
A. Pendahuluan
Kita sering menjumpai orang Kristen yang sudah lama percaya Yesus, tapi kehidupannya sehari-hari tidak berubah. Karakternya tidak ubahnya seperti orang dunia. Kenyataan seperti ini jelas sangat merugikan Kerajaan Allah. Kehidupan mereka menjadi batu sandungan dan tidak menjadi kesaksian yang baik di tengah keluarga, gereja bahkan masyarakat.
Setelah menerima Tuhan Yesus, orang percaya seharusnya segera dimuridkan. Melalui pemuridan, karakter kita dibentuk menjadi semakin menyerupai Kristus. Kita saling melayani, saling mendoakan, saling memperhatikan sehingga sama-sama bertumbuh dan berbuah. Kecakapan, ketrampilan dan talenta kita pun dikembangkan seiring dengan bertambahnya pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan.
Gereja disebut sebagai Keluarga Allah. Bayangkanlah sebuah keluarga. Keluarga yang baik tentu tidak hanya memiliki dan melahirkan anak-anak, tapi juga bertanggung jawab untuk menumbuhkan, merawat dan mendewasakan mereka dalam seluruh aspek kehidupan. Jadi tanggung jawab Gereja tidak hanya mengumpulkan banyak orang (memenangkan jiwa-jiwa bagi Yesus). Orang-orang percaya itu hanyalah bayi-bayi rohani, karena itu mereka perlu didewasakan melalui pemuridan.
Coba bayangkan suatu negara yang penduduknya banyak, tapi miskin sumber daya manusianya. Negara tersebut tidak mungkin berkembang bukan? Bandingkan dengan negara-negara maju yang sumber daya manusianya dikembangkan melalui pendidikan yang berkualitas! Demikian juga dengan gereja. Kalau gereja mau maju dan bertumbuh, tidak hanya terdiri dari banyak bayi rohani, maka harus diajar, dilatih melalui pemuridan.
B. Mengapa Pemuridan Penting?
1. Karena Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkannya
Tuhan Yesus berkata, “jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:19-20). Tuhan Yesus tidak hanya memerintahkan agar kita memuridkan semua bangsa, tetapi Ia sendiri memberi teladan kepada kita. Dalam pelayanan-Nya Tuhan Yesus memilih untuk melatih 12 orang murid, untuk melanjutkan pelayanan-Nya. “. . . Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya . . . Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil . . .” (Mrk. 3:13-14).
2. Pemuridan adalah cara yang efektif untuk menjangkau jiwa
Akibat gerakan pemuridan ini, Kisah Para Rasul mencatat “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” (Kis. 6:7). Selanjutnya, “Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan.” (Kis. 5:14).
3. Pemuridan adalah cara yang efektif untuk membangkitkan pemimpin-pemimpin baru
Melalui pemuridan maka jumlah pelayan bertambah (Kis. 6). Melalui pemuridan, juga Paulus dapat menetapkan para pemimpin baru (yang disebut penatua) di dalam gereja-gereja yang dirintisnya di setiap kota. Itu sebabnya, Paulus menginstruksikan Timotius untuk melakukan pemuridan juga kepada orang lain yang dapat memuridkan orang lain lagi. “Apa yang telah engkau dengar daripadaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim. 2:2).
4. Pemuridan adalah cara yang efektif untuk membuat kita berakar dan bertumbuh dalam Firman
Hosea 4:6 berkata, “Umatku binasa karena kurang pengetahuan akan firman Allah” (New King James Version).
5. Pemuridan adalah cara untuk mengubah kita mengalami perubahan hidup (karakter)
Pemuridan menyalurkan kuasa kebangkitan Kristus dalam diri seseorang sehingga karakter dosa dibuang dan digantikan dengan karakter Kristus, baik dalam perkataan, pikiran, perasaan, maupun tingkah laku (Ef. 4:21-24).
