Natal Waktu Yang Indah

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra


Lukas 1:38. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Maria adalah penduduk Nazaret, kota yang tidak terkenal, sebuah kota di Galilea, sebuah sudut terpencil di negeri itu, tempat yang tidak memiliki reputasi dalam hal keagamaan atau pengetahuan, dan berbatasan langsung dengan wilayah bangsa-bangsa kafir, dan karena itu dinamakan wilayah Galilea bangsa-bangsa bukan-Yahudi. Kenyataan bahwa sanak keluarga Kristus tinggal di tempat bangsa-bangsa lain ini menunjukkan bahwa anugerah juga diperuntukkan bagi bangsa bukan-Yahudi. Perhatikanlah, tempat terpencil atau tempat yang tidak ternama tidak boleh menjadi suatu alasan untuk berburuk sangka terhadap orang-orang yang kepadanya Allah berkenan.

Sungguh merupakan suatu anugerah yang besar bagi Maria, karena rencana Allah itu diwujudkan melalui perannya, meskipun ia hidup dalam kemiskinan dan tidak dikenal, namun demikian Allah memperhatikannya, malaikat Gabriel diutus untuk menyampaikan berita kelahiran kepada Maria, seorang perawan muda dari keturunan Daud. Allah berkenan menyatakan kasih-Nya kepada Maria yang tidak terpandang dari antara semua gadis Yahudi. Maria dipilih untuk menjadi ibu Mesias yang akan melahirkan Yesus, sang Juruslamat, seorang yang sangat dibutuhkan dunia ini, yang namanya berarti Allah adalah keselamatan. Dialah Anak Allah yang Mahatinggi. Yesus adalah manusia sejati dan sekaligus Allah sejati. Ia juga akan menjadi Raja, yang mewarisi tahta Daud dan akan berkuasa atas seluruh umat Israel sampai selama-lamanya.
Untuk dilibatkan Allah dalam rencana agung-Nya, orang Kristen atau anak-anak Tuhan harus beriman teguh dan berkomitmen penuh kepada Allah.

Teladanilah Maria yang dalam tiap situasi apa pun—meski sulit, berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Nya”. Ketaatan ini muncul karena kesadaran bahwa dirinya adalah hamba Tuhan. Kepatuhan dan keterbukaan Maria pada kehendak Allah menjadi teladan bagi kita. Namun bukan berarti bahwa ia harus diagungkan melebihi manusia lain dan kita samakan seperti Tuhan.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Maka orang-orang yang dipilih-Nya dan dipakai-Nya juga harus berani mengatakan, “Ya Tuhan ku percaya, jadilah padaku sekehendak-Mu!”
Belajar dari teladan Maria, mari kita menjadikan Natal tahun ini sebagai momen untuk membuka diri pada Allah dan siap untuk taat agar kehendak-Nya dinyatakan dalam dan melalui diri kita.

Marilah kita bertekad untuk menaati Allah agar kehendak-Nya dinyatakan di dalam dan melalui diri kita sehingga karunia Allah yang besar dapat disalurkan juga melalui kehidupan kita. Amin.

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …