
Dunia ini akan selalu butuh juga haus akan keteladanan untuk dijadikan pelajaran berharga supaya lebih baik lagi kedepannya. Dalam Alkitab kita bisa menemukan banyak keteladanan dan dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan dalam banyak hal, mulai dari perbuatan baik hingga iman. Namun kita tidak bisa menjadi teladan hanya dengan lenggang kangkung dan sekedar berkata-kata , melainkan kita perlu masuk ke dalam perjuangan yang terus menerus. Keteladanan hidup bukan datang dalam sehari, bukan dibangun berdasarkan satu perjuangan yang remeh, tetapi merupakan perjuangan yang disertai banyak tetesan air mata. Keteladanan juga dibentuk dari berbagai macam ketajaman/kepekaan diri dan kewaspadaan diri.
Keteladanan hidup bukan hanya tugas dari orangtua atau seorang atasan saja. Keteladanan hidup merupakan hal yang harus dimiliki semua orang percaya, baik orang tua maupun orang yang masih muda. Keteladanan hidup ini sangat penting dalam diri orang percaya mengingat fungsi kita sebagai garam dan terang dunia.
“Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu” (Titus 2:7).
Satu firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha menjadi teladan dalam hal berbuat baik. Kita harus mampu melanjutkannya sampai bisa mencontohkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya teori, tetapi haruslah disertai dengan proses pula. Jika kita hanya pintar mengajarkan tapi tidak pernah membuktikannya lewat hidup kita sendiri, artinya semua itu hanyalah teori kosong dan bohong belaka. Kita bisa melihat bahwa proses pemindahan atau transfer ilmu dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidaklah cukup. Satu keteladanan lebih baik daripada sejuta nasihat dapat dimaknai bahwa satu sikap, perilaku, perkataan dan perbuatan seseorang yang dapat ditiru atau dicontoh lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih berharga daripada satu juta nasihat yang hanya dibibir saja.
Seorang teladan artinya sosok yang patut ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain, menjadi role model. Pertanyaannya, ada berapa banyak sosok yang layak untuk diteladani di hari-hari ini? Dan yang terpenting apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Ada banyak orang yang menolak dengan berbagai alasan. Mengapa harus saya? Biar orang lain saja kita teladani, kita tidak perlu sibuk untuk itu.
Yesus merupakan contoh sempurna akan hal ini. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih dengan standar yang sungguh jauh dari apa yang dipandang dunia, tapi lihatlah bahwa Yesus tidak berhenti sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidup-Nya secara nyata.
Lebih jauh lagi, Yesus pun mengingatkan kita agar menjadi teladan bagi banyak orang dimana Tuhan dipermuliakan. Terang Tuhan yang ada pada diri kita hendaklah bisa dipancarkan hingga bercahaya bagi banyak orang. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16). Ini pun bentuk gambaran dari bentuk keteladanan. Ingatlah, bahwa banyak orang memperhatikan tingkah laku kita sebagai orang percaya. Jangan sampai kita tidak menjadi terang dan garam tetapi malah menjadi batu sandungan. Panggilan menjadi teladan sudah diberikan, maukah kita menaatinya?
GBI Pasir Koja 39 Bandung