SUKSESKAH PERNIKAHANKU SAAT INI?

Artikel Utama
Pdp. Martin Sastrawidjaja

Pernikahan adalah sebuah ikatan PERJANJIAN dan bukan sebuah ikatan KONTRAK.
Kesuksesan dalam pernikahan akan menentukan kesuksesan seseorang dalam area kehidupan lainnya. Dunia mengajarkan tentang kesuksesan sebuah pernikahan yang diukur dari seberapa banyak materi atau uang yang dimiliki. Karena dunia masih memandang materi, fasilitas dan status sebagai dasar ukuran berhasil atau tidaknya seseorang. Dan dunia dengan segala tipu dayanya berusaha memberikan pandangan tentang apa dan bagaimana sebuah pernikahan yang sukses. Akhirnya kita memperjuangkan banyak hal yang keliru sepanjang pernikahan kita.

Ketika kita memandang kekayaan sebagai sumber kebahagiaan dan keberhasilan pernikahan, maka kita akan terus mengejar kekayaan dan berjuang untuk mendapatkannya dengan cara apa pun.

Apa yang menjadi standar keberhasilan Anda? Apakah yang menjadi ukuran keberhasilan bagi pernikahan Anda saat ini? Apa kerinduan Allah saat Ia membangun pernikahan?

Efesus 5:32 secara gamblang menyatakan bahwa hubungan antara suami dengan istri menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaat-Nya. Dalam kehidupan pernikahan, seharusnya dapat terlihat bagaimana suami mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya dan menyerahkan diri-Nya bagi jemaat (Efesus 5:25), dan bagaimana istri taat dan tunduk kepada suami seperti jemaat seharusnya taat dan tunduk kepada Kristus dalam segala sesuatu (Efesus 5:24).

Teladan Rut dalam hubungan perjanjian
Dalam Kitab Rut dikisahkan tentang seorang yang bernama Elimelekh yang bersama istrinya Naomi dan kedua anak laki-lakinya yang bernama Mahlon dan Kilyon pergi dari Betlehem Yehuda ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.

Setelah Elimelekh mati, kedua anaknya mengambil perempuan Moab sebagai istri mereka, yang pertama bernama Orpa dan yang kedua bernama Rut. Mereka diam di Moab kira-kira sepuluh tahun lamanya, lalu matilah juga Mahlon dan Kilyon, sehingga tinggal Naomi bersama kedua menantunya.
Rut seorang janda muda yang miskin secara sosial ekonomi dan tidak ada lagi yang dapat ia harapkan dari mertuanya Naomi yang sudah tua. Namun, Rut masuk kedalam sebuah hubungan yang luar biasa yang bernama perjanjian. Perhatikan kata-kata Rut kepada Naomi, “Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita kecuali maut.”

Pernahkah Anda mendengar orang berjanji seperti itu? Bukankah Anda sendiri pernah mengucapkan janji yang sama pada waktu Anda menikah dan diberkati di gereja? Rut adalah contoh pribadi yang mempunyai hati perjanjian. Dari mana ia belajar tentang hubungan perjanjian tersebut? Sudah pasti dari Allah yang disembah oleh mertua dan suaminya.
Allah kita dikenal sebagai Allah perjanjian, kita disebut sebagai umat perjanjian, dan Alkitab kita disebut sebagai kitab perjanjian (baru dan lama). Allah yang kita sembah adalah Allah yang menghargai perjanjian. Rut telah melihat bagaimana Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya dan di situlah ia menemukan harta karun dari sebuah perjanjian. Manusia bisa lupa terhadap janjinya, tetapi Tuhan tidak pernah lupa; sekali Tuhan bersumpah maka seluruh karakter dan keberadaan-Nya diarahkan untuk menggenapi perjanjian-Nya.

Apakah Anda termasuk orang yang memegang perjanjian seperti Allah yang Anda sembah?
Hubungan perjanjian berbeda dengan kontrak. Hubungan yang dibangun atas dasar perjanjian bersedia mengasihi pasangan dalam segala keadaan. “Segala keadaan” meliputi saat sikap pasangan Anda menyinggung Anda, waktu pasangan Anda sangat menjengkelkan, ketika Anda mengalami benturan dengan pasangan. Mungkin Anda akan marah dan habis kesabaran, tapi datanglah kepada mezbah perjanjian, yang memampukan Anda untuk menerima dan mengasihi kembali pasangan Anda.
Hal inilah yang ratusan bahkan ribuan kali, saya dan istri saya lakukan. Kami bukanlah suami dan istri yang sudah sempurna, namun kami sangat menikmati pernikahan kami. Saat kami merasa punya hak untuk marah dan menyerang, kami datang kepada mezbah perjanjian. Di situlah Tuhan memberikan kuasa untuk kami dapat saling mengasihi dalam segala keadaan.

Untuk membangun hubungan atas dasar perjanjian, dibutuhkan hati yang mau memberi dan bukan mengambil. Hati yang bersedia berkorban dan bukan menuntut.

Rut masih muda dan mungkin ia akan punya harapan yang lebih baik jika memisahkan diri dari Naomi, mertuanya yang sudah tua dan tidak punya apa-apa lagi. Mungkin saja Rut bisa menemukan seorang pria Moab yang mencintai dia dan akan mendapat masa depan yang lebih baik. Tetapi, karena Rut mengerti hubungan perjanjian ini, maka ia tidak menuntut mertuanya, malah bersedia mengorbankan masa depannya demi mengikuti Naomi. Seorang yang punya hati perjanjian, apa pun badai rumah tangga yang dihadapi, ia akan tetap bertahan dan bersedia berkorban demi perjanjian itu.

Hubungan atas dasar perjanjian berarti “tidak ada yang dapat memisahkan kecuali maut” Ini artinya tidak ada kata cerai atau pisah, apa pun kondisi dan situasinya! Orang yang memegang perjanjian, tidak pernah berpikir untuk bercerai atau memilih cerai sebagai jalan keluarnya.
BERKAT BAGI ORANG YANG MEMEGANG PERJANJIAN
Tahukah Anda, bahwa berkat akan senantiasa menyertai orang-orang yang memegang perjanjian dalam hidupnya? Rut telah mengalaminya.
1. Hidupnya menjadi berkat bagi orang lain (Rut 4:14-15).
Rut berhasil menjadi berkat bagi Naomi mertuanya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh perempuan-perempuan lain tentang Rut. Bahwa, bagi Naomi, Rut lebih berharga dari pada tujuh orang anak laki-laki! Bayangkan betapa Rut sudah memberkati Naomi melebihi tujuh orang anak laki-laki. Padahal di Israel berlaku budaya paternalistik, bahwa anak laki-laki dianggap lebih berharga dari pada anak perempuan. Namun, karena Rut bersedia memegang perjanjian terhadap mertuanya, ia memberkati Naomi yang hidupnya menderita dan telah kehilangan suami dan kedua anak laki-lakinya. Apakah yang dikatakan orang-orang tentang Anda? Jika Anda melakukan yang sama seperti Rut, saya yakin Anda pasti menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling Anda!

2. Hidupnya menjadi berkat bagi pasangannya (Rut 3:10-11,4:13)
Rut akhirnya diambil oleh Boas menjadi istrinya. Siapakah Boas? Ia adalah sanak dari pihak suami Naomi, salah seorang kerabat yang wajib menebus Naomi dan Rut (Baca Rut 2). Sebagai pria yang kaya raya, terpandang, punya banyak pengerja dan hatinya tulus, mudah bagi Boas untuk mendapatkan wanita mana pun. Pasti mudah bagi Boas untuk mendapatkan gadis yang cantik, perawan dan dari bangsa Israel sendiri, namun mengapa Boas akhirnya memilih Rut menjadi istrinya? Mengapa ia bersedia menebus Rut, seorang janda dan juga perempuan Moab? Tidak lain karena Boas melihat apa yang sudah diperbuat Rut kepada mertuanya, bagaimana ia bersedia berkorban meninggalkan ayah-ibunya dan menyertai Naomi kembali kepada bangsa dan Allah yang tadinya tidak ia kenal (Rut 2:11). Boas tahu, bahwa inilah wanita yang mengerti tentang hubungan perjanjian, hubungan yang paling bernilai di muka bumi. Rut adalah wanita yang siap untuk menjadi seorang istri, meskipun ia seorang janda dan berasal dari Moab. Apa komentar pasangan Anda tentang Anda? Sudahkah ia diberkati oleh kehidupan Anda? Ketika Anda menjadi pribadi yang memegang perjanjian, maka pasangan Anda pasti diberkati!

3. Hidupnya menjadi berkat bagi keturunannya (Rut 4:17-22).
Setelah diperistri oleh Boas, maka Rut mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Obed. Obed adalah ayah dari Isai, ayah Daud. Rut, seorang perempuan Moab, namun namanya termasuk dalam silsilah nenek moyang Yesus Kristus. Kehidupan Rut telah menjadi dan membuahkan berkat bagi keturunannya. Yang dialami Rut membuktikan, bahwa keturunan dari orang-orang yang memegang perjanjian akan menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan dan berpengaruh pada zamannya. Keturunan seperti apa yang akan Anda harapkan? Perhatikan baik-baik, jika Anda ingin anak-cucu Anda diberkati, jadilah seorang pemegang perjanjian!

 

 

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …