MISI UNTUK KELUARGA

Oleh: Assoc. Prof. Dr. Ronny Lesmana, dr. AIFO, M.Kes.

Panggilan misi Tuhan untuk semua kita adalah menjadikan semua bangsa semua murid-Nya Tuhan. Tugas dan panggilan ini besar untuk kita semua, hal yang terdekat dari misi yang Tuhan percayakan adalah keluarga kita. Apa gunanya kita memperoleh seluruh dunia jika kita kehilangan iman kita dan iman keluarga kita. Sebagai orang tua, Tuhan mengutus setiap kita untuk memimpin anak-anak kita masuk dalam pengenalan Tuhan dan hidup dalam tuntunan Tuhan.

Saya masih ingat sekali, pada tanggal 17 September 2021 saat melayani di sebuah SMA Kristen terkenal di Jakarta. Pada sesi tanya jawab, anak tersebut protes karena saya membacakan bagian kebenaran firman Tuhan. Dan ada satu pernyataan yang sangat gamblang dari seorang anak menyatakan, bahwa dia tidak percaya Tuhan (**Gambar dari pertanyaan di chat zoom saat pelayanan). Sungguh ironi dan menyedihkan bukan? Kondisi tersebut menjadi tugas dan panggilan kita untuk menyakinkan anak-anak kita, anak-anak Anda dan semua yang kita kenal tidak terhilang dalam suasana kehidupan yang terlihat “Kristen”.

Seperti pada kisah anak yang hilang, sebenarnya bukan hanya satu anak yang bermasalah namun anak yang sulung juga bermasalah. Dalam perikop ini, diceritakan respon anak sulung ketika ayahnya menyambut anak bungsu yang kembali. Lukas 15:11-32 :“ tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Saat kita merenungkan Firman Tuhan tersebut, respon anak sulung HARUS menjadi perhatian kita dan pembelajaran yang penting. Mengapa demikian? Kita kadang lupa dan terlalu tenang tentang kondisi anak-anak kita, kadang terlalu sibuk dalam pekerjaan dan melayani orang lain. Sehingga sadar dan tidak sadar kita tidak memahami perkembangan dan perkembangan anak-anak atau keluarga kita.
1. Merasa “aman” jika berada, lahir dan besar di keluarga Kristen.
2. Merasa “aman” jika anak-anak kita sudah di sekolah Kristen
3. Merasa “aman” jika anak-anak kita ke sekolah minggu atau ke kebaktian remaja
4. Merasa “aman” jika anak-anak kita berteman dengan teman-teman yang Kristen.

Hal-hal di atas tidak menjamin pengenalan keluarga kita akan ALLAH dalam hidup mereka. Bayangkan jika tiba-tiba, anak-anak kita atau keluarga kita yang rajin ke gereja dan terlihat rajin berdoa tapi ternyata pengenalannya akan Tuhan hanya superfisial. Ini seperti anak sulung karena tidak pernah dimuridkan sesuai Amanat Agung Tuhan. Sehingga saat menghadapi kondisi tekanan atau kondisi yang tidak sesuai harapan, anak-anak kita bersikap seperti anak sulung yang mudah menjadi kecewa. Anak-anak kita memandang kondisi tersebut tidak sebagaimana Firman Tuhan ajarkan, namun menggunakan pola pikir duniawi.

Oleh karena itu, penting kita aminkan, tugas kita sebagai orang tua adalah fundamental dalam memuridkan anak-anak kita sehingga mereka mengenal Allah dan hidup takut akan Allah. Tugas ini bukanlah hal yang mudah, namun dengan pertolongan Roh Kudus tentu bisa tercapai dengan baik. Mengenalkan anak-anak kepada Allah tidak hanya sebatas menceritakan tentang perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib kepada umat-Nya, tetapi menceritakan kepada mereka satu rangkaian karya besar dan agung yang telah Allah lakukan dalam hidup kita — kelahiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Rangkaian karya besar Allah ini bukan hanya sebagai cerita rohani yang harus dihafalkan oleh anak, melainkan diteladankan oleh orang tua, Kita harus menjadi sumber “hidup” bagi mereka untuk belajar kasih, ketaatan, pelayanan, karakter, dan pengorbanan. Semuanya ini ada di dalam firman Tuhan. Jadi, melalui firman Tuhan, kita bisa memuridkan anak- anak untuk menjadi murid Kristus yang sejati. Kehidupan yang selaras dengan Kristus hanya bisa dibentuk dengan cara memuridkan anak-anak dengan firman Tuhan.

Bagaimana cara melakukannya? Kita harus mendampingi anak-anak kita :
1.Mulailah dengan berdoa. Mintalah kepada Tuhan agar Roh Kudus memimpin kita dapat mengajar anak-anak untuk memahami Firman-Nya.
2. Komitmen untuk mendampingi anak-anak membaca dan merenungkan firman Tuhan (setiap hari).
3. Membantu anak-anak memahami, belajar firman Tuhan dan melakukan firman Tuhan.
4. Menceritakan kembali firman Tuhan.

Jika mereka sudah terbiasa menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, karakter Kristus akan tertanam di dalam diri mereka. Inilah Amanat Agung Kristus bagi setiap orang yang telah beroleh anugerah keselamatan dari Allah. Anak-anak ini adalah anugerah Tuhan. Sungguh merupakan satu anugerah jika saat ini Tuhan memercayakan anak-anak kepada kita, baik kita sebagai orang tua maupun pelayan anak. Mari kita mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak secara berulang-ulang tanpa kenal lelah.

Terkadang kita terjebak untuk berusaha melogika dan berpikir bahwa pekerjaan misi dengan pendekatan tertentu dan menjustifikasi pelayanan tersebut sesuai atau tidak sesuai, pantas atau tidak pantas, mahal atau murah, pemborosan atau bukan, dan banyak lagi. Tetapi seharusnya kita ingat, bahwa keluarga kita adalah misi kita juga bagi Tuhan. Kita perlu meyakinkan keluarga kita, setiap anak-anak kita, menuliskan sejarah hidup sesuai dengan rencana Allah.
Oleh karena begitu besar kasih TUHAN untuk kehidupan kita , maka tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan Tuhan selain melakukan apa yang menjadi kerinduan hati Tuhan, menjadikan semua bangsa murid Tuhan (Matius 28:19-20).

Bagi kita orang-orang yang percaya pada Tuhan, dan yakin bahwa Roh Tuhan ada dalam hidup kita, maka tidak ada hal prinsip yang lebih utama dan penting selain melakukan firman Tuhan untuk menyampaikan Injil kabar baik dan menjadikan semua bangsa murid-Nya Tuhan terutama untuk keluarga dan anak-anak kita. Inilah misi yang sering kita lewatkan. Mari ambil posisi, bersiap, dengarkan tuntunan Roh KUDUS dan muridkan keluarga serta anak-anak kita. Tuhan memberkati.

Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini  

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …