Puncak dari perjalanan Kristus di dunia terletak pada rangkaian kematian dan kebangkitan-Nya yang dikenal dengan Paskah. Seperti orang Israel yang merayakan paskah saat mereka dimerdekakan dari penjajahan bangsa mesir, demikian pula orang Kristen merayakan Paskah saat kita dimerdekakan dari dosa.
Dosa telah menjadi penyakit manusia sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalamnya dan penyakit itu terus menjangkiti manusia hingga kini. Sebagai anak muda yang hidup di era modern dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, banyak tantangan terkait dosa yang kita hadapi. Nilai dan norma berubah secara signifikan bahkan hal-hal yang dianggap tabu oleh generasi sebelumnya kini dianggap sebagai hal yang biasa. Namun prinsip dan kebenaran Kristen tidak berubah. Kristus mati sekali untuk kita semua. Bagian kita sebagai anak Tuhan ialah dengan mengisi kemerdekaan yang Ia berikan bagi kita dengan hal yang menyenangkannya.
Kemerdekaan bukan berbicara mengenai satu titik momentum dalam sejarah, namun berbicara mengenai proses yang dijalani setelah kebebasan itu didapatkan. Misalnya bagi Indonesia, kemerdekaan bukan berbicara mengenai 17 Agustus1945 saja melainkan proses yang dialami bangsa ini pada tahun-tahun ke depannya. Demikian pula kemerdekaan dari dosa, bukan hanya berbicara mengenai Kristus yang mati dan bangkit pada sekitar 2000 tahun yang lalu, namun juga bagaimana kita yang menerima kemerdekaan itu menjalaninya.
Dalam menjalani kemerdekaan dari dosa, anak muda memiliki modal yang kuat untuk memberi makna pada kemerdekaan itu. Anak muda identik dengan kreativitas, kebaruan, dan fleksibilitas yang tinggi. Dengan memiliki semangat yang tinggi, penting bagi anak muda menyalurkannya ke dalam bentuk hal-hal yang positif. Hal sederhana seperti menggunakan media sosial untuk membagikan hal yang baik dan bukan mengutuki orang lainpun sudah membawa dampak positif. Menghasilkan karya-karya sesuai bidang yang ditekuni merupakan cara mengisi kemerdekaan kita dari dosa.
Merdeka dari dosa bukan berarti hidup terisolasi dan tidak memiliki hubungan dengan dunia. Persepsi ini dapat dijelaskan dengan metafora sebagai berikut: kita dipilih menjadi garam yang disebarkan untuk membuat rasa masakan menjadi enak, bukan garam yang ditumpuk di dalam gudang. Kita pun dipilih menjadi terang untuk menerangi kegelapan, bukan menjadi terang yang disimpan di bawah gantang. Artinya ialah kita perlu berbeda dan perbedaan itu membawa dampak positif bagi dunia. Momentum Paskah ini sebagai pengingat bahwa Yesus telah mati dan bangkit bagi kita agar kehidupan kita yang dimerdekakan dari dosa digunakan untuk hal-hal positif menuju tujuan Ilahi yang Allah tetapkan bagi kita.
Oleh: Ivan Stefanus
GBI Pasir Koja 39 Bandung