NATAL ADALAH PANGGILAN UNTUK TAAT (Filipi 2:5-11)

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra

Filipi 2:8 (TB) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Kelahiran seorang bayi biasanya disambut dengan berbagai persiapan yang menyibukkan orangtuanya. Terlebih kelahiran bayi pertama. Pasti kita semua juga mempersiapkan dengan sangat baik: nama bayi, pakaian, biasanya bayi laki-laki warna biru, kalau wanita warna pink sampai ke kamar-kamarnya juga warna yang sama, tempat persalinan pasti mencari yang terbaik, ternyaman dan teraman, apalagi saat-sat ini sedang musim pandemi, ada yang sudah mempersiapkan buat hadiah/manye dan banyak hal-hal lain yang biasanya dipersiapkan untuk kelahiran seorang bayi, terlebih-lebih kelahiran bayi pertama.
Namun, bila kita mengamati kisah kelahiran Yesus maka kesan sederhanalah yang terlihat, mari belajar dari peristiwa Natal pertama bagaimana Tuhan berkarya di dalamnya.

Orang akan menyangka, bahwa jika Tuhan Yesus menjadi manusia, tentulah Ia akan menjadi seorang pangeran, dan tampil dalam kemegahan. Namun justru sebaliknya: keadaan yang menyertai kelahiran Kristus, begitu rendah dan terjadi di dalam semua kondisi yang bisa disebut hina. Ternyata, Natal bagi Tuhan Yesus yang adalah Raja di atas segala raja, Tuan di atas segala tuan adalah daerah pinggiran. Bukan di ibukota Yudea, yaitu Yerusalem tapi hanya di kota kecil yang bernama Betlehem. Kelahiran sang Juruselamat, peristiwa terbesar dalam segenap sejarah, terjadi dalam keadaan yang paling sederhana.

Yesus adalah Raja atas segala raja, tetapi Ia tidak dilahirkan atau hidup seperti seorang raja dalam hidup-Nya. Semua ini melambangkan Anak Allah yang mulia dan agung, tetapi rela mengosongkan diri-Nya dengan datang menjadi manusia, bahkan lahir di tempat yang hina. Ia mengosongkan diri-Nya sendiri, melepaskan diri dari kehormatan dan kemuliaan serta dari keadaan-Nya yang sebelumnya, untuk mengenakan pada diri-Nya sendiri kain kotor berupa kodrat manusia. Ia mengosongkan diri. Mengapa disebut mengosongkan diri? Karena dalam sepanjang hidup dan masa pelayanan-Nya selama tiga setengah tahun di bumi, Dia yang sekalipun adalah Allah yang sejati, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Kristus menjadi sama dengan manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba. Dia sebagai Allah yang tidak terbatas harus dilahirkan sebagai seorang manusia yang sangat terbatas, bahkan menjadi bayi kecil lahir di kandang hina. Ia sungguh dan sepenuhnya manusia, mendapat bagian dalam darah dan daging kita, tampil dalam kodrat dan kebiasaan manusia. Dan Dia mengambil kodrat manusia dengan sukarela. Itu merupakan tindakan-Nya sendiri, dan dilakukan dengan persetujuan-Nya sendiri. Ia mengambil rupa seorang hamba. Yesus dibesarkan secara sederhana, mungkin turut mengerjakan pekerjaan orang yang dianggap sebagai ayah-Nya. Tukang kayu. Kasih-Nya membuat Ia rela menjadi miskin, supaya kita boleh menjadi kaya dalam segala hal.

Permulaan kehidupan Yesus di dunia tidak hanya sederhana, tetapi Ia juga datang ketika dunia dilanda kekeringan rohani. Namun, Yesus datang ke dalam dunia untuk membebaskan segala ikatan yang tidak diperlukan.

Kristus tidak hanya mengambil rupa dan keadaan seorang manusia, tetapi juga rupa seorang hamba, yaitu, manusia yang hina. Kristus bukan hanya hamba Allah yang sudah dipilih oleh Allah, melainkan juga datang untuk melayani manusia, dan hidup di antara mereka sebagai seorang yang melayani di dalam keadaan hina dan rendah. Seluruh hidup-Nya adalah hidup yang sangat rendah, hina, miskin, dan nista. Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan, tidak tampil dengan kemegahan lahiriah, atau memiliki tanda yang membedakan-Nya dari orang lain. Kristus tidak memiliki kemuliaan duniawi atau daya tarik jasmaniah. Semenjak dilahirkan di bumi sebagai manusia, Kristus telah menjalani setiap bentuk rasa sakit seorang manusia: penolakan, kehausan, kelaparan, kemiskinan, menggelandang (tak punya rumah, bahkan kuburan), diolok-olok, diludahi, dipukuli, kehilangan orang yang dikasihi, menjadi korban ketidakadilan dan kejahatan. Inilah keadaan rendah dari hidup-Nya. Namun tahapan yang paling rendah dalam kehinaan-Nya adalah kematian-Nya di kayu salib. Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ia tidak hanya menderita, tetapi juga sepenuhnya taat secara sukarela. Ia merendahkan diri di bawah hukum yang mengatasi-Nya sebagai pengantara, dan oleh hukum itu Dia ditetapkan untuk mati. Bahkan sampai mati di kayu salib, sebuah kematian yang terkutuk, menyakitkan, dan memalukan, sebuah kematian yang dinyatakan terkutuk oleh hukum Taurat (Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib). Semua itu memuncak pada kematian yang mengerikan di atas kayu salib. Kematian yang penuh rasa sakit perih, dipaku sampai menembus bagian-bagian saraf (tangan dan kaki), dan seluruh berat badan-Nya tergantung pada kayu salib. Dan ini merupakan kematian seorang penjahat dan seorang budak, bukan seorang yang merdeka, dipertontonkan di depan umum. Begitu direndahkannya Yesus yang mulia itu. Begitu akrabnya Ia hidup bersama-sama manusia yang tertindas, lengkap dengan pengalaman kesengsaraan-Nya, sampai-sampai Ia disebut sebagai “…seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.”

Tidak ada penderitaan yang Yesus alami, dari kelahiran sampai kematian-Nya, yang tidak terkait dengan penderitaan yang Dia alami. Karena sesungguhnya penderitaan kitalah yang Dia pikul dan dosa kitalah yang Dia tanggung (Yesaya 53:4-5).

Di hari Natal ini, mari kita lihat hati kita dan temukan sifat-sifat Juruselamat yang bersahaja.
Sama seperti Yesus Kristus yang datang dalam kerendahan hati di hadapan Tuhan. Jagalah agar sukacita Natal kita walaupun dalam kesederhanaan tetap menjadi pertunjukan di hadapan orang lain dan dunia ini!

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …