
Meruntuhkan dan Mendirikan
Baca Titus 2: 11-14
Di ayat 12, ada dua hal yang tidak boleh dilakukan:
1. meninggalkan kefasikan dan
2. keinginan-keinginan duniawi
Masih di ayat 12, kita diberitahukan untuk mengatakan “ya” untuk 3 hal:
1. hidup bijaksana
2. adil
3. beribadah di dalam dunia sekarang ini
Bagaimana sikap yang tidak kudus atas harta milik meruntuhkan rumah tangga Anda?
__________________________________________________________________________
Bagaimana keinginan duniawi meruntuhkan rumah tangga Anda?
__________________________________________________________________________
Ambil saat teduh sejenak dan minta kepada Bapa untuk menyatakan beberapa bagian hidup Anda di mana Anda telah mengizinkan keinginan-keinginan yang tidak kudus atau keinginan duniawi untuk memengaruhi keputusan tentang pekerjaan. Catat pemikiran-pemikiran Anda di sini.
________________________________________________________________________________________________________________
Seorang wanita yang bijak membangun rumah tangganya. Titus 2 mengatakan bahwa kita harus hidup dengan bijak atau dengan sadar diri, dengan benar dan dengan saleh pada saat yang sekarang. Kata “dengan bijak” atau “dengan sadar diri” diterjemahkan dari kata “sophronos” dalam bahasa Yunani di Perjanjian Baru. Yang artinya “dengan pikiran yang jernih, tak berlebih-lebihan, sadar diri, jiwa yang sehat atau pengendalian diri”.
Jika Anda menerapkan hidup dengan bijak atau dengan sadar diri terhadap keputusan-keputusan finansial atas pekerjaan dan harta milik, kesimpulan apakah yang Anda dapatkan? Penyesuaian-penyesuaian apakah yang dapat Anda buat terhadap situasi Anda sekarang untuk memulai hidup dengan bijak dan dengan sadar diri “pada zaman ini”?
Satu Langkah Iman
Beberapa tahun yang lalu saya adalah seorang ibu yang bekerja. Saya mengajar di satu sekolah Kristen selama 5 tahun, di mana anak-anak saya juga bersekolah di situ. Ketika saya mulai, mereka di kelas 2 SD, di kelas 5 SD dan Sekolah Menengah Pertama. Saya membawa mereka ke sekolah bersama-sama saya setiap hari.
David dan saya merasa bahwa pada saat tersebut saya perlu bekerja untuk membantu membayar uang sekolah. Lingkungan tempat saya bekerja sangat menyenangkan, dan anak-anak saya bisa datang kepada saya sepanjang hari (di mana mereka selalu sering mencari kesempatan ini!).
Tetapi saya menjadi kelelahan setiap hari dari mengajar dan akhir minggu tidaklah cukup panjang untuk mengimbangi. Saya mengalami sindrom “mencairkan ayam beku pada pukul 05.00 sore dan setiap orang kelaparan” lebih sering dari yang ingin saya akui sebenarnya.
Di bulan Februari pada tahun kelima dalam pekerjaan saya, David kehilangan pekerjaannya. Kami mulai berdoa tentang apa yang Allah ingin kami lakukan. Dia langsung menyadarkan kami berdua (secara terpisah) bahwa saya harus berhenti kerja dan pulang ke rumah. Kami pikir kami pasti salah dengar!
Pada waktu itu, kami mempunyai satu anak di Sekolah Dasar, satu di Sekolah Menengah Pertama dan satu di Sekolah Menengah Atas. Kekalutan saya mencapai puncak. Ketika David diberhentikan, saya pikir saya tidak mungkin sanggup berhenti dari pekerjaan saya. Tetapi Allah yang tak pernah membuat kesalahan menaruh dalam hati kami berdua untuk saya kembali ke rumah dan mengundurkan diri dari pekerjaan saya.
Langkah iman itu adalah satu titik balik dalam kehidupan kami. Allah melakukan satu karya yang besar dalam hati kami berdua yang berhubungan dengan keuangan kami dan iman kami akan pemeliharaan Allah atas kami. Kami masih tetap melihat Allah memerdekakan kami dalam bidang keuangan dan harta milik. Kami telah belajar untuk menjadi puas dengan apa yang ada. Kami sedang belajar untuk hidup lebih sederhana. (David memang segera mendapatkan pekerjaan setelah saya mengundurkan diri).
Kami menemukan bahwa dengan melepaskan harta milik dan pelayanan yang kami pikir perlu, kami mendapatkan waktu untuk berkomunikasi, berpikir dan membaca. Kami mempunyai jam-jam makan malam yang menyenangkan yang kadang-kadang mencapai 2 jam. Kami mempunyai lebih banyak waktu untuk Allah, waktu antara kami berdua, keluarga kami dan orang lain.
Saya tahu ini kedengarannya seperti drama, tetapi inilah cara hidup kami yang sebenarnya. Dan ini indah sekali.
Ibu, saya tidak tahu bagaimana situasi Anda. Saya tidak tahu bagaimana pergumulan Anda dengan pekerjaan yang sedang Anda hadapi. Tetapi saya tahu bahwa Allah lebih dekat daripada setiap tarikan nafas Anda. Dia lebih dekat daripada degup jantung Anda. Dia sedang mendengarkan tangisan hati Anda dan Dia peduli.
Jika Anda sedang bekerja dan ragu apakah Anda di tempat yang benar karena anak-anak Anda, beritahukan Tuhan. Jika Anda adalah ibu yang tinggal di rumah dan sedang menyulap satu rumah yang tanpa noda, sibuk dengan anak-anak usia pra sekolah, dan pekerjaan sukarela yang banyak, jujurlah kepada Bapa Surgawi tentang apa maknanya “membangun rumah tangga Anda atau meruntuhkannya.”
Mulai dengan menerapkan pengujian pertama terhadap pekerjaan atau kegiatan Anda. Sementara kita menerapkan tiga pengujian yang berikutnya, Anda akan takjub atas keteraturan yang akan terjadi dalam kehidupan Anda!
“Tuhan Yesus, saya ingin membangun keluarga saya dan bukan meruntuhkannya. Ciptakan dalam saya satu hati yang bersih tentang pekerjaan saya. Arahkan kaki keluarga saya dalam jalan-Mu. Saya doakan ini dalam nama-Mu yang berharga. Amin.”
Kiat untuk ibu
Buatlah rumah Anda satu tempat yang menciptakan perasaan diterima dengan hangat oleh semua anggota keluarga. Nyalakan lilin-lilin dan hidupkan musik yang lembut dan nyaman dengan volume yang sedang, di pertengahan minggu dan lihat apa efeknya untuk sikap dan suasana hati setiap orang!
GBI Pasir Koja 39 Bandung