PUJIAN & PENYEMBAHAN

I. PENDAHULUAN
Pada tahun 1961, A. W Tozer berbicara dalam suatu konferensi pendeta-pendeta di Canada tentang “Penyembahan – Permata Yang Hilang Dalam Gereja”, topik tersebut menggoyahkan gereja-gereja yang mendengarkannya. Saat itu terjadi polemik dari apa yang telah diungkapkan oleh A.W.Tozer. Namun apa yang kita bisa lihat saat ini? Perkembangan dari Pujian & Penyembahan, melanda dunia, terjadi perkembangan dan pembaharuan di banyak Gereja dalam bidang Pujian & Penyembahan.
Kita tahu bahwa ini kegenapan dari apa yang telah dinubuatkan oleh nabi Amos dan juga di kutip ulang oleh rasul Yakobus dalam Kisah Para Rasul 15:16-18, “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula.”
Kita tahu kegerakan itu tak dapat dibendung, Roh Kudus menjamah umat-Nya untuk memulihkan gereja-Nya dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh.
Untuk itu saudara-saudara, mari kita melihat apa yang Daud dan umat Israel lakukan dalam pelayanan pujian dan penyembahan.
Adalah suatu tugas untuk melayani Dia dengan nyanyian syukur dan puji-pujian dihadapan tabut Allah atau yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta diatas kerubim (I Taw.16:4).
Juga diangkatnya dari orang Lewi itu beberapa orang sebagai pelayan di hadapan tabut TUHAN untuk memasyhurkan TUHAN, Allah Israel dan menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi-Nya.

II. FUNGSI PUJIAN & PENYEMBAHAN
Puji-pujian merupakan suatu bagian yang penting dalam kehidupan orang Kristen. Dapat kita katakan bahwa dalam setiap Ibadah, baik di rumah maupun di gereja, selalu dimulai dengan nyanyian. Tentunya hal ini bukanlah sekedar suatu tradisi yang memang sudah turun-temurun. Tapi ada suatu maksud dan tujuan yang Allah sudah tetapkan sejak sebelum dan sesudah bumi ini diciptakan. Sejak dahulu Allah sudah punya ketetapan bagi bangsa Israel bahwa Ia bertahta di atas puji-pujian umat-Nya. Apabila mereka menaikkan pujian bagi Tuhan maka Allah ada ber-sama-sama dengan mereka, Allah menaungi mereka, hadirat-Nya ada di tengah-tengah mereka. (Mazmur 22:4)
Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.
Bahkan apabila mereka menghadapi kesulitan dalam peperangan, Allah akan mengingat dan menolong umat Nya apabila mereka menaikkan pujian bagi Tuhan. Begitu pentingnya arti puji-pujian di hadapan Tuhan sehingga Ia menyediakan hal-hal khusus yang mengaitkan akan kehadiran-Nya dengan pujian yang di naikkan bagi-Nya.
Kalau kita melihat lebih jauh kehidupan bangsa Israel dapat dikatakan hampir dalam seluruh segi kehidupan mereka berhubungan dengan musik. Pada saat mereka sedang bersukacita dalam suatu perayaan, mereka bernyanyi dan memainkan musik. Demikian juga pada saat mereka sedang bercocok tanam atau pada saat menuju medan perang dan seusai peperangan. Mereka meng-ekspresikannya dalam suatu nyanyian
Suatu ketika setelah Bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau, Musa beserta Bangsa Israel menyanyikan nyanyian pujian bagi Tuhan dengan penuh sukacita dan sorak kemenangan. Mereka memuji akan kebesaran Tuhan, keperkasaan-Nya dan akan kebaikan Nya. Nyanyian ini tercipta dan dinyanyikan segera setelah bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan oleh bangsa Mesir. Mereka mengekspresikan sukacita mereka dengan nyanyian. Mereka bersukacita bersama, menari bersama untuk menyatakan pada bangsa-bangsa lain bahwa Allah Israel adalah Allah yang perkasa. Allah yang sanggup membelah Laut Teberau. Yang membuat umat pilihan-Nya ber-jalan ditanah yang kering sementara musuh-musuh Nya dibuat Nya tunggang-langgang. Ratusan tahun bangsa Israel ada dalam masa perbudakan, tetapi setelah melalui pergumulan yang berat mereka dilepaskan dari perbudakan dengan pertolongan Allah mereka. Dan ketika beban itu terangkat, mereka menaikkan pujian bagi Allah dengan semarak, dengan sorak-sorai, dengan tari-tarian dan dengan permainan alat musik. Bagi bangsa Israel, pujian kepada Tuhan begitu melekat dalam segala segi kehidupan mereka dan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

III. PERKEMBANGAN MUSIK GEREJA
Melihat dari perkembangan musik gereja, sangatlah menarik. Ternyata sejak awal mula di kitab Kejadian, Allah sudah menempatkan Yubal sebagai Bapa dari semua pemusik. Ini menandakan bagaimana Allah punya suatu tujuan yang sangatlah penting akan dunia ini lewat musik.
Kita juga dapat melihat bagaimana Allah memakai Raja Daud untuk merestorasi pelayanan Pujian dan Penyembahan di masa hidupnya. Team Pujian, Team musik dibentuk dan dilatih menjadi musisi-musisi yang handal. Demikian juga dalam penyelenggaraannya ditata sedemikian rupa menjadi pelayanan yang dikelola dengan sangat baik.
Pada jaman G.F.Handel, Bethoven, Mozart dan yang lainnya, kita disuguhkan dengan musik-musik kaliber dunia dan spektakuler. Di jaman inilah lahir sebuah lagu yang luar biasa indah dan megahnya bagi kemuliaan Tuhan. Sebuah lagu berjudul ‘Hallelujah’ yang di gubah oleh George Frederich Handel.
Lalu apa yang dapat kita maknai kegerakan Pujian & Penyembahan dimasa kini?
Di jaman sekarang kita dapati bagaimana orang-orang awam dipakai Tuhan untuk mengarang lagu-lagu ’sederhana’ namun SANGAT MENYENTUH HATI. Dengan melodi yang simpel namun membawa hati kita begitu ’dekat ’dengan Tuhan.
Masa sekarang dunia di sekitar kita begitu banyak kejahatan, tipu-menipu, keserakahan, kebejatan moral, begitu mudahnya terjadi pembunuhan, dan kejahatan lainnya. Kasih kebayakan orang menjadi dingin. Akan tetapi dengan kehidupan kita yang melekat dengan Tuhan melalui Pujian dan Penyembahan, maka akan ada suatu kuasa Tuhan yang mengalir dalam kehidupan kita. Kita menjadi orang-orang yang dipenuhi dengan damai, rasa sukacita, rasa syukur akan kebaikan Tuhan. Melalui kehidupan kita banyak orang diberkati oleh kasih Tuhan, dan lebih dari itu semua nama Tuhan dipermuliakan.

Oleh : Batara Sihombing
(Founder Celebration of Praise)

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …