga (Kolose 3: 18). Dalam perintah Allah, ibu tunduk pada kepemimpinan ayah dan anak-anak tunduk pada kedua orangtuanya.

Anda perlu menanamkan kebenaran ini dengan kuat di dalam pemikiran Anda. Rencana Allah bagi Anda, orangtua, untuk menjadi yang berwenang atas kehidupan seorang anak-bukan pemerintah, bukan sistem sekolah, dan yang paling pasti bukan si anak.

Teladan yang Paling Utama
Pengasuhan yang Alkitabiah bukan perkara mudah tetapi tugas-tugas yang sulit senantiasa lebih bisa dilakukan ketika Anda mempunyai satu teladan yang luar biasa sebagai pola bagi diri Anda. Dan dalam hal pendisiplinan maupun kasih tanpa syarat kita mempunyai teladan yang paling mengagumkan, Bapa kita yang di sorga.

Bacalah Ayub 5: 7 dan Ibrani 12:5-11 tentang pendisiplinan dari Allah.
Disiplin adalah sebagai satu ekspresi dari kasih yang sesungguhnya bukti dari keanggotaan keluarga. Allah mengasihi kita dan menerima kita sebagai anak anak-Nya yang sesungguhnya, oleh karena itu Dia mendisiplinkan kita. Jika kita mengasihi anak-anak kita, kita akan mendisiplin mereka. Disiplin adalah satu gagasan umum yang berarti pengajaran pelatihan dan pembentukan melalui instruksi untuk menghasilkan karakter.

Ketika orangtua menetapkan wewenang mereka, anak-anak mempunyai pilihan untuk taat atau tidak. Jika mereka memilih untuk tidak taat, orangtua harus mengambil tindakan. Karena Allah adalah orangtua teladan, mari periksa praktek-praktek pendisiplinan-Nya.

Kita akan mulai bekerja melalui proses pendisiplinan anak-anak kita. Ada beberapa petunjuk yang akan membantu Anda untuk menetapkan disiplin untuk anak-anak Anda. Mohon jangan membuatnya dogmatis menjadi langkah-langkah yang kaku untuk mengikuti setiap kasus. Setiap situasi dan setiap anak membutuhkan pemahaman, pengertian yang baik dan pertimbangan.

Untuk membaca artikel WBI yang lain silahkan klik disini  

Check Also

Artikel Wanita April 26 copy

IMAN UNTUK MENANG – 7

Artikel Wanita April 26 copy Dalam pertandingan yang ditayangkan secara nasional di televisi dari Norman, …