
A. Paskah dalam Perjanjian Lama dan Paskah dalam Perjanjian Baru
Paskah dalam Perjanjian Lama adalah peristiwa dilepaskannya Israel dari perbudakan Mesir. Dalam Perjanjian Baru, Paskah adalah peristiwa dilepaskannya kita dari perbudakan dosa dan kuasa dunia yang jahat oleh pengorbanan Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian.
Empat ratus tahun lamanya Israel diperbudak di Mesir, dan tidak ada satu pun manusia yang dapat melepaskan mereka. Israel dilepaskan semata-mata karena tindakan Allah. Israel hanya cukup percaya dan taat pada instruksi-instruksi Allah, yaitu menyembelih anak domba Paskah dan mengoles darahnya di ambang pintu rumah mereka masing-masing. Anak domba Paskah dan darahnya yang dioles itu adalah gambaran Kristus yang telah berkorban dan mencurahkan darah-Nya di kayu salib bagi kita. Karena itu, Kristus adalah anak domba Paskah yang telah disembelih bagi kita (1 Kor. 5:7).
B. Berkat Paskah bagi Israel dalam Perjanjian Lama dan Berkat Paskah bagi kita dalam Perjanjian Baru
Di Mesir Israel menderita, serba kekurangan, miskin, dan tidak berdaya. Tetapi ketika mereka dilepaskan, Israel menjadi bangsa yang merdeka, tidak lagi menderita. Mereka mengalami mukjizat kesembuhan dan kelimpahan. Demikian juga saat kita diselamatkan, sekarang kita adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari kuasa dosa, kita menerima berbagai mukjizat dan menerima berkelimpahan di dalam hidup.
B.1 Paskah adalah Peristiwa Kelepasan
Jadi berita utama Paskah adalah kelepasan. Paskah adalah berita dilepaskannya kita dari kuasa dosa dan dunia yang jahat ini. Dilepaskannya kita dari kekuatiran, ketakutan, kecemasan. Dosa mengakibatkan kehancuran dalam semua sendi kehidupan: keluarga, ekonomi, masa depan, relasi dengan sesama dan dengan Tuhan. Tetapi pengorbanan Kristus telah melepaskan kita dari kuasa dosa yang menghancurkan tersebut.
B.2. Paskah adalah Peristiwa Kesembuhan
Berita Paskah juga adalah berita tentang kesembuhan. Mazmur 105:37 berkata, bahwa saat orang Israel keluar dari Mesir di antara suku-suku mereka tidak ada yang tergelincir. Kata tergelincir dalam bahasa Ibrani adalah kashal yang bisa juga diterjemahkan sebagai lemah, atau sakit. Artinya saat mereka keluar dari Mesir tidak ada di antara mereka yang lemah atau sakit. Adalah mudah membayangkan, bahwa di antara hampir 2,5 juta orang Israel yang keluar dari Mesir pasti ada beberapa orang dari mereka yang sakit, apalagi sebelumnya mereka berada dalam penindasan. Tetapi saat mereka dibebaskan dari Mesir mereka mengalami kesembuhan dari semua kelemahan (penyakit) tersebut. Demikian juga sekarang, melalui pengorbanan Tuhan Yesus, kita juga disembuhkan dari segala kelemahan dan sakit penyakit, sebab “oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Ptr. 2:24).
Terutama kita disembuhkan dari dosa dan kejahatan dan dari hati yang memberontak. Melalui Kristus sekarang dosa tidak lagi berkuasa atas kita melainkan kebenaran, sekarang Kristus memberi hati yang baru kepada kita yaitu hati yang taat.
B.3. Paskah adalah Peristiwa Kelimpahan
Keluaran 12:35-36 dan Mazmur 105:37 juga menegaskan, bahwa saat Israel keluar dari Mesir mereka membawa perak dan emas dalam jumlah yang berlimpah-limpah. Sesaat sebelum mereka dibebaskan dari Mesir, mereka hidup dalam penindasan, kekurangan, kemiskinan. Tetapi di situ mereka keluar dari Mesir, mereka mengalami kelimpahan.
Artinya, berita Paskah juga adalah berita tentang kelimpahan. Kutuk diganti dengan berkat. Kekurangan, kemiskinan diganti dengan kelimpahan (Yoh. 10:10), karena Kristus yang kaya rela menjadi miskin supaya kita yang miskin sekarang menjadi kaya (2 Kor. 8:9).
B.4. Paskah adalah Peristiwa Perubahan Hidup
Paskah juga adalah peristiwa berubahnya arah atau orientasi kehidupan. Melalui Paskah arah kehidupan bangsa Israel telah berubah secara total. Kematian dan kebangkitan Kristus juga mengubah orientasi kehidupan kita. Sekarang kita hidup bukan lagi untuk hal-hal yang fana di dunia, tetapi untuk hal-hal yang kekal, yaitu Kerajaan Allah.
Orang dunia berpikir, karena toh kita semua akan mati, maka marilah kita betul-betul memuaskan keinginan kita selama hidup. Artinya, kalau memang setelah mati semua selesai, maka marilah kita nikmati hidup, makan dan minum sepuasnya (1 Kor. 15:32). Inilah yang disebut hedonis. Itu sebabnya, mereka hanya memikirkan hal-hal yang fana di dunia ini. Mencari kekayaan, ketenaran, kesenangan, kenikmatan, kehormatan dan sebagainya.
Tetapi orang percaya berpikir lain. Karena hidup kita ini singkat, dan suatu saat kita akan mati. Maka kita harus sungguh-sungguh memuliakan Tuhan selama kita hidup di dunia ini. Kita harus hidup takut Tuhan. Kita harus mempergunakan setiap kesempatan untuk melayani Tuhan. Seperti lagu yang berkata: “Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b’ri. Hidup ini harus jadi berkat.”
Orang percaya sadar, bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Setelah kematian manusia akan mengalami kekekalan. Apakah di sorga bersama Allah atau dihukum di neraka. Paulus sendiri menyadari betul, bahwa suatu saat ia akan menghadapi tahta pengadilan Tuhan di mana dia harus memberi pertanggungjawaban mengenai kehidupannya (2 Kor. 5:10; Rm. 14:12). Karena itu Paulus rela mengalami berbagi penderitaan yang dia sebut dengan istilah “Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Aku telah berjuang melawan binatang buas.” (1 Kor. 15:30-32).
Secara normal semua manusia ingin menghindari penderitaan dan kesulitan dan lebih memilih kesenangan. Tapi Paulus rela menderita dalam melayani Tuhan, karena ia sadar bahwa selama hidup di dunia, adalah kesempatan untuk melayani dan memuliakan Tuhan. Orang Kristen yang memahami makna pengorbanan Kristus pun akan memiliki roh iman yang sama seperti Paulus. Hidup yang demikian adalah hidup yang mengalami kuasa kebangkitan Kristus.
B.5. Paskah adalah Peristiwa Pemulihan Hubungan
Paskah juga adalah peristiwa pemulihan relasi, yaitu relasi kita dengan Tuhan. Kita yang dahulu jauh dari Allah karena dosa, sekarang dijadikan dekat. Kita yang dahulu adalah musuh Allah karena dosa, sekarang dijadikan sebagai anak-anak Allah. Kita yang dahulu bukan siapa-siapa, sekarang dijadikan sebagai ahli waris Kerajaan Allah.
GBI Pasir Koja 39 Bandung