MENGOPTIMALKAN POTENSI MELALUI REGENERASI YANG MENGHASILKAN REVIVAL

Oleh: Pdp. Ivan Stefanus

Ulangan 31:1-8 & 1 Samuel 17:45-47

Potensi merupakan kemampuan terpendam yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. Potensi akan tetap terpendam dan tidak bermakna bila tidak dikembangkan, bahkan justru menjadi sebuah ironi, jika memiliki banyak potensi tetapi tidak ada yang berkembang. Potensi tidak hanya dimiliki secara perorangan tetapi juga secara kolektif, misalnya potensi bangsa Indonesia. Begitu pun dengan gereja. Setiap gereja memiliki panggilan dan potensinya masing-masing yang tidak terlepas dari sejarah gereja itu sendiri. Potensi sebuah gereja akan maksimal bila gereja tersebut berada pada jalur panggilan-Nya dan fokus mengejar panggilan tersebut. Sayang sekali bila potensi berakhir hanya sebagai potensi tanpa pernah berbuah menjadi karya pelayanan.

Belajar dari Daud dalam 1 Samuel 17:45-47, Daud yang kecil di mata manusia mampu mengeluarkan bahkan memaksimalkan potensi yang Allah berikan padanya menjadi kemenangan besar bagi bangsa Israel. Daud dapat memaksimalkan potensinya karena Ia bersama dengan Allah menggapai panggilan yang telah ditetapkan baginya. Demikian juga dengan gereja, potensi sebuah gereja akan maksimal bila gereja tersebut berada pada jalur panggilannya dan fokus mengejar panggilan tersebut. Namun, panggilan yang besar membutuhkan waktu yang tidak sebentar pula. Oleh karena itu gereja yang sungguh-sungguh mengejar panggilannya akan melakukan regenerasi dan memberikan tongkat estafet kepada generasi penerus untuk terus mengejar panggilan yang Tuhan berikan bagi gereja. Namun, panggilan yang besar membutuhkan waktu yang tidak sebentar pula. Oleh karena itu, gereja yang sungguh-sungguh mengejar panggilan-Nya akan melakukan regenerasi dan memberikan tongkat estafet kepada generasi penerus untuk terus mengejar panggilan yang Tuhan berikan bagi gereja.

Regenerasi berbicara tentang pembaruan dan regenerasi organisasi. Secara lebih spesifik, artinya membahas mengenai pergantian suatu kepengurusan dari generasi terdahulu kepada generasi terkemudian. Proses regenerasi tidak mudah dan seringkali menjadi masa turbulensi karena terjadi perubahan-perubahan dari kebiasaan lama dan status quo. Walaupun demikian, regenerasi merupakan hal yang mesti dilakukan bila tujuan yang diperjuangkan ingin bertahan melintasi waktu.
Dalam kehidupan, rancangan Tuhan ialah agar makhluk hidup dan juga manusia beranak-cucu dan meneruskan kehidupan kepada generasi selanjutnya, menunjukkan bahwa regenerasi merupakan suatu hal yang alami dan memang perlu untuk dilakukan. Banyak usaha manusia yang menentang ini berakhir sia-sia, seperti beberapa raja di zaman dahulu yang kehidupannya fokus pada mencari cara untuk hidup abadi, hingga mengabaikan persiapan penerusnya atau seperti penguasa rezim yang tidak mau menyerahkan kekuasaan kepada penerusnya, sehingga akhirnya ditumbangkan.

Bagaimana dengan gereja? Mayoritas gereja mempersiapkan generasi berikutnya, setidaknya dengan mengadakan sekolah minggu dan ibadah remaja serta pemuda. Akan tetapi tidak semua gereja yang merasa mempersiapkan regenerasi telah mempersiapkannya dengan baik. Persiapan regenerasi yang baik perlu dilakukan kedua pihak, oleh generasi terdahulu dan juga generasi penerus. Oleh karena itu diperlukan keterbukaan, komunikasi yang intensif dan kesepakatan bersama. Dengan hadirnya tiga komponen ini niscaya generasi penerus mampu melanjutkan tujuan yang telah diemban generasi pendahulunya seperti frasa yang sering digaungkan, “Tuhan bukan mencari yang mampu tetapi memampukan yang mau.”
Oleh karena itu anak muda, jangan rendah diri! Seperti Yesus yang melayani karena digerakkan oleh belas kasihan, bila Tuhan telah menaruh beban di hati Anda, bergeraklah bagi generasi Anda karena Tuhan akan memampukanmu dengan cara-Nya.

Hal krusial pada regenerasi adalah mencari waktu yang tepat untuk memindahkan tongkat estafet dan proses perpindahannya. Terlalu cepat memindahkan tongkat estafet mengakibatkan ketidaksiapan penerus estafet, sedangkan terlalu lambat menyebabkan antusiasme dan efisiensi organisasi yang menurun. Tentu untuk menentukan waktu yang tepat, kita perlu berdoa dan berkomunikasi antar generasi. Menjalin komunikasi antar-generasi ini sangat penting dalam proses transisi organisasi, semakin baik komunikasi yang dijalin, maka semakin mulus proses regenerasi yang terjadi. Hal ini sulit dan melelahkan, namun tanpa hal ini regenerasi yang mulus tidak akan terlaksana.
Regenerasi perlu dilakukan secara bertahap karena perubahan yang mendadak seringkali mengakibatkan turbulensi yang hebat. Tahapan ini membantu generasi penerus mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang sedang dan akan dihadapi. Perlu kita ingat bahwa tantangan setiap generasi berbeda terutama di zaman yang berubah demikian cepatnya. Percepatan teknologi dan perubahan pola interaksi manusia mengakibatkan perubahan sosio-kultural yang signifikan. Tentu saja kita perlu belajar dari tantangan masa lalu yang telah dihadapi dengan baik, namun perlu diingat banyak tantangan baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Perbedaan tantangan ini seringkali menghasilkan pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan bersama dan pendekatan atau cara yang berbeda ini seringkali menimbulkan perbedaan pandangan yang mengarah pada konflik antara generasi terdahulu dan generasi penerus. Solusinya tentu komunikasi yang jujur dan intensif karena selama memiliki tujuan yang sama maka cara mencapai tujuan tersebut dapat dinegosiasikan.

Regenerasi yang sukses akan menghasilkan terobosan yang signifikan bagi gereja sebagaimana para rasul menghasilkan terobosan ketika mereka menerima Roh Kudus dan melanjutkan Amanat Agung. Ada dua hal yang perlu diperhatikan agar terobosan bisa maksimal namun tidak menjadi liar, yaitu perlu adanya value transfer (transfer nilai-nilai) dari generasi pendahulu yang menjadi guidelines bagi generasi penerus dan diberikannya ruang gerak yang cukup bagi generasi penerus yang masih berada dalam guidelines yang ada. Perlu diingat, bahwa cara yang sama tidak akan menghasilkan hasil yang berbeda tetapi bila cara baru yang digunakan keluar dari nilai-nilai yang disepakati maka akan membahayakan dan membawa gereja menjauh dari panggilannya. Sebagaimana nilai yang ditanamkan Yesus menjagai murid-murid-Nya bahkan setelah Ia naik ke sorga, demikian pula nilai-nilai akan menjagai generasi penerus yang mencoba membuat terobosan dengan cara-cara yang baru.
Kita seringkali berharap bahwa cara-cara baru yang dibawa generasi penerus dapat menghasilkan revival rohani. Ya tentu saja hal tersebut memungkinkan namun sesungguhnya revival itu adalah hak prerogatif Tuhan dan bukan atas usaha manusia. Kebangunan rohani tidak semata-mata dihasilkan akibat satu, dua atau serangkaian ibadah KKR, melainkan semata-mata karena anugerah dari Tuhan. Ketika banyak orang menyadari keberdosaannya, berbalik kepada Allah dan bertobat adalah saat dimana Roh Kudus berkarya. Ini adalah momen yang begitu indah dimana tidak ada pihak lain yang berhak mengklaim atas karya Roh Kudus tersebut. Peran kita dalam kebangkitan rohani adalah berdoa, dengan rendah hati berseru kepada Tuhan dan menyerukan suara Tuhan kepada generasinya sebagaimana Yesaya, Yeremia dan Yohanes Pembaptis telah berseru kepada generasinya.

Kebangunan rohani adalah seperti pedang bermata dua yang mengobarkan pertobatan namun juga dapat berakhir dengan buruk bila tidak dilakukan dengan sikap hati yang benar. Bila kita dipercayakan terlibat dalam sebuah kebangunan rohani, perlu untuk sungguh-sungguh menjaga kerendahan hati dan mengingat bahwa semuanya adalah karya Allah. Tanpa kerendahan hati, dengan mudahnya kita mengklaim bahwa revival merupakan keberhasilan kita dan dengan perlahan kesombongan rohani menggerogoti hati kita. Oleh karena itu, sambil berdoa meminta kebangunan rohani bagi generasi ini betapa pentingnya kita memiliki kapasitas ketika revival itu terjadi.
Kebangunan rohani ibarat anggur baru yang dicurahkan dan gereja adalah wadahnya. Apakah wadah tersebut dapat menampung atau justru koyak ketika diberikan anggur baru? Inilah pertanyaan yang menjadi tugas kita bersama, memastikan kapasitas dan kualitas wadah anggur. Dengan tekun berdoa, mendalami pengenalan firman Tuhan dan hidup berkomunitas, maka kita telah mempersiapkan wadah anggur agar ketika anggur baru itu dicurahkan kita dapat ditemukan siap dan setia.

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …