Sebagai pelayan-pelayan Tuhan, mari kita melakukan dengan saling menasihati dan dinasihati, saling menghibur dalam kasih, sebagai satu persekutuan dalam Roh Kristus, di mana kasih mesra dan belas kasihan sangat ditonjolkan..(..ngebul sendiri..).
Dengan dasar pelayanan diatas, kita akan menyadari, bahwa kita tidak akan menilai pelayanan seseorang lebih rendah dari apa yang telah dan akan kita lakukan, sebaliknya kita akan menilai bahwa pelayanan seseorang lebih utama dibandingkan dengan pelayanan yang telah dan akan kita lakukan sendiri.
Seorang pelayan sekolah minggu atau guru sekolah minggu, saya menggambarkannya dalam ilustrasi lima jari sebagai berikut
- Kelingking = anak-anak
- Jari manis = orang tua
- Jari tengah = rekan-rekan guru
- Telunjuk = orang yang memiliki otoritas (memberi perintah)
- Jempol = kepada Tuhan
Kalau dasar dan tujuan pelayanan kita kepada Tuhan adalah yang terutama dan yang pertama, maka posisi jari Jempol keatas, jari lainnya ditekuk. Ini akan menghasilkan bentuk seperti sedang memberikan pujian..good, bagus! .
Tetapi sebaliknya, kalau dasar pelayanan kita kepada Tuhan adalah yang terakhir, maka posisi jari jempol menunjuk ke bawah dan tanda ini dipakai untuk mengambarkan hal yang tidak baik , jelek , kalah..loosseeerr…(nangkep kan ?..)
Rekan sekerja..
Kalau posisi semua jari mengepal, saling menggenggam, maka akan menghasilkan satu kekuatan yang sangat dahsyat..untuk memukul dan merubuhkan, untuk menggedor, menimbulkan suara menggelegar,..dan ketika posisi jari tangan mengepal dan saling menggenggam diangkat keatas, itu akan menimbulkan efek syndrome yang luar biasa. Orang- orang akan terpengaruh, terhasut atau terbakar oleh setiap omongan yang diucapkan dan memberi dampak, sehingga orang-orang yang mendengar akan melakukan hal-hal yang dahsyat bahkan tak terukur. Omongannya akan menghasilkan hal-hal yang bisa bersifat positif atau negatif tergantung tujuan orang yang mengucapkannya sebagai sang pemimpin.
Tapi..seandainya salah satu jari dibuka dari genggaman bahkan dibuka melebihi batas (hingga lepas) maka akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa bagi si jari itu sendiri bahkan dirasakan oleh seluruh anggota tubuh dan bukan hanya anggota jari itu sendiri. Jadi pelayanan tidak bisa jalan sendiri-sendiri..my pren !…(alis mengerut mata memicing bibir bawah diinjak gigi).
Dalam Filipi 2 : 1- 11.
Diuraikan begitu sangat sungguh-sungguh lengkap, bagaimana sikap kita sebagai seorang pelayan. Dengan judul perikopnya NASIHAT SUPAYA BERSATU DAN MERENDAHKAN DIRI SEPERTI KRISTUS.
Bersyukur, kita punya contoh dan panutan Kristus. Dia yang serba MAHA mau datang ke dunia. Merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, sehingga pada-Nya dikaruniakan NAMA DIATAS SEGALA NAMA, supaya dengan NAMA dan dalam NAMA YESUS KRISTUS bertekuk lutut segala yang di langit dan yang di bumi bahkan yang di bawah bumi.
rekan sekerja..
sebagai Pelayan Sekolah Minggu dengan kerendahan hati mari miliki rasa bangga berada dipelayanan ini. Kita adalah pelayan pertama yang memberi bekal bagi generasi selanjutnya,..maka dari itu tidak bisa kita melayani anak-anak dengan ala kadarnya atau sembarangan, kita harus melakukannya seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia, seperti yang digambarkan dalam ilustrasi PELAYANAN LIMA JARI.
Akhirnya saya menyerukan salam SEMANGKA..( SEMANGAT KAKAK )..
Oleh: Rachman Natanael
GBI Pasir Koja 39 Bandung
