
Perubahan di zaman ini terjadi begitu cepat akibat kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia. Hal ini menyebabkan interaksi antar-budaya, percampuran budaya, bahkan lahirnya budaya baru. Bila kita melihat beberapa dekade ke belakang, beberapa kebiasaan dan perilaku yang dulunya tidak ada mulai bermunculan dimulai dari hal yang sederhana seperti makan bersama dalam format ‘korbeq’ atau Korean Barbecue yang baru marak di Indonesia akibat kultur korea, merayakan valentine yang marak sejak 2 atau 3 dekade lalu atau ulang tahun ke-17 secara spesial akibat pengaruh kultur barat. Perubahan yang terjadi dalam sosial dan budaya ini ada yang dipandang baik, netral, atau buruk sehingga menjadi sebuah tantangan baru baik bagi generasi muda juga orangtua. Sebagai orangtua dan anak muda Kristen , menghadapi tantangan baru ini menjadi penting untuk dibahas dan diketahui agar kita tetap melakukan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Setiap generasi memiliki tantangannya tersendiri, namun dibutuhkan dasar yang sama dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Dasar ini tidak berubah, tetap sama dan berlaku dari dahulu, sekarang, dan selamanya, itulah Firman Tuhan. Perkataan yang disampaikan Allah melalui perantaraan para penulis Alkitab dapat menjadi kompas dan pondasi yang kokoh baik bagi orangtua maupun anak muda.
Yosua seorang muda yang dipercaya melanjutkan kepemimpinan Musa atas bangsa Israel menghadapi tantangan-tantangan yang baru dan berbeda dengan yang dihadapi generasi Musa. Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, sedangkan Yosua membawa Israel masuk ke tanah Perjanjian. Musa menghadapi Firaun dan Laut Teberau, sedangkan Yosua menghadapi bangsa Kanaan dan sungai Yordan. Walaupun tantangan yang dihadapi berbeda, akan tetapi ketika Yosua dipercaya meneruskan tongkat kepemimpinan Musa atas bangsa Israel, Tuhan berfirman pada Yosua:
“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” – Yosua 1:8 (TB).
Allah berfirman agar Yosua tetap merenungkan kitab Taurat ini siang dan malam. Taurat yang sama yang Allah sampaikan kepada Musa tetap menjadi pegangan bagi generasi selanjutnya. Oleh karena itu sehebat apa pun perubahan zaman dalam perkembangannya, Firman Allah tetap menjadi dasar kehidupan bagi setiap orang percaya, baik orangtua maupun anak muda.
Lalu tantangan apa sesungguhnya yang dihadapi generasi muda? Amsal 22:15 The Message menyampaikan “Young people are prone to foolishness and fads; the cure comes through tough-minded discipline.” Dikatakan di sini bahwa orang muda rentan terhadap kebodohan dan trend / mode. Inilah tantangan besar bagi anak muda di era yang serba cepat dan banjir informasi di era post-modern. Banyak trend sesaat yang kelihatannya benar pada saat itu karena lingkungan sekitarnya mengatakan demikian namun hanya bertahan sebentar saja dan menyisakan kekecewaan dan kehancuran. Oleh karena itu penting bagi orang tua meletakkan dasar-dasar yang benar sejak dini bagi anak-anaknya dan dapat masuk menjadi sahabat dalam kehidupannya ketika ia mulai beranjak remaja dan dewasa.
Pendampingan yang dilakukan orangtua penting untuk dimulai sejak dini karena kecenderungan psikologis ini terjadi: ketika anak bayi hingga TK pengaruh terbesar dalam kehidupan mereka adalah orangtua, sejak SD mulai ada pengaruh dari sekolah dan guru yang mulai meningkat, dan sejak SMP – SMA pengaruh teman / kakak kelas yaitu lingkungan pergaulan mereka yang menjadi pengaruh dominan dalam kehidupan anak. Masa bayi hingga SD ini merupakan masa yang terbaik untuk menanamkan Firman Tuhan dalam kehidupan anak, sedangkan masa SMP, SMA dan selanjutnya merupakan masa yang baik untuk mendampingi tumbuhnya nilai-nilai Firman Tuhan yang telah ditanamkan sejak kecil. Walaupun bukan menjadi sosok yang dominan pengaruhnya tapi orang tua dapat menjadi sosok yang selalu hadir dalam setiap fase perkembangan kehidupan anak, terutama di masa jembatan menuju kedewasaan.
Kehadiran orangtua dalam momen anak-anaknya menjadi lebih penting dibandingkan dengan solusi dari tantangan yang dihadapi karena sesungguhnya untuk menghadapi tantangan di depannya setiap generasi selalu memiliki solusinya masing-masing yang khas, kehadiran orangtua memberi kekuatan dalam menghadapinya. Bila generasi sebelumnya diperhadapkan dengan revolusi industri, generasi muda saat ini dihadapkan dengan revolusi informasi dengan akses internet (generasi millenials) dan selanjutnya menanti revolusi 4.0 yang mengusung kecerdasan buatan dan data science (generasi alpha). Tantangan yang dihadapi anak berbeda dengan apa yang dihadapi orang tuanya dahulu. Pendekatan yang dilakukan tentunya akan berbeda namun tidak perlu khawatir dan takut sebab prinsip kebenaran akan tetap berlaku, kuncinya ialah membawa anak mengenal Kristus maka kita telah menyerahkan kehidupan anak kita di tangan yang benar.
Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menyampaikan “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” – 2 Timotius 1:5 (TB).
Hal terbesar yang dapat diwariskan orangtua kepada keturunannya ialah prinsip kebenaran dalam iman percayanya kepada Kristus karena bukan saja berdampak sepanjang hidupnya namun juga di kekekalan.
GBI Pasir Koja 39 Bandung