Murid yang menghasilkan buah

Pemuridan ialah salah satu ciri panggilan utama gereja kita, jadi sebagai jemaatnya hendaklah kita menjadi murid yang tumbuh dan berbuah. Bagaikan pohon, sebelum berbuah ada tahapan dan proses yang perlu dilalui. Yakni tertanam, bertumbuh lalu berbuah. Bila sebuah pohon tidak tertanam, maka sulit untuk bertumbuh. Setia tertanam dalam gereja lokal merupakan langkah awal untuk berbuah, dan untuk bertumbuh, pohon membutuhkan nutrisi, air dan pencahayaan yang cukup, demikian juga kita memerlukan saat teduh pribadi, komunitas persekutuan (carecell), pemuridan (PA), dan firman Tuhan dalam ibadah. Tentunya nutrisi rohani ini perlu diberikan secara konsisten. Inkonsistensi membuat pertumbuhan terhambat, dan untuk konsisten dibutuhkan komitmen. Berbuah merupakan proses dimana pohon sudah dianggap cukup usia dan siap bermultiplikasi. Setiap buah mengandung biji sebagai cikal bakal menjadi pohon baru yang mengalami siklus sama untuk terus menghasilkan generasi-generasi pohon yang baru.

Bermultiplikasi , sebagai murid merupakan amanat agung Tuhan Yesus, “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku … dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Menjadi murid membutuhkan komitmen yang dikerjakan dengan setia seperti seorang murid sekolah setia datang ke sekolah, mengerjakan tugas, dan ujian bertahun-tahun hingga akhirnya lulus. Demikian juga ketika kita memberi diri kita sebagai murid Kristus, kita perlu setia datang pemuridan/komunitas dan ibadah agar kita dapat bertumbuh dan berbuah. Proses serta tantangan tentu perlu dihadapi dengan tegar, kelelahan dan putus asa terkadang menghampiri namun kita perlu mengingat kembali bahwa dalam amanat agung terkandung janji, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Janji inilah yang kita pegang sebagai murid dan menjadikan kita kuat menghadapi tantangan dan proses yang kita alami.

Bila kita memiliki kesempatan, biarlah kita setia dimuridkan sejak masa muda. Karena kelak kita akan kuat menghadapi tantangan-tantangan ketika dewasa. Pemuridan bagaikan camp pelatihan yang mempersiapkan anak-anak menjadi tentara pilihan bahkan melahirkan jenderal. Dalam pemuridan terdapat teguran, kasih, didikan, pelajaran, dan perlindungan. Perlindungan ini bukan hanya bagi murid melainkan bagi pembimbing juga. Murid dijagai oleh saudara PA dan pembimbingnya demikian juga seseorang akan lebih menjaga hidupnya ketika membimbing karena ia mengemban tanggungjawab besar bagi generasi selanjutnya. Pemuridan yang dimulai sejak masa muda memberi kita pijakkan dan ‘rumah’ komunitas ketika kita beranjak dewasa dan tantangan hidup melanda.  ‘Rumah’ ini sangat diperlukan oleh banyak kaum muda untuk menjaga kehidupannya berjalan baik. Banyak orang yang depresi, karena ketika menghadapi masalah hanya dipendam sendiri. Sangat penting bagi komunitas ‘rumah’ ini untuk memperbesar pengaruhnya sehingga semakin banyak lagi orang yang masuk ke dalam ‘rumah’ dan ‘rumah’ ini bermultiplikasi. Hal inilah yang disebut murid yang berbuah. Tidak hanya merasakan manfaat ‘rumah’ yaitu perlindungan, teguran, kasih, didikan, pelajaran, pertumbuhan yang sehat, namun juga membagikan manfaat ini kepada orang-orang yang membutuhkan.

Pohon membutuhkan waktu untuk berbuah. Ada proses yang perlu dilalui sebelum buahnya dapat dinikmati. Ada waktunya pemilik pohon menyiram dan memberi pupuk, ada juga waktunya ketika pemilik pohon membersihkan dan memotong daun serta ranting yang kering. Proses menjadi murid yang berbuah tidak singkat, namun bila kita setia dan bertahan tentu Allah yang akan memberi pertumbuhan dan buah Roh serta buah jiwa akan dihasilkan dari murid yang setia.

Oleh: Ivan Stefanus

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …