
Yohanes 12:1-8
Ada sebuah lagu gospel berjudul “Old Church Basement” yang bagian liriknya cukup menggugah pikiran saya. Ijinkan saya menerjemahkannya secara bebas lagu tersebut:
“Tidak ada masalah dengan lampu atau panggung. Saya pun ikut senang ketika jemaat menyanyikan lagu pujian kepada Tuhan dengan suara yang keras. Namun, ada kalanya semua itu menjadi begitu rumit. Saya pun teringat akan masa-masa di mana saya masih bernyanyi di ruang bawah tanah sebuah gereja tua. Bersama teman saya Josh dengan gitar murah dan kunci seadanya, kami menyanyikan lagu Haleluya sambil mengingat-ingat akan semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami. Seketika itu juga sukacita dari Tuhan menyelimuti kami. Josh bukan orang yang senang tampil dan tidak berusaha jadi terkenal, tetapi kami menyentuh sorga waktu itu, di sebuah ruang bawah tanah gereja tua.”
Sebagai bagian dari pelayanan pujian penyembahan, lagu ini sungguh dapat saya pahami. Benar sekali, bahwa kadangkala pelayanan pujian penyembahan dapat menjadi rumit dan kehilangan esensi jika kita lupa, bahwa inti utama dari penyembahan bukanlah soal apa atau bagaimana, tetapi tentang siapa dan untuk siapa lagu dinyanyikan, alat musik dimainkan, aransemen dibuat, soundsytem dan lighting ditata.
Yohanes 12:3. “Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki YESUS dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.”
UNTUK SIAPA?
Berapa banyak dari kita yang sering lupa, bahwa sesi pujian dan penyembahan itu bukan untuk menyentuh hati kita atau jemaat, tetapi sejatinya adalah sesi yang memberikan kita kesempatan untuk MEMPERSEMBAHKAN dan MEMBERKATI Tuhan, lewat nyanyian, tepuk tangan dan apa pun ekspresi pujian penyembahan kita. Seperti Maria yang meminyaki kaki Yesus, maka satu yang harus ditanamkan di hati kita, bahwa pujian dan penyembahan mestinya tertuju untuk KRISTUS. Tuhanlah yang mestinya tersentuh ketika kita mempersembahkan korban pujian dan penyembahan kita bagi-Nya. Perkenanan Tuhan yang harus kita kejar. Dan untuk membuatnya berkenan, maka kita harus hidup sebagai penyembah-penyembah benar yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.
SIAPA?
Maria bagi saya adalah contoh sosok seorang penyembah benar yang dikehendaki Bapa di Yohanes 4:23. Menarik sekali, bahwa tidak ada catatan bahwa ia adalah penyanyi, penari atau pemain musik. Bahkan, kata penyembahan pertama kali dicatat di Alkitab pada waktu peristiwa Abraham hendak mempersembahkan Ishak sebagai korban bagi Allah. Di sana pun tidak ada unsur lagu atau nyanyian yang tercatat. Karena memang penyembah itu berbeda dengan penyanyi, penari atau pemain musik. Anda dan saya dapat saja bernyanyi, menari dan memainkan musik bagi Tuhan tapi sejatinya bukanlah penyembah. Akan tetapi sebaliknya, seorang penyembah tidak akan pikir panjang untuk mengekspresikan kasihnya kepada Allah lewat nyanyian, sorak sorai, tepuk tangan, permainan musik, tarian, mengangkat tangan bahkan tersungkur waktu ia menyadari betapa mulia dan luar biasanya pribadi Allah dalam hidupnya.
Maria adalah penyembah benar karena ia menyembah Kristus dengan seluruh hidupnya. Ia kenal siapa Kristus yang ia sembah. Prioritas terutama dan terpenting dalam hidupnya adalah Tuhan Yesus. Cintanya kepada Tuhanlah yang mendorongnya untuk mempersembahkan minyak narwastu yang murni dan mahal harganya tanpa pikir panjang atau berhitung untung rugi. Seorang yang mengasihi Allah, pasti tidak banyak dalih dan berbantah ketika Tuhan bersabda. Hidup seorang penyembah benar adalah ibadah yang sejati karena ia mempersembahkan tubuhnya kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Sehingga apa pun yang keluar dari dirinya adalah pujian dan penyembahan di mata Allah.
Persembahan yang lahir dari seorang penyembah benar pasti:
1. Murni.
Perkataan yang keluar dari bibirnya, semua ekspresi penyembahan dan aktivitas pelayanannya tulus, tidak pura-pura, tidak memiliki agenda terselubung, tanpa basa basi dan berintegritas. Ada ataupun tidak ada orang yang melihat, ia tetap pribadi yang sama.
2. Mahal.
Barang yang mahal tidak dihasilkan secara masal apalagi asal-asalan bukan? Begitu juga seorang penyembah benar, pasti mempersembahkan yang terbaik dari dirinya bagi Allah. Hidupnya utuh didedikasikan bagi Allah. Maka tentu kekudusan adalah sebuah hal yang ia selalu kejar. Ia pun akan mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin bahkan mengasah keahliannya agar pelayanannya kepada Allah semakin hari akan semakin baik.
3. Harum.
Tim pemuji dan pemusik yang menyembah Allah dengan penuh cinta tentu akan menghasilkan suasana ibadah yang berbeda, yang dapat dirasakan oleh seluruh jemaat. Dampak kehidupan seorang penyembah benar pasti dapat dirasakan oleh semua orang yang ada di sekitarnya. Namanya harum dan menjadi berkat bagi setiap orang yang terkenang akannya. Cintanya yang hebat kepada Allah pasti akan menginspirasi orang lain untuk mengenal siapa Allahnya. Hidup seorang penyembah benar pasti berbuah banyak dan buahnya tetap.
4. Selaras dengan rencana Allah.
Yohanes 12:7. Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.”
Tidak ada yang dapat memastikan, apakah Maria mengurapi Yesus karena benar-benar ingat akan perkataan Yesus tentang kematian-Nya, atau ia melakukannya dengan spontan, tetapi yang pasti tindakannya tersebut selaras dengan rencana besar Allah bagi keselamatan umat manusia. Seorang penyembah benar, yang selalu ada di hadirat Tuhan, pasti akan selaras hidupnya dengan hati Tuhan, yaitu jiwa-jiwa. Segala yang ia lakukan dan persembahkan tujuannya adalah agar Allah dimuliakan dan jiwa-jiwa diselamatkan. Halleluya!
Tuhan Yesus memberkati.
GBI Pasir Koja 39 Bandung