
Kekristenan adalah relasi (hubungan) dan relasi adalah segalanya. Tidak banyak teman-teman dari non-kristiani yang paham bahwa kekristenan menempatkan RELASI dan bukan ATURAN-ATURAN AGAMA sebagaimana bagian dari ibadah yang paling utama.
Kekristenan meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa “hukum” yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Itu adalah relasi! Dan ibadah adalah relasi kasih di antara makhluk dan khaliknya. Itulah sistim dan “aturan”nya yang terutama.
Bukankah aspek kehidupan kita yang paling pokok adalah relasi kita dengan sesama? Tanpa relasi, kita hanya menemukan kehidupan dan dunia yang hampa, kita akan ditinggalkan dalam ketandusan dan kehampaan jiwa. Relasi dengan sesama tidak akan memadai tanpa disertai relasi dengan penciptanya.
Suatu hubungan yang sehat membutuhkan waktu dan komunikasi agar dapat berkembang, demikian juga hubungan kita dengan Allah. Hubungan adalah tentang pengalaman, makin banyak orang berhubungan satu sama lain, maka makin banyak pengalaman yang didapat orang tersebut.
Untuk menciptakan hubungan yang baik, diperlukan pengetahuan yang benar satu sama lain, saling memahami dan unsur kecurigaan harus dihilangkan di antara kedua belah pihak. Manusia diciptakan satu dengan yang lainnya berbeda, tidak ada yang identik, di sinilah indahnya perbedaan. Sebagaimana firman Tuhan, “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” (1 Kor. 12:12) Tubuh kita banyak anggotanya tetapi semua itu adalah satu tubuh, perbedaan tidak menghalangi kesatuan.
Kesatuan dan kerukunan umat Allah, itulah yang diharapkan dalam tubuh Kristus karena sebagaimana Mazmur 133:1-3 mengatakan ada berkat yang besar dalam kesatuan. Untuk menciptakan kesatuan, maka diperlukan suatu hubungan dan komunikasi yang baik. Namun banyak orang yang belum dapat berkomunikasi dengan baik dan efektif. Keterampilan komunikasi yang kurang baik dapat merusak suatu hubungan. Ada juga beberapa orang yang sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain karena tidak mudah bergaul dan kurang percaya diri. Untuk itu, komunikasi juga penting untuk dilatih. Dimulai dari komunikasi interpersonal – komunikasi antar dua pribadi, sehingga akan membuat seseorang menjadi terlatih untuk berkomunikasi.
Berikut tips untuk membangun komunikasi interpersonal yang baik: menjadi pendengar yang baik, jangan memotong pembicaraan, memberi perhatian penuh pada lawan bicara, memberikan respon, mulai terbuka.
Hal yang tidak boleh dilupakan, kita harus percaya diri saat berkomunikasi dengan orang lain. Tidak perlu merasa gugup, percayalah kita juga memiliki sesuatu yang menarik. Aura positif yang kita tunjukan akan sangat mempengaruhi suasana. Seseorang akan merasa nyaman berinteraksi dengan kita saat kita menunjukkan semangat dan antusiasme.
Tiga kunci yang harus selalu diingat dan lakukan: katakan “tolong” saat meminta bantuan rekan, ucapkan kata “maaf” bila berbuat kesalahan atau kekeliruan, sampaikan kata “terima kasih” dengan tulus pada setiap orang yang telah membantu kita.
Kesimpulan : Kekristenan adalah relasi atau hubungan antara Allah dengan umat tebusan-Nya. Untuk itu anak-anak Allah ciptakan hubungan yang baik dengan Sang Penebus. Selain menciptakan relasi yang baik dengan Allah, manusia juga perlu membangun hubungan dengan sesamanya dengan komunikasi yang baik sehingga kesatuan hati bisa tercipta.
Oleh: Pdp. Hokie Wijaya
GBI Pasir Koja 39 Bandung