Papan Komunikasi

ABIJam menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. Akhir-akhir ini kantor Mama sibuk, jadi Mama sering pulang malam. Suatu malam saat Mama pulang dan masuk ke rumah, suasana sepi sekali. “Pasti Papa masih di rumah pak Lukas,” pikir Mama. Ada kebaktian penghiburan, karena seminggu yang lalu ayah pak Lukas meninggal, sementara itu Timi dan Ana sudah tertidur lelap.

Mama melihat ke papan tulis putih yang digunakan sebagai papan komunikasi yang tergantung di ruang tengah. Ada tulisan: Ma, kapan bikin brownies? Brownies Mama enak loh! -Timi. Di bawahnya ada tulisan lain disertai sebuah kartu undangan mungil ditempelkan di bawah tulisan itu dengan magnit bundar merah berbentuk permen mentos: Ma, Kamis depan Susan ulang tahun. Antar aku beli kado, ya. – Ana..

Mama masuk ke ruang makan. Karena sudah makan di kantor, Mama memasukkan makanan yang ada di atas meja ke dalam kulkas.

Ketika membuka pintu kulkas Mama mengerutkan keningnya. Ada sebungkus coklat agak besar yang diberi sticker putih dan bertuliskan: MILIK TIMI. AWAS BERACUN! Lalu, ada satu kotak jelly warna-warni yang juga diberi sticker putih dengan tulisan: MILIK ANA. SIAPA AMBIL, AKAN SAKIT PERUT.

Sebelum bersiap tidur, Mama menulis catatan tugas masak dan tugas lainnya untuk bu Mumun dan menempelkan catatan itu di papan komunikasi. Bu Mumun, pembantu rumah tangga mereka, biasanya datang sekitar jam 11 siang untuk memasak dan mengerjakan tugas rumah tangga.

Esok paginya saat sarapan bersama, Mama bertanya, “Siapa yang punya ide menempelkan tulisan di atas makanan? Koq di kulkas mulai ada tulisan aneh-aneh?”

Timi dan Ana berpandangan dan tersenyum malu. Mereka mengerti walaupun tidak marah, nada suara dan kata-kata Mama menunjukkan bahwa ia kurang setuju.

“Timi duluan, Ma. Aku ikut-ikutan,” Ana membela diri.

“Aku meniru Rizal, temanku. Ia bersaudara empat orang. Makanan mereka sering hilang karena diambil oleh yang lain. Jadi, mereka tempelkan tulisan di makanan milik masing-masing,” Timi menjelaskan.

“Mengambil makanan orang lain tanpa izin namanya mencuri, tidak bisa menahan hawa nafsu. Kalian pasti mengerti bahwa Tuhan tidak suka itu,” kata Papa dengan tegas.

“Tapi kalian kan tidak pernah kehilangan makanan. Apa perlu meniru kebiasaan di rumah Rizal?” tanya Mama.

“Iya deh, Ma. Maafkan, ya. Nanti dicopot,” kata Timi.

“Aku juga minta maaf,” kata Ana. “Lagipula, siapa yang percaya kalau coklat itu beracun dan jelly membuat sakit perut?”. “Kadang-kadang kita melakukan hal bodoh. Yang penting kita mau mengoreksinya,” kata Papa.

“Oh ya, nanti sore Mama pulang cepat. Mama akan buatkan brownies. Ana, kita beli kado Susan hari Sabtu saja ya, sekalian ke toko buku,” kata Mama. Ana mengangguk.

“Horeee, asyiiik! Terima kasih, Ma!” kata Timi riang.

Papa, Timi, dan Ana berangkat bersama dengan naik mobil lebih dahulu. Mama akan naik busway ke kantor karena berbeda arah.

Pulang sekolah Timi dan Ana disambut Bu Mumun.

“Ayo, ganti pakaian dulu! Makanan kalian sudah siap di meja makan. Enak loh.”

“Biasaaa! Memuji masakan sendiri!” sahut Ana dan mereka tertawa.

Ketika Timi membuka kulkas, ia berseru dengan panik.

“Hee, coklatku hilang! Jellymu juga tidak ada!”

“Masa sih bisa hilang?” jawab Ana, “Kurasa tidak hilang. Nanti juga ada penjelasannya.”

“Tetapi aku penasaran! Baru tadi pagi dibahas di rumah kita tak pernah kehilangan makanan,” kata Timi dengan jengkel.

Ia bertopang dagu dan berpikir. Siapa yang ambil makanan itu? Apakah ada pencuri masuk?

Kriiing! Kriiing! Telepon berdering. Timi mengangkatnya. Terdengar suara Mama.

“Mama, coklatku hilang! Jelly Ana juga hilang!” langsung Timi berkata.

“Maaf, Timi. Tadi pagi bu Tini datang dengan anaknya, Ucup. Coklat dan jelly itu Mama berikan pada Ucup. Tetapi tadi sekalian berangkat ke kantor Mama sudah belikan gantinya. Mama sudah tulis di papan komunikasi supaya bu Mumun ambil sama mbak Santi, kasir minimarket,” kata Mama. “Coba tanya pada bu Mumun.”

Benar, di papan komunikasi tertulis supaya bu Mumun ambil coklat dan jelly pada mbak Santi.

Ketika ditanya, bu Mumun menjawab, “Maaf, maaf, bu Mumun tidak baca pesan itu. Sekarang deh bu Mumun ambil.”

Sementara bu Mumun pergi ke mini market, Timi dan Ana makan.

“Kalau tahu begini, aku tidak usah panik dan jengkel,” kata Timi.

“Sebenarnya memalukan kita ribut urusan makanan melulu. Kita seperti orang Israel di padang gurun, tidak memuliakan Tuhan, tetapi meributkan makanan. Ingat bawang di Mesirlah, bosan makan manna, ingin makan daginglah,” kata Ana, “menuruti hawa nafsu saja.”

“Iya, mestinya tadi berdoa supaya Tuhan beri kita hikmat untuk melihat tulisan di papan komunikasi,” Timi mengakui.

Lukas 11 : 3 “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya “

Lukas 12 : 23 : “ Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian “

Oleh: Rina Kumala

Check Also

Kolase RETREAT ABI 19 24

GAP GENERATION-ABI

Oleh: Nana Wiratna Octalina Puji Tuhan akhirnya setelah 6 tahun berselang, ABI kembali bisa mengadakan …