
Shalom, tak terasa tahun 2021 ini kita sudah mencapai di penghujung tahun dan di bulan Natal ini, hampir dua tahun kita berada di masa pandemi. Sudah dua kali kita terbatas untuk merayakan Natal dalam segala tempat seperti sekolah dan gereja bersama teman-teman kita. Natal di masa sulit sebelumnya sudah terjadi di masa lampau. Pada tahun 1914, Eropa sedang diselimuti Perang Dunia I yang membawa kehancuran, ratap tangis dan kesengsaraan. Sungguh tidak terbayangkan oleh generasi kita saat ini.
Tetapi, di tengah kemelut ada sesuatu kejadian yang tak terduga. Menjelang 25 Desember, terjadi gencatan senjata antara dua belah pihak yang baru saling menyerang beberapa waktu sebelumnya. Tiba-tiba saja untuk pertama kalinya para tentara di palagan sepakat tak saling menyerang dan menurunkan senjata demi merayakan Natal. Ketika pagi hari tiba kedua belah pihak keluar bersama di tanah yang netral. Mereka saling berteriak mengucapkan “Selamat Natal” menggunakan bahasa lawan mereka dan pada akhirnya mereka bertegur sapa dan bertukar senyuman, seolah suasana perang itu hilang. Sayangnya momen damai ini tidak berlangsung lama meskipun sepintas momen Natal tersebut mampu memberi pengharapan dan kelegaan kepada kedua belah pihak tentara di tengah perang sekalipun.
Natal tahun-tahun pandemi ini jelas berbeda dengan Natal tahun 1914, ketika jutaan orang meninggal akibat Perang Dunia I , sedangkan pada tahun-tahun pandemi ini kita melihat orang-orang meninggal karena musuh yang tak terlihat yaitu virus COVID-19, bahkan menjelang akhir tahun ini belum menampakkan tanda-tanda pandemi akan berakhir namun kita harus terus berharap pandemi ini berlalu.
Situasi seperti ini membuat kita bosan, lelah dan menjerit kepada Tuhan seperti Daud dalam Mazmur 13:2-3 yang memperlihatkan bahwa Daud pun begitu putus asa. Dalam ayat 2 dan 3 Daud merasa Tuhan melupakan dan menyembunyikan wajah-Nya sehingga Daud khawatir dan bersedih hati sepanjang hari, sebuah situasi yang sangat tidak enak. Apakah kita merasa seperti Daud saat itu? Apalagi kita sebagai anak-anak muda yang memiliki identitas kebersamaan dan ketika identitas kebersamaan itu terhalang oleh keadaan dan situasi. Untuk pemuda-pemudi yang sedang mencari pekerjaan dan sedang bekerja pun kita diproses oleh pergumulan karir. Rasanya kita lebih mampu menanggung masalah, bahkan penderitaan jika kita tahu kapan itu akan berakhir. Namun, bagaimana jika masalah itu tak kunjung reda?
Mari kita belajar dari Daud. Dengan berseru kepada Tuhan dan percaya kepada kasih setia-Nya Tuhan. Buatlah seruan kita kepada Tuhan untuk mengalahkan rasa layu dalam kerohanian kita. (Mazmur 13:6) Jangan sampai kita terkalahkan oleh rasa kering rohani. Perlu kita sadari bahwa meskipun hidup tidak mudah, Allah tetap setia dan tidak pernah meninggalkan kita (Ibrani 13:5B). Allah setia menunggu seruan dan keluh-kesah kita apa adanya. Yesus Kristus, yang datang di hari Natal ini pernah mengalami kemiskinan, penderitaan, pengkhianatan, dan dipermalukan, seperti yang dialami oleh banyak dari kita, apalagi di saat-saat pandemi seperti ini. Tapi karena Kristus sendiri, kita dapat tetap memiliki ketenangan dan kebersamaan layaknya para tentara dalam masa perang silam, sambil mengingat kelahiran-Nya yang membawa pengharapan bagi kita umat-Nya.
GBI Pasir Koja 39 Bandung