RASA RENDAH DIRI: BAGAIKAN KUCING BERMATA HIJAU (Joyce Landorf) – 2

Artikel WanitaFeb 25

Saya mengajukan pertanyaan tersebut kepada banyak orang yang lain, dan karena jawaban mereka berbeda-beda sesuai dengan cara hidup atau kedudukan mereka dalam keluarga, ada suatu hal yang umum di antara pendapat-pendapat itu. Secara langsung atau tidak langsung, mereka menginginkan agar wanita-wanita tidak lagi memberikan penilaian yang rendah terhadap dirinya sendiri.

Hal utama yang menghancurkan kemungkinan kaum wanita untuk dipakai Allah secara indah, menjadi orang yang kreatif dan dapat bergaul dengan orang lain, ialah perasaan bahwa dirinya tidak ada artinya. Menerima diri kita sendiri merupakan salah satu engsel yang penting pada pintu untuk menerima orang lain. Apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri memengaruhi seluruh tindakan dan sikap kita terhadap orang lain.

Kesimpulan yang terbaik mengenai semua jawaban itu adalah yang diberikan oleh Dr. James Dobson. la menulis kepada saya sebagai berikut:
“Seandainya saya dapat menulis sebuah resep bagi semua wanita di dunia, resep itu akan merupakan satu dosis obat untuk menghargai diri dan kepribadiannya sendiri secara sehat (dimakan tiga kali sehari sampai gejala-gejala itu hilang). Saya yakin itulah obat yang paling dibutuhkan oleh mereka.”
Benar sekali apa yang dikatakan oleh dokter yang bijaksana itu! Tidak adanya penghargaan terhadap diri sendiri itulah sifat yang ingin kita ubah, dan dokter itu telah memeriksa urat nadi penyakitnya ketika ia mengatakan, “… itulah obat yang paling dibutuhkan oleh mereka.”
Marilah kita memperhatikan asal mulanya perasaan rendah diri, apa pengaruhnya dalam cara hidup kita dan apa yang ditimbulkannya di dalam kepribadian kita.

  1. Tidak adanya perasaan harga diri berakar pada masa lampau kita.
    Kapan perasaan rendah diri itu mulai timbul di dalam diri Anda? Mungkin ketika Anda masih bayi. Aneh sekali kedengarannya, tetapi baiklah kita merenungkannya.

    Pada suatu hari Anda sedang berbelanja di sebuah toko, dan Anda melewati sepasang suami isteri yang sedang mendorong bayinya yang diletakkan di dalam sebuah kereta. Bila bayi itu mungil, lucu, atau benar-benar manis sekali, Anda akan segera mengutarakannya dengan kata-kata, dengan mengajak bermain dan dengan pernyataan yang penuh kasih, “Ah, lucu sekali! Manis benar!” Anda terus-menerus memujinya karena Anda memang senang kepada bayi-bayi… sungguhkah demikian?

    Tidak sampai lima menit kemudian, di tempat parkir itu juga ada seorang ibu yang sedang menggendong bayinya berjalan menuju ke tempat Anda. Sekali lagi Anda tertarik kepada bayi…sampai Anda melihat bayi itu. Kepalanya agak besar, rambutnya kelihatan sangat kotor dan tidak teratur. Pandangannya sayu dan bentuk mukanya tidak bagus, biasa saja. Anda segera berpaling ke arah yang lain dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

    Saya yakin, bahwa bayi kedua itu tahu bahwa ia tidak disukai meskipun Anda diam saja dan tidak menyatakannya secara lisan. Dengan cepat sekali ia dapat belajar dari getaran-getaran perasaannya yang tajam bahwa ada sesuatu pada dirinya yang tidak disukai orang. Ia sudah mempunyai pengalaman pahit yang pertama mengenai perasaan tidak terjamin.

    Renungkan sejenak kehidupan Anda sendiri, dan ingatlah kembali keadaan Anda pada masa yang lampau. Hal apakah pada Anda yang digodai oleh teman-teman, baik di rumah maupun di sekolah? Apakah rambut Anda yang keriting, tahi lalat di wajah, gigi yang tonggos, hidung yang terlalu besar, tubuh yang terlalu gemuk atau terlalu kurus, telinga yang terlalu capang atau adanya celah antara dua gigi depan Anda, atau mungkin pula Anda gagap atau pélat. Apa pun juga, hanya sedikit di antara kita yang dapat melupakan bekas luka yang nyeri pada waktu kita masih kanak-kanak.

    Celaan yang paling berpengaruh atas perasaan rendah diri saya adalah mengenai tubuh saya yang kerempeng. Saya tahu semua ejekan yang menyakitkan hati mengenai orang-orang kurus. Saya selalu ingin mempunyai cukup banyak batu untuk menimpuk setiap orang yang menyebut saya “si kerempeng” atau “si kurus kering seperti galah”. Nasihat agar “menambahkan sedikit daging lagi pada tulangmu” sering sekali saya terima pada masa itu.

    Saya agak terlambat dalam pertumbuhan jasmani saya, dan dalam masa ketika orang mengagumi bentuk tubuh yang penuh, saya merasa bahwa pelajaran senam adalah pelajaran yang paling menyiksa saya. Saya mempunyai penyakit rheumatik pada waktu saya berumur 10 tahun, dan saya tidak pernah mengikuti pelajaran pendidikan jasmani secara teratur. Saya selalu “istirahat” pada setiap jam pendidikan jasmani. Mengapa saya harus memakai celana pendek dan baju kaos selama “istirahat” itu, tidak masuk dalam akal saya, dan bahwa saya selalu mendapat tempat ganti pakaian di sebelah seorang teman wanita yang mempunyai bentuk tubuh yang bagus seperti bintang film “sexy”, saya sendiri tidak mengerti! (Saya tidak akan menyinggung hal mandi bersama sesudah bersenam yang bagi saya seperti siksaan saja!)

Bersambung…

Check Also

Artikel Wanita April 26 copy

IMAN UNTUK MENANG – 7

Artikel Wanita April 26 copy Dalam pertandingan yang ditayangkan secara nasional di televisi dari Norman, …