NOW I AM FREE!

Oleh: Kevin Stevanus

“Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.”
(2 Korintus 3:17)

Untuk sebuah kemerdekaan selalu dibayar dengan harga yang mahal. Setiap kali kita melaksanakan upacara bendera, kita diingatkan bahwa kemerdekaan yang kita alami sekarang diperoleh tidak dengan cara yang mudah, melainkan dengan pengorbanan jiwa dan raga dari para pahlawan bangsa. Kemerdekaan Indonesia yang kita alami juga menjadi gambaran bagi kemerdekaan kita sebagai orang percaya.
Seperti yang telah disebutkan di atas, kemerdekaan membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga dari para pahlawan. Demikian juga kemerdekaan kehidupan Kristen. Untuk memerdekakan kita dari dosa dan maut, juga diperlukan tindakan seorang Pribadi Juruselamat yang rela mengorbankan nyawa-Nya. Itulah yang dilakukan Tuhan Yesus melalui kematian-Nya di atas kayu salib.
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang telah memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:1-2)
Pertempuran melawan dosa dan maut telah Tuhan Yesus menangkan di kayu salib, sehingga kita dapat menikmati kemerdekaan yang sejati di dalam Dia. Setelah kita dimerdekakan dalam Kristus, bukan berarti semuanya telah selesai begitu saja. Sama seperti bangsa Indonesia, setelah bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya bukan berarti pekerjaan selesai. Rakyat Indonesia harus membangun bangsanya menjadi bangsa yang kuat. Sebagai anak Allah yang telah dimerdekakan dalam Kristus, kita harus mengisi kemerdekaan yang telah kita terima untuk menghasilkan buah-buah bagi Kristus.
Bagaimana cara kita mengisi kehidupan kita yang merdeka setiap hari ?

1. Merdeka dari Masa Lalu/Move On
“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)
Dalam kehidupan ini, manusia tidak akan pernah terlepas dari yang namanya masa lalu. Rick Warren berkata, “Bagaimana keadaan Anda sekarang itu ditentukan bagaimana Anda hidup di masa lampau, sebaliknya baik atau buruknya masa depan Anda ditentukan tindakan serta keputusan Anda sekarang.”
Ilustrasi : Di sebuah arena pertunjukan kebun binatang, terdapat seekor gajah dewasa dengan salah satu kaki belakangnya terikat pada rantai. Seorang pria pengunjung kebun binatang tersebut heran, mengapa seekor gajah dewasa yang begitu kuat, tidak mampu untuk mematahkan rantai yang begitu kecil mengikat kakinya. Alhasil pria tersebut bertanya kepada penjaga kebun binatang yang ditemuinya. “Permisi Pak, saya penasaran dengan gajah yang kakinya terikat dengan rantai itu. Mengapa gajah dewasa yang begitu kuat tidak mampu mematahkan rantai yang begitu kecil mengikat kakinya?” tanya si pria. Penjaga kebun binatang tersebut menjawab sambil tersenyum, “Ya, memang betul untuk ukuran seekor gajah dewasa seperti itu, saya juga yakin dia akan mampu memutuskan rantai yang mengikat kakinya itu. Namun, rantai yang mengikat kakinya itu sudah terpasang sejak gajah tersebut masih kecil. Ketika masih kecil, gajah tersebut mencoba dengan sekuat tenaga untuk melepaskan kakinya dari rantai itu. Namun, saat itu tenaganya belum mencukupi. Seiring bertumbuh dewasa, gajah itu akhirnya menyerah dan berpikir, bahwa ia memang tidak dapat lepas dari rantai itu untuk selamanya. Padahal setelah dewasa seperti sekarang ini, dengan sekali tarikan saja mungkin rantai itu sudah putus!”
Demikian juga halnya kehidupan kita! Sebelum kita lahir baru mungkin kita masih diperbudak atau mengalami keterikatan dengan segala sesuatu yang menjauhkan kita dari kasih Kristus. Namun, kita harus sadar bahwa setelah kita lahir baru (menuju kerohanian yang semakin dewasa), kita telah dimerdekakan dari segala kuasa dosa. Kasih dan kuasa Kristus sanggup memutuskan ‘rantai’ yang membelenggu kita selama ini. Mari minta pertolongan dan pimpinan Roh Kudus agar kita dapat hidup bebas dari belenggu-belenggu dosa!

2. Berani Memulai Kehidupan yang Baru
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Galatia 5:13)
Joyce Meyer adalah seorang hamba Tuhan terkenal dan dipakai Tuhan luar biasa di Amerika Serikat. Pada umur 12 tahun, Joyce diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Kejadian itu terulang beberapa kali, hingga pada umur 15 tahun ia menikah dan tidak lama ia bercerai. Peristiwa itu membuat Joyce stress dan kehilangan arah. Namun, ketika Joyce berusia kira-kira 25 tahun, ia bangkit dan meresponi panggilan Tuhan dan menjadi hamba Tuhan. Pada mulanya Joyce sangat sulit untuk mengampuni ayahnya. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, ia datang kepada ayahnya dan melepaskan pengampunan. Setelah ia beroleh kemenangan, ia berkata: “Kemenangan Anda atas masa lalu tidak terletak pada seberapa hebat pikiran Anda untuk mengabaikannya, tetapi seberapa tulus hati Anda mau tunduk dan meresponi panggilan Tuhan dalam hidup Anda.”
Joyce Meyer mengalami keterpurukan yang sangat dalam ketika masa mudanya. Saat berada di ‘lembah kekelaman’ tersebut, Joyce bisa saja menjadi pemberontak, lari meninggalkan imannya, atau bahkan mengakhiri hidupnya. Namun, ia memilih untuk bangkit, karena ia tahu bahwa masa depannya tidak ditentukan dari masa lalunya, tapi dari apa yang ia lakukan saat ini. Ia bisa saja marah dan menyalahkan Tuhan atas apa yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupannya, tetapi Joyce memilih untuk setia meresponi panggilan Tuhan dalam hidupnya.“Jangan takut untuk jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua.”

3. Hidup dalam Kasih Karunia dan Mengarahkan Tujuan pada Panggilan Tuhan
“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” (Roma 6:22)
Tidak ada negara atau satu orang pun di dunia ini yang menginginkan hidup dalam penjajahan atau perbudakan. Seperti kisah Joyce, Tuhan mau agar kita tetap fokus hidup di dalam kasih karunia-Nya. Setelah ditebus dan hidup dalam karunia-Nya, jangan sampai kita kembali lagi hidup di dalam perbudakan dosa. Tetap setia dengan panggilan yang telah Tuhan tetapkan pada diri kita masing-masing. Setia sampai akhir hingga kita mendapatkan mahkota kehidupan yang kekal. Tuhan Yesus memberkati.

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …