
Sore itu, saya mendapat kesempatan untuk berbincang singkat dengan pasangan Bapak George Tapiheru dan Ibu Christie Tapiheru, mereka menikah pada tanggal 7 Desember 1983 dan dikarunia 4 orang putra putri yang telah bertumbuh dewasa dan memiliki kehidupan karier yang cemerlang di bidangnya masing-masing. Putra pertama mereka, Christofer Tapiheru adalah seorang hamba Tuhan milenial dan sangat dikenal di kalangan anak-anak muda dengan julukan ‘not your typical pastor’. Putri kedua mereka, Georgina Tapiheru atau akrab disapa Ina adalah seorang scientist atau ilmuwan. Dan anak ketiga dan keempat mereka, Gamaliel dan Audrey adalah penyanyi muda yang tengah bersinar kariernya di dunia musik Indonesia, dengan prestasi yang gemilang. Yuk kita cari tahu apa sih resep mereka dalam membesarkan para generasi milenial ini, sehingga mereka dapat tumbuh besar di dalam takut akan Tuhan dan memuliakan Tuhan lewat profesi mereka.
Bagaimana peran Om dan Tante dalam membantu anak-anak menemukan potensi mereka dan memaksimalkannya?
Sejak kecil, kami sudah membiasakan mereka untuk melayani bersama-sama dengan kami. Sebenarnya keempat anak-anak kami sangat berbakat dalam bidang musik. Akan tetapi kami tidak pernah memaksa mereka untuk mengikuti kemauan kami, orang tuanya. Kami sangat mendukung apa pun pilihan mereka, yang penting mereka tetap cinta Tuhan, melayani dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
Apa yang Om dan Tante lakukan dalam menanamkan sikap cinta dan takut akan Tuhan kepada anak-anak?
Yang pertama dan utama tentu keteladanan. Om George sebagai seorang ayah sangatlah disegani oleh anak-anak, bukan karena ia galak, tetapi justru karena sangat sabar dan figur yang dapat diteladani. Kita juga rutin mengadakan mezbah keluarga sejak anak-anak kecil. Jika Om George sibuk dan tidak ada di rumah, maka saya sebagai ibunya yang memimpin. Mereka juga kita bawa untuk ikut komsel dan bertumbuh di sana.
Masih banyak anggapan saat ini, bahwa berkarier sebagai pekerja seni dan ilmuwan adalah hal yang tidak rohani. Bagaimana Om menanggapi, waktu mereka kemudian memutuskan hendak berkarier di kedua bidang ini?
Saya sebenarnya sudah mengalaminya terlebih dahulu. Dulu saya dilarang ikut gabung di sebuah band, bahkan bermain sepak bola pun saya tidak diijinkan, karena dianggap tidak rohani. Saya pikir itu adalah anggapan yang tidak tepat, meskipun maksudnya baik. Dan saya tidak mau anak-anak mengalami apa yang saya alami dulu. Bagi anak-anak milenial terutama, jika kita terlalu keras melarang, mereka akan diam-diam melakukannya dan justru menjadi tidak terkontrol. Saat kita mendengarkan apa yang mereka dengarkan dan lihat, justru kita dapat mengajarkan dan mengoreksi nilai-nilai dari lagu yang mereka dengar jika liriknya atau temanya tidak sesuai dengan firman Tuhan.
Apakah seperti remaja pada umumnya, mereka juga pernah melewati masa-masa ‘memberontak’?
Oh tentu! Terutama yang sangat berontak adalah anak kami yang pertama, Christofer. Waktu saya hendak menikah dengan Om, saya divonis tidak dapat memiliki anak. Kami berdoa, meminta mujizat Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan doa kami. Christofer lahir tahun 1984 dan tumbuh menjadi anak yang suka main musik dan olahraga. Hari-harinya hanya diisi dengan main band dan bola. Kamarnya penuh dengan poster-poster band rock dunia. Rambutnya dipotong dengan gaya yang aneh-aneh, sampai saya pernah diprotes ibu-ibu lain karena anak-anak mereka mengikuti gaya anak saya. Suatu kali pernah ia minta ijin untuk mentato tubuh dan menggimbal rambutnya. Sebagai ibu, saya melarang dan akhirnya kami berdebat keras dan saling membanting pintu. Saya sempat sakit hati, dan menangis di kamar.
Selain teladan, kami juga terus berdoa bagi anak-anak, sampai akhirnya Kairos Tuhan turun atas mereka, khususnya Christo. Pada sebuah KKR, ia dilawat Tuhan secara khusus dan itu menjadi titik balik perubahan hidupnya. Ia berubah 180 derajat sampai akhirnya kini ia dipakai Tuhan menjadi hamba-Nya.
Saat anak-anak masuk pada masa-masa memberontak, 3 hal yang penting kita lakukan sebagai orang tua adalah menjadi teladan, terus berdoa dan tetap menanam mereka pada komunitas rohani, karena Roh Kudus pasti memiliki cara-Nya yang ajaib untuk melawat dan mengubahkan mereka.
Kini mereka sudah tumbuh dan mandiri bahkan dua dari mereka telah memiliki keluarga mereka sendiri. Bagaimana peran Om dan Tante sebagai orang tua bagi mereka sekarang?
Untuk yang telah menikah, jelas kami sudah tidak boleh lagi intervensi. Kami menghormati rumah tangga mereka dan sangat berhati-hati dalam memberikan nasihat atau pandangan, bahkan saat mereka bertanya. Untuk Gamal dan Audrey, sebelum mereka masuk ke dunia entertainment, kami sudah membekali mereka dengan pengetahuan tentang semua hal baik dan buruknya dunia ini, sehingga mereka siap. Kami juga menekankan, bahwa mereka harus tetap melayani Tuhan, tidak boleh berubah dan menjadi sombong.
Oleh: Bhernadethe Siregar
GBI Pasir Koja 39 Bandung