
Bilangan 12:1-16
Musa adalah seseorang yang dipilih Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan. Pada perikop ini, Alkitab mencatat bahwa Musa mengambil seorang istri dari perempuan Kush. Namun, Miryam dan Harun nampaknya protes terhadap keputusan yang telah dibuat oleh Musa. Mereka menentang pernikahan yang bukan sesama suku bangsa. Yang menarik pada perikop ini yaitu kita dapat melihat bahwa Allah membela Musa! Allah berfirman, “Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?” (ayat 8), seketika itu Allah murka dan tampaklah Miryam terkena kusta, putih seperti salju (ayat 10).
Dari cerita tadi, kita dapat belajar satu hal yang sangat penting: Allah tidak dapat bertoleransi dengan pemberontakan, terutama pemberontakan terhadap para pemimpin yang dipilih dan ditetapkan Allah. Alkitab memberikan contoh-contoh akibat dari pemberontakan seseorang terhadap otoritas Tuhan ataupun orang yang diurapi-Nya. Seperti Miryam dan Harun, meskipun alasannya kelihatan sangat rasional, mereka langsung terkena kusta. Allah mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas di bumi dan di sorga, dan Dia telah menunjuk wakil-wakil-Nya untuk mewakili Dia di bumi. Pemberontakan terhadap pemimpin adalah dosa yang paling serius karena pemberontakan langsung melawan takhta Allah dan kekuasaan-Nya. Dosa pemberontakan juga seringkali tidak disadari orang-orang dari pada dosa perbuatan seperti mencuri, membunuh, berzinah, berdusta, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya seringkali akibatnya lebih fatal.
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. (Roma 13:1-2).
Siapa pemerintah atau pemimpin yang kepadanya kita harus tunduk dan taat? Pemerintah dan aparatur negara sebagaimana yang dimaksud Rasul Paulus di surat Roma tadi, pendeta, penatua gereja, orang tua, dosen/guru, pembimbing rohani, ketua komsel, atasan di tempat kerja, dan siapapun yang Tuhan izinkan berotoritas di atas kita.
Bukan bagian kita untuk menghakimi, biarkan Tuhan sendiri yang berurusan dengan pemimpin yang bermasalah atau tidak taat. Yang menjadi bagian kita adalah tetap menghormati otoritas yang Tuhan izinkan berada di atas kita.
Mari belajar untuk mengontrol emosi dan juga lidah kita. Tidak ada pemimpin yang sempurna! Belajar untuk menebar kasih, memperbesar toleransi, dan juga mempererat kerukunan di antara sesama lebih lagi. Seperti padi yang semakin terisi, maka akan semakin merunduk, begitu juga kita. Penundukan diri adalah tanda, bahwa hidup kita sudah terisi oleh firman Tuhan.
GBI Pasir Koja 39 Bandung