
“Siapakah orang tua dalam pandangan kita sebagai anak muda?” Mereka adalah orang yang selalu ada untuk kita sehingga tidak jarang kita dengan mudah menyepelekan mereka (kecuali saat kita kehilangan orang tua karena penyakit atau kecelakaan, atau mengalami perpisahan yang menyakitkan karena perceraian). Bahkan jika hubungan kita dengan orang tua sangat baik, kita tidak selalu menganggap mereka sebagai individu, sebagai manusia. Kita seringkali menganggap mereka dalam hubungannya dengan diri kita sendiri, sebagai ibu dan ayah.
Ambil beberapa menit untuk memikirkan orang tua kita. Siapakah mereka selain orang tua kita? Apakah kepribadian mereka: ramah? pemalu? lucu? pendiam? tegas? seorang pemikir? Apakah kegemaran mereka? Apa yang membuat mereka tersenyum? Apa hewan peliharaan yang membuat mereka kesal? Seperti apa mereka saat seumuran dengan Anda? Apakah mereka pernah merasakan kekecewaan terhadap hidup yang berat? Apakah kekuatan terbesar mereka?
Cobalah lihat dengan pandangan yang melampaui masalahmu tentang orang tua kita. Mungkin kita merasa ibu kita adalah seorang yang terlalu banyak mengomel atau ayah yang terlalu tegas. Mungkin kita sakit hati dengan kedua orang tua yang selalu ribut bahkan hubungan dalam keluarga yang rusak. Masalah-masalah nyata seperti ini mempengaruhi tidak hanya dengan hubungan kita, tetapi persepsi kita tentang orang tua. Cobalah berpikir bagaimana kalau kita berada dalam posisi mereka, apakah mereka bahagia atau tidak, apakah pekerjaan membuat mereka penat, apakah kepedulian terbesar mereka?
Seringkali kita cenderung menghiraukan orang tua kita. Kita mengira, “Mereka sangat sulit ditebak”, atau “Mereka selalu mengatakannya.” atau “Apa yang mereka tahu-mereka sudah bukan seorang remaja lagi selama 20 tahun.” Atau lebih singkatnya lagi “Mereka Kolot”. Kita terkadang merasa seolah-olah orang tua kita menghalang-halangi kita untuk bersenang-senang. Akan tetapi, ada kewajiban yang berasal dari Alkitab bagi kita, setiap anak-anak muda dalam keluarga. Kita perlu mempunyai karakter dan roh yang mau diajar. Banyak ayat dalam Amsal mengatakan lagi dan lagi, “Salah satu indikasi utama hikmat adalah mendengarkan nasihat orang tua.”
Hubungan kita dengan orang tua kita tidak hanya tergantung pada kita, juga tidak hanya tergantung pada mereka. Seperti hubungan lainnya, hubungan ini adalah hubungan dua arah. Untuk membangun hubungan kristiani dengan orang tua kita adalah dengan mengerti peranan dan tanggung jawab mereka sebagai orang tua dan belajar mengenal mereka sebagai pribadi yang unik. Cobalah mulai dari sekarang kita sering melakukan
GBI Pasir Koja 39 Bandung