6. Pemuridan adalah cara yang efektif untuk mengembangkan karunia-karunia rohani
Pemuridan adalah cara untuk melatih orang percaya untuk melayani sesuai dengan talenta dan karunia-karunia rohani mereka. Melayani langsung di tempat besar mungkin malu dan grogi. Selain itu, dalam pertemuan besar, tidak banyak orang yang dapat terlibat dalam pelayanan. Akibatnya, kebanyakan orang Hanya menjadi penonton. Melalui pemuridan kelompok kecil, orang percaya diajar untuk melayani sesuai dengan karunianya (1 Kor. 14:26).
C. Bagaimana Pola Pemuridan yang tepat?
Dalam pelayanan Tuhan Yesus yang relatif singkat (3 ½ tahun), Tuhan Yesus fokus untuk memuridkan. Pemuridan adalah proses membagi kehidupan (sharing life, not just sharing words). Kepada orang banyak Tuhan Yesus mengajar secara umum, tetapi dengan para murid-Nya Ia menjalin hubungan yang lebih intim. Tuhan Yesus memakai kelompok kecil sejumlah 12 orang yang dimuridkan secara khusus.
Pola pemuridan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada murid-Nya, yaitu:
1. Mengajar secara khusus
Tuhan Yesus seringkali menghindar dari kerumunan orang banyak untuk menyediakan waktu khusus mengajar murid-murid-Nya.
“Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” (Mrk. 9:30-31).
2. Mengajar melalui pengalaman hidup bersama
Yesus bersama murid-murid berada di dalam perahu, ketika angin badai mengamuk. Yesus mengajar mereka untuk tidak takut dan menghardik angin badai (Luk. 8:22-25).
Melalui pengalaman kehidupan bersama, Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya apa artinya beriman kepada-Nya dalam menghadapi kesulitan.
D.Pemuridan di GBI Pasir Koja
kelompok kecil pemuridan itu disebut Care Cell dan PA. Care Cell adalah sekelompok kecil orang yang kita layani dalam pertemuan Care Cell.
Sementara PA adalah orang-orang potensial dari anggota Care Cell yang kita beri perhatian yang lebih intensif. Orang-orang yang kita lihat lebih haus dan antusias dalam Care Cell kita PA kan. Dalam PA kita mempersiapkan orang-orang itu untuk menjadi pemimpin-pemimpin baru.
E. Apa Persyaratan Melakukan Pemuridan?
Dalam melakukan pemuridan dibutuhkan beberapa kriteria/persyaratan sikap hati yang harus dimiliki baik oleh murid maupun yang memuridkan:
1. Kasih
Hubungan antara orang yang memuridkan dan yang dimuridkan harus didasari kasih kepada Kristus (Kol. 3:23) yang diwujudkan dalam bentuk kerelaan untuk berkorban, baik dalam bentuk waktu, tenaga, harta maupun perasaan.
Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya: “supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh. 13:34-35). Paulus menyebutkan hubungannya dengan orang-orang yang dimuridkan seperti hubungan seorang ayah dan ibu yang penuh kasih bagi anak-anaknya (1 Tes. 2:7-9). Demikian juga hubungan antara pemurid dengan orang yang dimuridkannya.
2. Roh yang mau diajar (teachable spirit)
Salah satu tujuan utama pemuridan adalah perubahan hidup dan pembentukan watak. Itu sebabnya kita perlu memiliki roh dan sikap yang mau diajar, kerendahan hati, jangan keras kepala. Firman Tuhan menasihatkan kita, “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” (Mzm. 32:8-9).
3. Komitmen
Komitmen dibutuhkan baik oleh yang memuridkan, maupun yang dimuridkan. Yang memuridkan harus melakukannya dengan sepenuh hati dan tekun. Yang dimuridkan perlu menyediakan seluruh keberadaan dirinya, ketetapan hati yang kuat, baik dalam hal kesetiaan waktu, tenaga, pikiran dan hati untuk dibimbing.
Proses pemuridan merupakan sarana pertumbuhan dan kedewasaan rohani, maka harus dilewati setiap orang percaya seumur hidupnya. Setelah dimuridkan, berdoalah dan melangkah dengan iman supaya dapat memuridkan. Murid-murid Anda kelak juga dapat dipakai memuridkan orang lain (2 Tim. 2:2).
GBI Pasir Koja 39 Bandung