Tantangan Keluarga Kristen di zaman Millennial

Tuhan memiliki rencana bagi keluarga yang Ia bentuk. Alkitab mengawali kisahnya dari sebuah keluarga di taman Eden dan mengakhirinya dengan pernikahan Anak Domba. Namun, berapa banyak yang memahami rencana Ilahi bagi institusi yang dibentuk oleh Tuhan ini?.

Ada banyak masalah yang dihadapi di dalam sebuah keluarga dan membuat keluarga itu retak. Ternyata hal ini bukan hanya terjadi di dalam keluarga non Kristen, tetapi ternyata keluarga Kristen juga demikian. Salah satu tokoh di dalam Alkitab yang sangat terkenal dan fenomenalpun ternyata memiliki masalah di dalam keluarganya. Daud, seorang hamba Tuhan yang luar biasa namun memiliki keluarga yang tidak pernah kita bayangkan dapat terjadi dalam keluarga seorang hamba Tuhan. Anaknya saling mencelakai satu dengan yang lain. Bagaimana hal ini dapat terjadi?.

Dalam setiap zaman, keluarga dihadapkan pada tantangan. Dalam zaman yang berbeda, masing-masing keluarga mengalami pergumulan yang berbeda. Tantangan keluarga Kristen di zaman sekarang yang disebut generasi millennial merupakan tantangan yang tidak mudah dan memiliki permasalahannya sendiri.

Generasi millennial dinilai cenderung cuek pada keadaan sosial, mengejar kebanggaan akan merk/ brand tertentu padahal orangtuanya makan dua kali sehari saja sudah bersyukur. Pulang kuliah/ kerja nongkrong di Starbucks, padahal di kost-an hanya makan mie cepat saji. Cuek aja, yang penting gaya. Yang penting eksis di media sosial. Yang penting follower-nya banyak. Sekolah atau kuliah cuma jadi ajang pamer harta orang tua (untuk yang berpunya), dan jadi perjuangan untuk yang tipe BPJS. Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita!. Cuek juga terhadap perkembangan politik dan ekonomi, setiap pemilu cenderung golput. Cenderung meninggalkan nilai-nilai budaya dan agama, mengejar nilai-nilai kebebasan, hedonisme, party dan pergaulan bebas.

Generasi millennial tidak lepas dari teknologi, kecanggihan teknologi membuat anak – anak lebih mudah mengakses semua hal dan hal ini akan membawa pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan kejiwaan, gaya hidup, dan spiritual mereka.

Teknologi menjadikan hidup manusia makin mudah, cepat dan tanpa batas. Manusia bisa menjadi pribadi mandiri dalam belajar. Sebab dengan mesin pencari (misalnya Google) orang bisa belajar banyak hal. Itulah sisi positifnya. Namun tak bisa dipungkiri pula, perkembangan sangat cepat ini telah menimbulkan suatu kejutan budaya bagi orang Indonesia. Dari perspektif spiritualitas, berikut hal-hal yang perlu kita waspadai:

  1. Individualisme Iman.

Di Jepang muncul fenomena Hikikomori, merujuk pada orang-orang yang menjauhkan diri dari lingkungan sosial dengan mengurung diri di dalam kamar selama berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan sampai ada yang puluhan tahun. Hikikomori terjadi karena orang merasa tidak perlu lagi berhubungan langsung dengan orang lain untuk bisa hidup. Manusia bukan lagi makhluk sosial, melainkan makhluk individual yang bisa hidup secara otonom. Celakanya, ini bisa berpengaruh pada penghayatan iman seseorang. Hubungan dengan Tuhan berubah menjadi ranah pribadi. Keselamatan menjadi ranah pribadi. Pola hidup beragama menjadi eksklusif. Dan, pada akhirnya iman tak punya sumbangsih apapun dalam mentransformasikan hidup bersama dalam masyarakat.

Memang, sekarang Alkitab dan interpretasinya bisa diakses dari mana saja. Renungan, artikel, sampai karya tulis teologi tidak hanya terbatas diakses  di  gereja. Khotbah yang menarik dan berbobot ada di radio, internet dan sebagainya. Tetapi keluarga-keluarga Kristen punya masalah serius terkait dengan tiga tugas utama dari Allah, yakni bersekutu, bersaksi dan melayani.

  1. Information Overload.

Merupakan istilah yang dipopulerkan Alvin Toffler (1970, “Future Shock”), terminologi ini pertama kali diungkap Bertram Gross (1964) untuk menggambarkan bahwa seseorang setiap hari dibombardir informasi berlebih yang belum tentu kebenarannya sehingga bisa mengalami kejenuhan, kebingungan, bahkan kesesatan.

Sadar atau tidak, melalui berbagai media informasi dari buku, radio, televisi, website, blog dan forum-forum diskusi lain, sekarang ini beredar banyak ajaran iman dan etika yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Fundamentalisme, rasialisme, primordialisme, bertebaran di era kebebasan tanpa batas. Website-website yang ber-platform Kristen sekalipun, terkadang memuat ajaran yang saling bertolak belakang satu dengan lainnya. Yang lebih berbahaya lagi jika informasi-informasi rendah validitas tersebut menyerbu melalui broadcast message di media sosial, email, spam, advertisement website, status orang di facebook ataupun twitter dan sebagainya. Bayangkan betapa besar ancaman spritualitas yang dialami oleh generasi penerus kita.

  1. Peran Tuhan Tak Lagi Dirasa Bagi Kehidupan.

Manusia bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan teknologi. Mereka yang menguasai teknologi berarti menguasai dunia. Asal ada uang orang bisa membeli teknologi. Jika sudah begitu semuanya seolah bisa dilakukan oleh manusia. Bahkan, seringkali hidup mati seseorangpun seolah hanya ditentukan oleh uang, bukan oleh Tuhan. Dampaknya peran Tuhan tak lagi dirasa. Tuhan kurang dibutuhkan dan itu berarti setiap kehendak Tuhan siap diabaikan oleh manusia.

LALU, APA YANG HARUS DILAKUKAN KELUARGA?.

  1. Memahami dan menerapkan “Teknologi dan Iman” sebagai persekutuan yang saling melengkapi. Albert Einstein menyatakan, “Faith without science is blind, and science without faith is cripple.” Itu berarti bahwa baik teknologi maupun iman keduanya amat penting dan berguna dalam hidup ini. Keduanya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Alkitab sendiri menyatakan bahwa kepada manusia Tuhan Allah memberikan mandat budaya dan mandat natural untuk menguasai alam ciptaan Tuhan dan menaklukkannya (Kejadian 1:27-28).
  2. Teknologi dan Iman diperkenalkan kepada anak-anak sedini mungkin, baik dalam keluarga, sekolah, lingkup pelayanan gereja atau di masyarakat luas, agar mereka melihat keduanya sebagai dua hal yang saling melengkapi. Orang tua sebisa mungkin mengikuti perkembangan yang ada agar bisa mendeteksi peta perubahan zaman dan mengenali kecenderungan-kecenderungan di dalamnya.
  3. Perlu diciptakan kondisi penyeimbang yang mempersiapkan generasi muda kita menjadi generasi bermental positif, dengan cara:
  4. Menumbuhkan kesadaran sosial dan semangat hidup bersama (dengan membangun komunitas-komunitas positif di lingkungan keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat).
  5. Biarkan anak bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan, tetapi masih dalam batas wajar dan orangtuapun harus tetap mengawasi apa yang sebenarnya mereka lakukan di setiap harinya. Caranya: tanyai atau ajak anak-anak untuk mengekspresikan atau menceritakan kejadian hari ini, entah di sekolah, di lingkungan sekitar bahkan di dunia maya. Buatlah anak-anak merasa nyaman dengan yang mereka ceritakan, bukan malah merasa sebaliknya. Dengan seperti itu, orang tua jadi lebih tahu dengan siapa saja mereka biasa bermain dan bergaul.
  6. Mencetak bahan-bahan literatur tentang tokoh-tokoh Kristen yang menjadi penemu-penemu dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) seperti Sir Isaac Newton, Blaise Pascal dan lain-lain.
  7. Berbagai bentuk pembinaan iman kepada siswa diisi materi yang seimbang antara iman dan iptek.
  8. Mendorong dan mendukung anak yang memiliki kemampuan intelektual yang baik untuk bisa terus belajar, baik berupa beasiswa maupun kemudahan lainnya.
  9. Memberikan tuntunan moral Alkitabiah yang terus menerus agar ketika teknologi dikuasai dengan baik, itu tidak digunakan untuk kebanggaan diri dan bersifat destruktif, melainkan untuk memuliakan Tuhan dan bersifat konstruktif.

Jadilah keluarga yang bijak dan dengan hikmat Allah menghadapi tantangan di zaman millenial ini.

SELAMAT MENGHADAPI GENERASI MILLENIAL. TUHAN YESUS MEMBERKATI !

Oleh: Hokie Wijaya

 

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …