2 Timotius 4:3 (TB) Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
Pengajaran, diutamakan Allah sejak manusia diciptakan. Mengapa?. Karena Allah menghendaki seluruh umat-Nya mengenal Pribadi Allah, sekaligus mengetahui rencana Allah untuk manusia dan seluruh alam semesta. Dengan demikian mereka mengetahui tujuan hidupnya. Kejadian 1:28, Allah berfirman supaya manusia bermultiplikasi dengan cara yang benar. Berfirman bisa diartikan berbicara, memerintahkan atau mengajarkan bahwa dengan hal itu ada yang dituju. Kemudian dalam Kej 3:15, yg merupakan pro-evangelism, di mana kasih karunia Allah dinyatakan kepada manusia melalui seorang perempuan yang akan melahirkan keturunan yang kudus. Dalam Ulangan 6, Allah menitahkan supaya mengajarkan keturunan bangsa Israel untuk mengasihi, dan sekaligus mentaati perintah Allah. Dalam Matius 28:18-20, Tuhan Yesus sendiri memerintahkan kepada murid-murid-Nya untuk mengajarkan apa yang Tuhan telah ajarkan. Begitu pula dengan Rasul Paulus. Ia sangat respek pada pengajaran yang benar. Hal itu dapat kita lihat pada pesan yang diberikan kepada Timotius, “Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.”(1 Timotius 4:11). Mengapa pengajaran selalu ditekankan?. Karena Allah tidak menghendaki penyelewengan dalam pengertian akan Allah.
Bagaimana dengan orang Kristen? Banyak orang Kristen berkata,”Saya tidak mungkin terbawa menyimpang dari ajaran Allah atau arus penyesatan.” Kalau anda tidak ingin disesatkan, Itu merupakan prinsip iman yang baik dan perlu dipertahankan. Namun anda perlu waspada, karena kekuatan iman bukan sekedar kegiatan gereja yang anda lakukan, atau pelayanan yang begitu banyak. Ikut kegiatan gereja, itu baik. Pelayanan pun sama baiknya. Ingat! Kerohanian saya tidak bisa didasarkan pada kebaktian minggu di gereja. Justru dalam kehidupan sehari-harilah kita diuji apakah kita memegang prinsip-prinsip Alkitab?. Banyak orang Kristen beranggapan sudah cukup hanya percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi dalam keseharian hidupnya ikut arus penyesatan terselubung, atau yang dikatakan gerakan jaman baru, atau penyesatan modern. Ramalàn,okultisme, paranormal merambah dimana-mana. Apalagi sekarang-sekarang ini telah dibuka kepercayaan-kepercayaan yang mengatas namakan agama. Mereka yang telah meninggalkan 100 % kepercayaannya yang dahulu karena tidak dilegalkan, kini mulai berkembang, bermunculan , dulu layu sekarang berkembang kembali. Kekristenan bukan sekedar trend, bukan sekedar pelarian karena tidak ada pilihan agama. Kekristenan merupakan iman kepada Kristus yang mati dan bangkit untuk menyelamatkan umat manusia .
Terlalu banyak orang Kristen yang melayani, dan bahkan lulusan seminari, terpelosok pada jebakan si Iblis. Mereka mengalami hal itu karena ingin mencari “kepuasan rohani” yang tak kunjung tiba. Atau mereka melakukan banyak hal hanya untuk mencari sensasi lain. Seperti apa yang dikatakan oleh Florence Bulle, “Gereja telah mengalami banyak pembaharuan-pembaharuan, namun pembaharuan itu yang semula berpusat pada Yesus sebagai Tuhan dan pada kuasa-Nya dan karunia-karunia Roh Kudus yang telah dianugrahkan kepada gereja, mulai bergeser, mulai kabur. Ajaran baru yang disusul oleh ajaran baru lain untuk memperoleh perhatian.”(8;2) Hal inilah yang paling riskan. Gembala dalam suatu gereja menjadi panutan. Kemana pun ia berjalan, akan jemaat ikuti. Ajaran benar sulit dipisahkan. Seperti halnya dengan kasih karunia (Grace). Jemaat Tuhan perlu mendapatkan pengertian yang jelas. Kasih karunia Allah itu diperoleh oleh orang percaya dengan gratis, tetapi tidak murahan. Keselamatan sudah Yesus jamin melalui kematian-Nya di kayu salib. Namun demikian bukan kita lalu aman hidup dalam dosa. “Pengertian kasih karunia perlu diikuti dengan aspek-aspek mendasar dari kebenaran yang Alkitabiah”, demikian yang dikatakan oleh M. L Brown, PhD (26;3).
Bagaimana kita tidak tersesat dan disesatkan?. Tentu sebagai orang percaya yang ingin murni sesuai dengan Allah, hanya dengan cara kembali ke Alkitab ( Back to the Bible). Untuk di Indonesia, Alkitab yang sesuai adalah cetakan LAI. Yang berikutnya kita perlu “cross cek” kepada gembala yang berpegang teguh pada Alkitàb.
Pengajaran dalam Gereja sangat diperlukan, dan itulah tugas Gereja, tetapi sayangnya tidak bànyak warga gereja yang memberi perhatian untuk hal itu. Kegiatan yang mengasyikkan, acara yang meriah, pembicara yang kocak, pembicara yang keren mendapat porsi yang lebih dicari. Semua itu boleh saja, tetapi mari kita mulai menjadi jemaat yang bertumbuh secara seimbang. Pengajaran yang monoton tanpa ada bumbu pun semakin membosankan, tetapi hati-hati jangan sampai kita terperangkap pada pertumbuhan rohani yang semu. Kembalilah pada pengajaran yang sehat.
Oleh: Dedy Gunawan
GBI Pasir Koja 39 Bandung