Transform or Die (Berubah atau mati)! adalah tema yang diangkat pada kongres nasional DPA GBI ke -15 yang diadakan di Kinasih Resort & Hotel – Bogor. Selama 3 hari 2 malam seluruh pengurus DPA GBI di Indonesia dan luar negeri berkumpul menghadiri acara rutin empat tahunan DPA GBI. GBI Pasir Koja 39 pun secara rutin mengirimkan utusannya untuk mengikuti kegiatan kongres ini.
Latar belakang tema “Transform or Die” karena melihat perkembangan zaman yang begitu cepat sehingga pelayanan anak muda dituntut untuk berubah seiring perkembangan zaman tentunya dengan memegang teguh nilai-nilai kekristenan. Pemuda sebagai penerus gereja di masa mendatang perlu berubah oleh pembaharuan budi (Roma 12:2).
Dalam menghadapi 7 tantangan zaman yaitu, Secularism challenge, Cultural challenge, Family/Next-Gen Challenge, Ideological Challenge, Celebration Challenge, Christ Missional Challenge, dan Poverty & Justice Challenge, pemuda GBI diharapkan dapat memberi dampak atas 7 bidang kehidupan. 7 bidang kehidupan ini dikenal dengan nama seven spheres, terdiri atas Arts, Media Entertainment & Sports; Business, Church, Development of the Poor, Education, Family dan Government. Pemuda GBI diharapkan tidak hanya diam di dalam lingkungan gereja namun dapat memberi dampak dan membawa nilai-nilai kekristenan pada seluruh bidang kehidupan tersebut. Seperti tokoh-tokoh Alkitab yang sebenarnya dipanggil dan diutus ke berbagai bidang kehidupan. Abraham dan Ayub merupakan pengusaha, Yusuf dan Daniel dalam bidang pemerintahan, Paulus sebagai pembuat tenda, Matius sang pemungut cukai, Lukas sebagai dokter/tabib, dan Petrus seorang nelayan.
Sebelum diutus dalam berbagai bidang kehidupan, anak muda perlu diperlengkapi melalui pemuridan. Pemuridan harus menjadi salah satu fokus pelayanan karena kita tidak hanya membentuk anak muda yang sekedar ‘tidak nakal’ melainkan anak muda yang dapat memberi dampak bagi bidang kehidupan yang digelutinya. Pemuridan menjadi sangat penting karena merupakan proses mempersiapkan generasi pemimpin selanjutnya, jangan sampai seperti bangsa Israel yang kehilangan generasi seperti tercatat pada Hakim-hakim 2:7-10. Pemuridan bukan hanya merupakan tanggungjawab gereja melainkan menjadi tanggungjawab orang tua di rumah. Perlu ada kerjasama yang baik antara pelayanan anak muda dengan orangtua dari para remaja. Pemuridan menghasilkan pemimpin baru yang fresh dengan kreatif untuk menjangkau generasinya, karena pelayanan generasi membutuhkan hal yang riil dan otentik agar gereja tetap relevan dan tidak kaku, adanya rasa kepemilikan terhadap gereja, dan anak-anak muda tidak merasa buang-buang waktu di gereja.
Bila telah dipersiapkan, anak muda perlu berani melangkah keluar zona nyamannya yaitu pergi ke market place. Seperti Paulus dalam Kisah Para Rasul 17:17, ia memberitakan Injil di rumah ibadat (lingkungan gereja) dan di pasar (tempat pekerjaan/market place). Ketika kita diutus ke tempat pekerjaan, jadilah ahli dalam bidang kita ditempatkan agar dapat menjadi berkat. Kita perlu rohani tetapi tetap ahli, sehingga karakter dan prestasi dapat bersanding dengan harmonis.
Selain mendapatkan pesan bagi pelayanan anak muda di gereja masing-masing, kami melakukan pemilihan untuk ketua DPA GBI, terdapat 3 calon yaitu Joel Manalu, Yohanes Nahuway, dan Yohanes Sirait. Ketiga calon ketua ini semuanya merupakan pemuda yang berusia di bawah 40 tahun, sehingga paham betul tantangan yang dihadapi anak muda zaman ini. Kami pun mengikuti berbagai rapat komisi dan workshop untuk membekali kami. Satu hal yang menyenangkan ialah kami mendapatkan kenalan baru sebagai rekan-rekan sepelayanan di Bandung maupun dari kota-kota lainnya. Semoga keikutsertaan GBI Pasir Koja 39 dalam kongres nasional ini dapat memberi dampak baik bagi pelayanan anak muda di lingkungan gereja ini.
Oleh: Ivan Stefanus
GBI Pasir Koja 39 Bandung