PANDEMI SEHARUSNYA TIDAK MERUNTUHKAN ANAK MUDA SEBAGAI MASA DEPAN GEREJA

Oleh: Kevin Eldiwan

Jika kita melihat situasi abad ke-21 ini, tidak dapat diingkari bahwa anak muda merupakan sasaran paling empuk dari segala bentuk penyesatan pada masa kini, apalagi kegiatan komunitas terutama di gereja pun dibatasi. Padahal, masa depan gereja terletak di tangan anak muda. Kekristenan anak muda pada masa kini menghadapi masa-masa sulit seperti yang digambarkan dalam 2 Timotius 3, baik dari luar maupun dari dalam gereja, yaitu:

– Dari luar gereja: ide-ide yang tidak Alkitabiah lebih banyak digemari orang daripada ajaran yang benar.
– Dari dalam gereja: ajaran dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan Alkitab. Shock budaya dan Gap antar generasi.

Ada banyak tantangan yang lebih khusus dihadapi oleh anak muda abad ke-21, yaitu:
– Masa pencarian jati diri: Kehidupan yang masih labil dan mudah terprovokasi dari luar.
– Mempertanyakan masa depan: pekerjaan, karier, pasangan hidup.
– Menaruh antusiasme yang tinggi terhadap teknologi.
– Mengalami hubungan keluarga yang tidak harmonis.
– Menaruh perhatian pada konten yang berbau seksual: film porno dan menyamakan seks dengan kasih.
– Menentang otoritas dari luar dirinya.

Pada abad ke-21 apalagi di masa-masa pandemi seperti ini, restorasi tetap diperlukan di dalam gereja. Memahami peran kita anak muda sebagai sentral bagi masa depan gereja.

Bagaimana sikap kita untuk menghadapi situasi dan perkembangan dunia saat ini?
1. Berpegang pada ajaran Alkitab (Mazmur 119:9; 2 Timotius 3:15-17)

Hidup kita sebagai manusia terletak pada kepercayaan terhadap Alkitab sebagai firman Allah. Kita sebagai anak muda harus terus belajar untuk memandang segala persoalan kehidupan dari pandangan Alkitab (soal masa depan, pacaran, menikah, karier, makna, dan tujuan hidup). Kehidupan yang berdasar pada Alkitab dan berorientasi pada kemuliaan Allah merupakan modal dasar yang penting bagi kebahagiaan masa muda dan kekuatan untuk menghadapi tantangan apa pun pada usia muda, bahkan hingga masa tua.

2. Kolaborasi melalui Kegiatan Baru di Gereja

Tidak dapat dimungkiri bahwa masa muda adalah masa suka berkumpul. Ikatan emosional dengan teman/sahabat jauh lebih kuat daripada dengan keluarga. Perlu diperhatikan bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33), banyak pergaulan di luar sana yang mungkin tidak membangun dan kita harus hati-hati memilih pergaulan, apalagi menghadapi situasi ini gereja tidak bisa berbuat banyak dalam melakukan kegiatan kebersamaan yang membangun secara tatap muka. Namun kita sebagai anak muda tetap dapat menyalurkan kreativitas dan bakat untuk mengembangkan potensi diri maupun sesamanya. Juga perlu ada rasa inisiatif untuk saling menjaga dan saling menguatkan satu sama lain. Selain itu, gereja harus menaruh perhatian pada kegiatan-kegiatan gereja yang tergolong baru untuk dilaksanakan dan berdampak secara efektif mungkin untuk pengembangan sumber daya anak muda.
Kegiatan-kegiatan yang umumnya baru dalam gereja, biasanya akan menghasilkan perbedaan pendapat antar generasi senior dan yunior di gereja. Untuk menghindari hal tersebut perlu diadakan kolaborasi antar generasi. Hal ini dapat meningkatkan komunikasi dan kebersamaan antar generasi. Mari kita saling berkolaborasi antar generasi dan saling mendukung untuk kemajuan pelayanan di gereja kita di masa-masa seperti ini.

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …