
Mengapa Harus Tunduk?
Alasan pertama adalah perintah Allah (Efesus 5:22).
Sudahkah Anda menetapkan pikiran Anda untuk mengikut Tuhan dengan ketaatan penuh atas firman-Nya, mempercayai Dia untuk hasil-hasilnya?
Alasan kedua, karena hubungan suami-istri adalah satu gambaran dari hubungan antara Yesus dengan gereja. Perkawinan kita adalah gambaran lahiriah jangka pendek dari perkawinan yang sesungguhnya, yang abadi yang berlangsung di Surga. Kita harus tunduk kepada suami sama seperti gereja kepada Kristus.
Ketika Dia memberitahukan kepada Anda bahwa seorang istri harus tunduk kepada suaminya, itu dikarenakan Dia mengasihi kita dan menginginkan kita untuk mencapai tujuan tertinggi dalam rancangan penciptaan-Nya bagi kita!
Mendapatkan Gambaran Menyeluruh
Langkah pertama untuk tunduk kepada suami Anda adalah menemukan apa yang menjadi sasaran-sasarannya. Anda melakukan ini supaya, melalui sikap tunduk Anda, Anda membantu dia mencapai sasaran-sasaran tersebut.
Jika memungkinkan, wawancarai suami Anda untuk menemukan ke mana suami Anda ingin mengarahkan keluarga Anda. Jika Anda seorang orangtua tunggal, doa dan “wawancarai” Allah, suami surgawi Anda, untuk menjawab pertanyaan ini. Tanyakan dia:
- Apa yang mau kita capai untuk anak-anak kita?
Bidang pendidikan…; Cita-cita masa depan…
- Apa yang ingin kita capai dalam bidang keuangan?
Tabungan? Bebas hutang? Memberi? Pensiun?
- Apa yang hendak kita capai atas perkawinan kita?
Tujuan rohani? Hubungan fisik? Bidang rekreasi?
Apa kendala terbesar Anda dalam membantu suami Anda mencapai sasaran-sasaran itu?
Kiat untuk Ibu (bisa juga untuk konselor/gembala)
Dr. Ed Young, pendeta Second Baptist Church, Houston, mempunyai satu pelatihan yang manjur untuk pasangan suami-istri yang sedang dalam kesulitan. Itu dinamakan latihan “Jam”.
Jika Anda bisa temukan, dapatkan satu jam alarm kuno yang berdetik. Letakkan 2 kursi di dalam satu ruangan di mana Anda tidak akan diganggu. Lalu buat komitmen 30-menit.
Berikan pasangan Anda 30 menit dalam sehari tanpa diganggu. Masing-masing dari Anda duduk di satu kursi. Berhadapan muka, dan buat jam alarm itu berhenti setelah 30 menit. Bagikan ke 30 menit itu dalam 6 segmen, 5 menit masing-masing segmen.
Pada 5 menit yang pertama, jangan katakan apa-apa. Diam dan pikirkan, seperti apa hidup sendirian itu – tanpa pasangan Anda. Apa yang akan teman-teman Anda lakukan? Anda akan kehilangan banyak dari mereka. Beberapa teman-teman akan berpihak. Tetapi jika mereka tidak, mereka akan mundur dari persahabatan itu sama sekali.
Pada 5 menit berikutnya, diam-diam berhentilah menghakimi pasangan Anda. Jangan pikirkan apa saja yang telah dia lakukan atau belum lakukan yang mengakibatkan Anda berada pada posisi ini di dalam perkawinan Anda. Pikirkan tentang bagian yang telah Anda lakukan dalam kesulitan ini. Untuk 5 menit pertimbangkan peranan Anda atas konflik ini.
Untuk 5 menit ketiga, tetap jangan berkata-kata. Pikirkan anak-anak Anda. Seseorang yang berpkir bahwa anak-anak tidak akan terluka atau ketakutan secara permanen oleh suatu perceraian hanya membodohi dirinya sendiri. Anak-anak akan mengalami kehancuran yang tidak dapat ditarik kembali dalam setiap perceraian.
Setelah Anda menghabiskan 15 menit dengan berdiam diri, mulailah berbicara satu kepada yang lain, tetapi dengan cara yang teratur. Untuk 5 menit keempat, baca 1 Korintus 13. Salah seorang dari Anda membaca di hari pertama, lalu yang lain membaca di hari berikutnya.
Untuk 5 menit kelima, mainkan permainan nostalgia. Secara bergantian menceritakan kembali masa-masa ketika Anda merasa dekat bersama. Mungkin Anda ingat satu saat jalan bersama di pantai. Mungkin satu saat ketika Anda berdua berjaga sepanjang malam menemani anak yang sakit. Pikirkan kembali masa-masa itu ketika ada satu kedekatan khusus di antara Anda.
Di dalam 5 menit yang terahir, secara bergantian berbicara dengan bersuara kepada Allah. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah” (Maz. 46:11). Sementara Anda berdoa, katakan kepada-Nya apa yang tak beres dalam perkawinan Anda dan akuilah di hadapan-Nya, apa peranan Anda dalam menyebabkan ketidak-beresan itu.
Mengapa menggunakan jam yang berdetik? Setiap kali Anda memperhatikan denting tik-tik-tik dari jam, katakan kepada diri Anda saya-saya-saya. Siapa yang Anda sedang pikirkan manakala perkawinan Anda sedang hancur berantakan? Siapa yang perlu berubah untuk mengatasi konflik yang serius ini? Saya-saya-saya.
Lakukan latihan ini selama 30 menit setiap hari selama 6 hari. Pikirkan tentang bagaimana Anda berdua telah beralih dari saling tertarik menjadi saling bertentangan. Apakah Anda telah melupakan apa perkawinan yang Alkitabiah itu? Apakah Anda telah melupakan untuk saling memenuhi kebutuhan seorang akan yang lain?
Kehangatan itu akan datang kembali ke dalam perkawinan Anda, jika Anda menanggapi pasangan Anda dengan anugerah Allah dan mengizinkan Roh Kudus membimbing Anda kepada satu kesatuan.
Oleh: Indri Haans
GBI Pasir Koja 39 Bandung