MURID YANG MENGHASILKAN BUAH

Kita tidak dipanggil hanya menjadi terang bagi diri sendiri tetapi untuk menjadi terang bagi keluarga,  kota, bangsa dan bangsa-bangsa lain. Untuk itu kita harus menjadi murid yang mau dibentuk, diperlengkapi, diperbaharui, dipertajam,  supaya hidup kita menghasilkan buah yang bisa dirasakan oleh semua orang yang sedang membutuhkan saat ini.

Ketika saya kelas 6 SD dan sedang UN, tiba-tiba saya ingin membuang gas (mohon maaf ya), jadi saya pikir kalau saya lepaskan gas tidak akan berbunyi atau berbau, namun apa daya  yang terjadi justru sebaliknya saya membuang gas dan berbunyi, teman sebelah tertawa dan menyebabkan ibu guru pengawas mendatangi kami. Muka saya sudah merah menahan malu dan ketakutan. Ibu guru Tan, demikian nama beliau,  bertanya kepada teman saya apa yang menyebabkan dia tertawa?  Dia spontan menjawab “dia kentut” sambil menunjuk ke arah saya. Seisi kelas semua tertawa dan saya hanya bisa menundukan kepala sambil berkata dalam hati “celaka saya kali ini”. Tapi Ibu Tan adalah seorang guru yang  memberikan teladan dan inspirasi dalam hidup saya. Dengan bijak beliau berkata, “Apa salah jika seseorang ingin kentut? Hal itu baik kalau masih bisa kentut, coba kalau kalian tidak bisa kentut apa tidak menderita?” Jawaban ibu Tan spontan membuat seluruh kelas terdiam dan saya mengangkat muka saya kepada ibu Tan sambil berujar lirih “terimakasih Bu”. Saya tidak pernah lupa kejadian itu dan membuat saya selalu berjanji dalam hidup saya untuk selalu punya kata-kata positif terhadap orang yang mengalami hal hal buruk dalam hidupnya.  Ibu Tan tidak hanya seorang guru yang mengajar ilmu pelajaran saja, tetapi beliau sudah memberikan teladan hidup khususnya buat saya secara pribadi.

Tema kotbah bulan ini membahas  “ Murid yang menghasilkan buah “ dimana kita bukan hanya menjadi orang percaya, tetapi harus bertumbuh terus sebagai murid Kristus.  Untuk hal tersebut , kita membutuhkan langkah-langkah dan tujuan yang pasti untuk mencapainya. Jika tidak, maka kita hanya akan berputar-putar seperti bangsa Israel di padang gurun. Ada ungkapan yang baik “The life you have, is the life you build. The life you build, is the life you have”.

Ungkapan ini menjelaskan bahwa kehidupan kita pada hari ini adalah hasil dari masa lalu yang telah kita bangun, dan apa yang kita bangun saat ini akan kita dapatkan di masa yang akan datang.  Betapa pentingnya sebuah tujuan dalam hidup, karena membantu kita dalam bertindak hari ini. Apakah ada peningkatan atau sebaliknya. Jangan lagi kita mempersalahkan  orang lain karena apa yang kita dapatkan sekarang adalah hasil dari apa yang kita sudah bangun di masa lalu.

Pentingnya Pemuridan.

Matius 28:19-20 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam  nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senatiasa sampai kepada akhir zaman.

Seorang murid tugas utamanya adalah belajar. Seharusnya hal ini pun berlaku bagi Kekristenan. Hal lain adalah kedisiplinan. Seorang murid harus memiliki kedisplinan agar hasil yang diinginkan dapat tercapai. Melalui disiplin seorang murid dilatih dalam hal pembentukan karakter.  Seorang murid perlu mendapat pelatihan agar semua yang dipelajarinya dapat dilakukan sampai memiliki hasil yang memuaskan. Dan hasil akhir seorang murid paling tidak menjadi sama  seperti gurunya. Guru kita adalah Yesus dan tentu kita sebagai murid-Nya akan menjadi murid Kristus.

Semua hal di atas membuat hidup Kristen berbuah banyak. Hidup Kristen yang berbuah banyak merupakan kehendak dan keinginan Tuhan bagi umat-Nya.

Beberapa langkah yang bisa kita lakukan sesuai firman Tuhan dalam injil Yohanes 15:1-8:

  1. Langkah dasar adalah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

“Tinggalah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” Yohanes 15:4a Ini kunci atau kran rohani agar bisa mengalir dan menghidupkan kehidupan rohani kita. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Itulah sebabnya, supaya hidup Kristen yang berbuah bisa terwujud dalam kehidupan kita, maka kita perlu dibenarkan, didamaikan dan diselamatkan oleh Allah melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Setelah kita bertobat maka akan lebih mudah menjadi murid Kristus sebab benihnya adalah benih Ilahi.  Tingkatkan penyembahan  setiap hari supaya Tuhan mempertajam telinga kita. Kita perlu menyediakan waktu.  Yesaya 50:4, “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid”.

  1. Menyadari pentingnya hidup terintegrasi dengan Yesus

“sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal didalam Aku” Yohanes 15:4b.

Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa bila kita tidak  terhubung dan menyatu dengan Yesus, maka hidup kita tidak bisa berbuah. Dengan kata lain kita tidak bisa menjadi saluran berkat Tuhan kepada dunia.

Hidup  Kristen yang berbuah banyak, hanya dimungkinkan jika kita senantiasa terintegrasi, terhubung dan menyatu dengan Yesus sang Sumber berkat. Yesuslah yang menjamin bahwa hidup Kristen yang berbuah banyak bisa terwujud. Dengan kata lain kita harus menangkap getaran hati Tuhan. Hal-hal apa yang menjadi kesukaan Tuhan.

“Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa apa” Yohanes 15:5.

“Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal” Matius 12:33.

Kualitas rohani dalam hati seseorang akan terpelihara jika orang tersebut menjaga persekutuan pribadinya dengan Tuhan. Jangan anggap remeh jam-jam bersama Tuhan yang kita kumpulkan setiap hari karena suatu saat itu akan mendatangkan hasil yang tidak mengecewakan.

  1. Menyadari kualitas hidup sebagai murid Kristus

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah  banyak dan dengan demikian kamu adalah murid murid-Ku” Yohanes 15:8.

Hidup orang Kristen yang berbuah pasti mempermuliakan Bapa di sorga. Kualitas sebagai murid Kristus terlihat dalam kuantitas, produktivitas atau hasil yang diperoleh dan dirasakan oleh sesama kita. Hidup orang Kristen yang berbuah banyak juga menjadi tanda bahwa kita adalah murid Kristus. Dampak tertinggi dari kehidupan murid Kristus adalah Bapa di sorga dipermuliakan. Karena hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang, sehingga orang-orang yang mengalami berkat itu mempermuliakan Bapa di sorga. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan banyak orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” Matius 5:16.

Oleh: Martin Sastrawidjaja

 

 

 

 

 

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …