PERAN ANAK DALAM KELUARGA

PERAN ANAK DALAM KELUARGA - Beberapa minggu yang lampau sekitar pertengahan bulan April 2022 lalu, saya bersama empat teman SMA saya
Oleh: Kevin Stevanus

Beberapa minggu yang lampau sekitar pertengahan bulan April 2022 lalu, saya bersama empat teman SMA saya berencana untuk reuni dan pergi healing (bahasa zaman now untuk berlibur) ke daerah Pangalengan. Kami berangkat pergi menggunakan satu mobil, sehingga dalam perjalanan dari Bandung ke Pangalengan kami dapat bercanda tawa dan saling sharing cerita kami masing-masing setelah sekian lama tidak berjumpa. Sesampainya di Pangalengan. kami sangat menikmati hamparan kebun teh dan kebun kopi yang begitu luas, yang membuat kami lupa akan kepadatan kota Bandung sehari-hari. PERAN ANAK DALAM KELUARGA

Kami duduk di sebuah gubuk kecil di tengah hamparan kebun hijau dan kembali melanjutkan perbincangan kami, hingga tiba pada satu pertanyaan dari seorang teman saya, “Menurut kalian, ‘kan zaman sekarang mulai banyak orang Indonesia yang punya pemikiran punya anak itu ‘ga wajib, apakah wajib juga ‘ga sih kita mengurus orang tua setelah kita dewasa nanti?” Yang membuat saya terkejut adalah ketika seorang teman saya yang lain dengan spontan dan tanpa pikir panjang langsung menjawab, “Menurut gue sih ‘ga wajib, toh kita juga tidak meminta dilahirkan.” Sementara dua teman saya yang lain masih ragu-ragu untuk menjawab. PERAN ANAK DALAM KELUARGA

Membahas topik ini, saya teringat ayat Alkitab di dalam Keluaran 20:12 dan Efesus 6:1-3. Kedua bagian ayat Alkitab ini mengatakan, bahwa kita harus menghormati dan menaati orang tua kita. Namun, saya pikir selama ini masih banyak anak-anak muda, dan bahkan juga mungkin yang sudah dewasa, yang masih belum mengerti secara utuh mengenai menghormati dan menaati orang tua menurut ayat Alkitab ini. Perintah Tuhan kepada bangsa Israel untuk menghormati orang tua bukan hanya sekadar agar anak-anak menaati perintah orang tua dan membantu pekerjaan orang tua, tetapi juga berbakti dan mengurus orang tua sampai kepada akhir hayat mereka.

Mari kita lihat latar belakang ketika Musa pertama kali menerima perintah ini dari Tuhan. Saat itu bangsa Israel sedang berada di tengah gurun pasir setelah enam ratus ribu orang laki-laki (tidak termasuk perempuan dan anak-anak) bebas dari Mesir. Ketika dalam perjalanan di tengah padang gurun, bangsa Israel masih harus berperang melawan bangsa lain seperti bangsa Amalek. Di antara enam ratus ribu lebih orang Israel tersebut, terdapat orang-orang tua yang ikut serta, dan orang-orang tua ini bisa saja malah menjadi “beban” ketika bangsa Israel berada di gurun. Misalnya ketika berjalan harus digotong dan ketika berperang harus dilindungi, dan lain sebagainya. Tidak sedikit orang-orang tua Israel yang ditinggalkan di tengah gurun pasir demi untuk meringankan dan mengurangi “beban” bangsa Israel kala itu.

Dalam kenyataan kehidupan zaman sekarang, tidak sedikit anak yang mengurus orang tua yang sudah lanjut usia merasa kelelahan secara fisik maupun emosi yang diakibatkan karena kesibukan karir serta tuntutan pekerjaan, mengelola bisnis, mengurus rumah tangga sendiri (suami/isteri dan anak-anak) atau hal lainnya. Bahkan ada yang menitipkan orang tuanya di panti jompo. Menurut pendapat saya, sebisa mungkin dan jika orang tua kita mau, biarkan orang tua kita mengatur sendiri berbagai hal dalam kehidupan mereka, termasuk memilih sendiri perawatan mereka. Namun, kita sebagai anaknya juga perlu membantu mereka sebisanya. Perbedaan pendapat pasti ada, tetapi kita harus mencoba memaklumi dan memaafkan mereka.

Kita juga perlu menyadari, bahwa kesanggupan (waktu dan tenaga) kita terbatas. Jika Anda “kewalahan” dalam mengurus orang tua yang telah lanjut usia, cobalah diskusikan dengan saudara kandung dan minta bantuan mereka, atau memakai bantuan jasa perawat juga dapat menjadi pilihan.

Sebagai kesimpulan, dalam 1 Timotius 5:4 Alkitab berkata, bahwa anak yang sudah dewasa harus menjalankan pengabdian kepada Allah dengan mengurus keluarga mereka, dan mereka harus membalas budi orang tua karena hal ini baik di mata Allah. Jadi, anak yang sudah dewasa punya tanggung jawab yang penting, yaitu memastikan bahwa orang tua mereka yang telah lanjut usia diurus dengan baik. Walaupun kita memiliki tanggung jawab untuk mengurus orang tua, kita juga perlu mengurus kebutuhan diri sendiri dan keluarga Anda jika Anda sudah menikah. Anda perlu makan yang sehat, berolahraga rutin, cukup beristirahat. Jika ada kesempatan, gunakan waktu yang tersisa untuk hal-hal lain yang membangun dan menambah kemampuan dan nilai diri. Hasilnya, emosi kita akan lebih stabil, pikiran yang lebih jernih, tubuh lebih sehat, kemampuan diri yang terasah, dan kita pun bisa mengurus orang tua dengan lebih baik.

Untuk membaca artikel Youth yang lain silahkan klik disini  

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …