Terobosan Ekonomi dalam Masa Krisis

Alkitab adalah buku terlengkap yang memberi  jawaban dalam masalah apa pun dalam hidup kita. Di dalamnya kita melihat contoh-contoh kehidupan dari orang yang bergaul erat dengan Allah dan bagaimana mereka memperoleh kemenangan atas masa-masa sulit. Kejadian 26:1-33 menceritakan bagaimana Ishak diberkati di masa sulit, bahkan meraih tuaian besar di tengah kekeringan, bahkan menerima hormat dan pengakuan dari orang yang iri hati dan  berusaha untuk mengambil apa yang menjadi haknya. Rahasia dari keberhasilan Ishak adalah:

  1. Ishak hidup dalam janji Tuhan, “…tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau…” (ay. 3).

Ishak percaya akan janji dan penyertaan Tuhan. Jika kita ingin mendapatkan kehidupan yang sukses dan berbahagia, kunci pertama adalah kita harus memegang janji-Nya.  Para profesional dan pengusaha harus mengenal janji Tuhan dan hidup berdasarkan janji itu. Tanpa pengenalan akan Tuhan dan janji-Nya kita akan didorong untuk menjadi takut, kuatir dan mengambil keputusan yang salah bahkan akan membawa kita pada masalah yang lebih besar.

  1. Ishak taat, “…Jadi tinggallah ishak di Gerar …”(ay. 6), Tuhan memerintahkan Ishak untuk tetap tinggal di Gerar dan tidak pergi ke Mesir, dan dia tinggal di situ. Ketaatannya membuat Tuhan memberkati dia. Bila dia berangkat ke Mesir , Tuhan tidak akan menyertai dan memberkati dia. Ketaatan adalah kunci kedua dari berkat Tuhan. Banyak anak Tuhan, para pengusaha dan profesional yang hidupnya tidak diberkati karena tidak taat.

Seorang pengusaha muda yang kami mentoring di Kalimantan Barat mengalami terobosan dan mujizat dalam bisnisnya, dia taat untuk membereskan sistem keuangannya yang berantakan dan membereskan juga hubungannya dengan otoritas kota dimana dia pernah bermasalah. Akibatnya semua piutang yang selama 2 tahun tidak pernah dibayar hanya dalam waktu 1 bulan sejak dia mengambil keputusan untuk taat; cair dan dibayar seluruhnya. Tanpa ketaatan, Tuhan tidak bisa memberkati hidup kita sepenuhnya, mungkin kita mencapai level tertentu tapi akan berhenti bahkan jatuh setelah itu jika kita terus memelihara ketidaktaatan. Sama seperti Saul yang karena ketidaktaatannya harus kehilangan tahtanya.

  1. Ishak menabur di masa sulit,”…Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat seratus kali lipat, sebab ia diberkati Tuhan…” (ay. 12).

Seringkali di masa sulit kita harus mengirit, menghentikan bantuan kepada orang lain dan juga pelayanan atau gereja lokal dimana kita tinggal, bahkan lebih ekstrim lagi ada yang menghentikan perpuluhannya karena sedang mengalami kesulitan ekonomi, padahal bila kita tidak menabur kita tidak akan menuai. Malah sebaliknya, di masa sulit kita harus berani menabur lebih banyak dan mengalami tuaian lebih besar. Sejak memutuskan untuk memberi bagi misi dan pekerjaan Tuhan, perusahaan kami mengalami peertumbuhan yang luar biasa. Namun pada tahun 2006 dan 2007 kami mengalami penurunan omset, bahkan kerugian. Sekali pun demikian, kami tetap memutuskan untuk membantu hamba-hamba Tuhan di desa dan pelayanan orang-orang miskin, panti narkoba dan anak jalanan. Akibatnya di tahun 2008, kami mengalami pemulihan dan terobosan ekonomi yang luar biasa, bahkan di tahun 2009  kami mengalami percepatan dan pelipatgandaan yang dahsyat sampai tahun 2017 Tuhan terus memberkati perusahaan kami. Tuhan membuka pintu-pintu yang baru yang tak terduga di kedua perusahaan kami. Tetaplah menabur, ketika kita berbelas kasihan dan bermurah hati, kita akan mengalami kemurahan Tuhan.

  1. Ishak tekun, “…..kemudian ishak menggali kembali sumur –sumur yang digali dalam zaman Abraham ayahnya….” (Kej. 18-22). Ishak tidak hanya berdiam diri menunggu hujan, dia tekun dan rajin, bahkan mengembangkan apa yang pernah dikerjakan ayahnya. Hasilnya dia mendapatkan air yang berbual-bual. Di masa sulit, anak-anak Tuhan harus menggali potensi yang terpendam yang mungkin telah diwariskan oleh nenek moyang kita, bakat dan kemampuan yang tersembunyi yang akan menjadi sumber kesuksesan dan terobosan yang lebih luar biasa. Ketika sumur-sumur itu diambil alih oleh Abimelekh, dia tidak marah tetapi terus menggali lagi sumber lain yang ternyata juga berbual-bual airnya. Ia tahu bahwa sumber kesuksesanya adalah Allah, bukan sumur. Tuhan bisa memberi sumber-sumber sukses yang baru tanpa kita harus mempertahankan apa yang menjadi hak kita. Akibatnya, bila kita melihat kisah sukses ini dikatakan bahwa Ishak menjadi sangat kaya dan berpengaruh (ay. 13-14 dan 16), bahkan Abimelekh mengajak para panglimanya untuk berdamai dengan Ishak. Abimelekh mengakui bahwa Ishak sukses karena Allah menyertai dia (ay. 28), suatu pengakuan yang luar biasa. Bila kita menerapkan prinsip firman Tuhan ini, apa yang menjadi pengalaman Ishak akan menjadi pengalaman hidup kita. Amin.

Oleh: Pdt. Simon Irianto

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …