
Mungkin kebanyakan dari kita sudah mengetahui mengasihi Allah adalah hukum yang terutama dan pertama. Mengasihi-Nya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi. Begitu pentingnya hukum tersebut sampai menjadi yang pertama dan terutama. Mengasihi dengan seluruh yang kita miliki. Yesus mengatakan hukum tersebut ketika Ia dicobai oleh seorang ahli Taurat.
Apa maksud dari hukum tersebut? Ketika kita berbuat baik, ketika rajin melayani, ketika tahu betul mengenai firman Tuhan dan lain-lain, tetapi kita tidak mengasihi Allah, semuanya menjadi sia-sia karena kita tidak melakukan hukum yang utama tersebut. Banyak orang lebih sibuk mencari berkat, tanpa peduli pada sumber berkat-Nya, yaitu Allah sendiri. Membuat kita menaruh perhatian lebih pada urusan kita, membuat kita lebih fokus pada permasalahan hidup dan bukan pada Tuhan. Banyak orang mengetahui Tuhan baik, tapi sedikit orang yang benar- benar menyadari, dan benar-benar mengalami kebaikan Tuhan.
Allah begitu mengasihi, Ketika kita benar-benar merasakan kasih-Nya yang begitu besar, kita akan benar-benar mengasihi-Nya, memberikan segala yang terbaik, melakukan segalanya bagi Tuhan sebagai bentuk ucapan syukur kita. Mengasihi Tuhan bukan lagi karena menjalankan hukum yang terutama dan pertama saja, tetapi karena kita benar-benar mengasihi Bapa tanpa syarat, tanpa pamrih, tapi dengan tulus hati dan kita rindu untuk menyenangkan Tuhan, melakukan kehendak-Nya. Lalu apa yang menjadi kehendak-Nya? Itulah yang menjadi hukum kedua yang Yesus katakan pada seorang ahli taurat, yaitu untuk mengasihi jiwa-jiwa, mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri.
Hukum kedua ini akan terasa sulit ketika kita masih berfokus pada diri kita sendiri. “Stop self centre, once it’s all about me, but turn it into “it’s all about Jesus”. Ketika memiliki pola pikir yang salah kita akan menuntut Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau. Kita merasa sudah melakukan banyak dan minta timbal balik dari Tuhan. Ketika tidak terjadi sesuai dengan keinginan kita, kita merasa Tuhan tidak adil. Fokus kita masih pada diri sendiri, masih pada setiap permasalahan kita. Bagaimana kita bisa mengasihi sesama? Seharusnya kita miliki iman, pegang setiap janji Tuhan, bahwa sesulit apa pun keadaan yang kita alami, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, dan Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan bagi kita. Setiap rancangan-Nya adalah terbaik bagi kita, Ia akan berperang bagi kita, jadi di dalam Tuhan kita tidak perlu takut. Berserah sepenuhnya bukan berarti tidak ada masalah, bukan tidak ada masa sulit, tapi justru di situ waktunya kita menyadari, bahwa Tuhan satu-satunya yang bisa diandalkan.
Kita percaya ketika kita mengerjakan bagian kita untuk melakukan pekerjaan-Nya, Tuhan tidak akan diam, Ia akan melakukan sesuatu dalam hidup kita, menolong setiap pergumulan kita. Mengasihi sesama memang tidak mudah karena akan selalu ada perbedaan, mungkin ada hal-hal yang tidak sesuai. Yang paling bisa menyelesaikan adalah penerimaan bukan penghakiman. Bapa pun melakukannya atas kita. Sebelum Ia memproses kita sedemikian rupa, Tuhan terlebih dulu menerima kita apa pun keadaan kita, tidak ada orang yang terlalu buruk untuk Tuhan terima. Lalu mengapa kita tidak bisa menerima orang lain? Semakin kita tahu firman Tuhan, hati kita menjadi semakin besar. Kepala kita bukan semakin pintar menghakimi, tapi justru membuat kita semakin berbesar hati untuk menerima orang lain.
Bagaimana respon kita ketika menghadapi orang dengan berbagai karakter, konflik, bahkan perbedaan? Apakah kita akan mengeluh atau bersyukur? Kita percaya, bahwa orang-orang tertentu yang Tuhan izinkan hadir di hidup kita untuk memproses kita lebih lagi. Fokus kita adalah menyenangkan Tuhan dan bukan untuk mengikuti perasaan kita. Bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, itu yang akan mencerminkan bagaimana kita bersikap dan berhubungan dengan sesama.
“Vertical Relationship” mengasihi Allah adalah hukum yang terutama dan pertama, lalu “Horizontal Relationship” mengasihi sesama adalah hukum kedua, di Alkitab tertulis pada kedua hukum inilah bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Kedua hukum inilah yang menjadi inti dari kekristenan. Maka hiduplah semakin hari semakin mengasihi Tuhan, semakin serupa dengan karakter Kristus dan semakin rindu untuk melakukan kehendak-Nya, menyenangkan hati-Nya yaitu dengan mengasihi jiwa-jiwa.
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
GBI Pasir Koja 39 Bandung