RASA RENDAH DIRI: BAGAIKAN KUCING BERMATA HIJAU (Joyce Landorf) – 6

Artikel Wanita Juni 25

Lidah bukanlah masalah satu-satunya. Ada hal lain yang sangat dipengaruhi oleh perasaan tidak tenteram di dalam diri kita.

  1. Tidak adanya perasaan harga diri mengubah tinggi nada dan intonasi suara seseorang.

Bila seorang wanita merasa yakin bahwa ia bukan apa-apa, atau ”hanya seorang ibu rumah tangga saja”, secara agak misterius terjadi suatu perubahan pada pita suaranya. Setiap hal yang diucapkannya seakan-akan disetel dalam nada suara yang mengeluh, mengomel dan meminta belas kasihan.

Misalkan hari ini indah dan cerah. Anda memasuki ruangan tempat latihan koor pada hari Minggu pagi. Sambil meraih jubah dan buku nyanyian, Anda menyapa penyanyi sopran yang pertama-tama Anda jumpai, ”Hai, selamat pagi apa kabar di pagi hari yang cerah ini?”

Wajahnya menjadi panjang, lalu sambil menarik nafas panjang ia merengek, “Ah, saya kira saya akan kecewa.”

Nada merengek itu tidak terasa aneh bagi telinga anda karena  ingat, bahwa Anda pernah mendengar nada seperti itu pada anak-anak Anda ketika mereka berumur tiga tahun. Apa pun yang Anda katakan selanjutnya kepadanya tidak ada yang  menggembirakan hatinya atau mengubah hari itu menjadi hari yang lebih menarik. Percakapan berjalan kurang lancar dan akhirnya terhenti.

Matthew Henry berkata, ”Orang yang paling banyak mengeluh adalah orang yang paling sering dijadikan bahan keluhan.”

Wanita yang mengeluh karena ”kekecewaannya”, bangun pada hari yang sama indahnya yang saya nikmati, tetapi ia membiarkan perasaan bahwa dirinya tidak berguna menjadi seperti awan gelap yang menutupi pagi hari yang cerah itu. Ia merasa gelisah sekali dengan kelebihan daging yang ada di sekitar pinggangnya, dan di situIah letak kekalahan dirinya. Tetapi rupanya hanya itulah yang menjadi pusat pemikirannya. ”saya gemuk.” Karena hanya itulah yang dipikirkannya, bila ada seseorang yang tidak ada maksud apa-apa menyapa dia, maka untuk melepaskan perasaan tidak tenteram itu ia menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan mengeluh atau menyatakan kekecewaannya.

Nyonya Lola Montez, yang hidup pada abad ke 18, mengatakan,

”Salah satu alat yang paling membantu kecantikan adalah suara yang lembut dan terlatih baik. Memang, salah seorang wanita yang paling menarik yang pernah saya kenal, boleh dikatakan tidak memiliki daya tarik lain lagi pada dirinya. Ia adaIah seorang bangsawan di Berlin. Matanya sayu, kulitnya kasar, kulit mukanya tidak halus, rambutnya suram, dan potongan tubuhnya gemuk pendek. Tetapi ia memiliki suara yang merdu sekali, sehingga menarik hati setiap orang yang mendengarnya. The Arts and Secrets of Beauty (Seni dan Rahasia Kecantikan).

Kalau teman saya, penyanyi sopran itu, mau meneliti kembali harga dirinya yang sebenarnya, menerima keadaan yang berkenaan dengan berat badannya itu atau melakukan dietnya, mungkin orang lain akan melihat bahwa ia memiliki suara yang enak didengar bila ia berbicara atau menyanyi.

Mengomel adalah salah satu akibat lain dari perasaan rendah diri. Hal itu hampir selalu mengganggu orang yang mengomel itu sendiri dan juga orang yang menerima omelannya. Orang yang mengomel itu merasa sangat  tidak senang terhadap dirinya sehingga ia selalu mencari-cari kekurangan dan kesalahan orang lain untuk menghibur perasaan rendah dirinya.

Omelan yang bersifat menghancurkan itu dapat mencapai jarak yang jauh dan melekat lama. 

Saudara laki-laki saya, Cliff, mempunyai bapak guru ketika ia masih di sekolah dasar. Selama dua semester guru itu selalu mengomel kepada Cliff. Saya ingin sekali mengetahui alasan daripada perasaan tidak tenteram itu yang menyebabkan omelan-omelan guru itu ditimpakan kepada Cliff. Mungkin guru itu dapat ditolong. Tetapi ia hampir saja menghancurkan saudara saya yang dijadikan sasaran omelannya.

Dari ribuan perkataan yang didengar oleh Cliff dari guru-gurunya, yang paling melekat pada ingatannya hanyalah perkataan-perkataan guru itu dengan omelan-omelannya. Omelannya sepanjang tahun itu dapat disimpulkan dalam kalimat berikut ini, “Cliff, kamu ini tolol dan bodoh, kamu tidak akan dapat menyelesaikan SMA — apa lagi universitas!. Mengapa kamu tidak keluar saja dari sekolah dan menonton ‘Popeye’ di TV?”

Ucapan-ucapan itu melenyapkan seluruh gairah Cliff untuk belajar, baru sesudah beberapa tahun kemudian (dan beberapa pengalaman dalam perang Vietnam) Cliff menemukan kembali penghargaan terhadap dirinya sendiri yang lebih baik, dan ia kembali bersekolah.

Saya ingin sekali memberitahu guru itu bahwa muridnya yang “tolol dan bodoh” itu ternyata bukan saja dapat menyelesaikan SMA- nya, tetapi ia juga dapat mencapai gelar kesarjanaannya, termasuk dalam daftar mahasiswa yang “terpandai” di akademi tempat ia belajar, dan sekarang ini ia sedang berusaha mencapai gelar doktornya!

Check Also

Artikel Wanita April 26 copy

IMAN UNTUK MENANG – 7

Artikel Wanita April 26 copy Dalam pertandingan yang ditayangkan secara nasional di televisi dari Norman, …