Dampak mengaplikasikan (menerapkan) Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari :
1. Menguatkan kita dalam menghadapi segala persoalan (perumpamaan: hujan, angin, banjir) dalam kehidupan dan membuat kita menang atas segala persoalan kehidupan.
Mat 7:26-27, Yesus berkata : Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya , ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir lalu angin melanda rumah itu, sehingga hebatlah kerusakannya.
2. Membuat kita bahagia.
Yak 1:22, Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Ayat 25 d,e: tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Dan Maz. 32:2 Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan dan yang tidak berjiwa penipu dan Ams 17:20a (BIS) Seorang penipu tidak akan bahagia. Bandingkan juga 1 Kor 6:10.
3. Membuat orang lain memuliakan Allah. Baca : Mat 5:16, 1 Pet 2:12 b
Dampak tidak mengaplikasikan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari , kita simak beberapa fakta sejarah dibawah ini :
1. Mahatma K. Gandhi:
Gandhi memperjuangkan kemerdekaan bangsa India dari penjajah Inggris, India adalah negara dengan penduduk terbesar ke- 2 di dunia yang merdeka pada 15-8-1947. Filosofi yang mendasari gerakannya seperti ahimsa (anti kekerasan) dll. dipengaruhi oleh Baghavad Gita (berisi syair-syair/ nasehat dalam kisah Mahabharata) dan Injil. Perjanjian Lama dan Baru dibacanya, dan bagian yang sangat berkesan dan paling disukainya serta memberikan inspirasi kepadanya adalah khotbah Yesus di bukit.
Setelah sekolah hukum di Inggris ia kembali ke India pada 1891 dan menjadi advokat. Pada 1893 Gandhi pergi ke Transvaal (Afrika Selatan) untuk menyelesaikan perkara lama dari suatu perkumpulan dagang bangsa India. Di pintu-pintu gereja di Transvaal tergantung papan dengan tulisan : “Terlarang untuk bangsa Asia dan Hottentot(salah satu suku di Afrika)”.
Gandhi dari kasta tertinggi di India biasa diperlakukan sederajad dengan bangsa Inggris, namun tidak demikian di Afrika Selatan. Pada suatu hari minggu ia ingin masuk mengikuti kebaktian di sebuah gereja (dari salah satu sumber dikatakan bahwa waktu kecil Gandhi ingin dibaptis dan menjadi kristen), seorang penerima tamu menghalanginya dan berkata : Mau ke mana kamu orang kafir? Gandhi menjawab : Saya ingin mengikuti ibadah di sini; Penatua gereja membentaknya : Tidak ada ruang untuk orang kafir di gereja ini. Di kemudian hari misionaris E. Stanley Jones bertanya kepada Gandhi : Sekalipun anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa anda terlihat keras menolak untuk menjadi pengikutnya ? Gandhi menjawab: Saya tidak pernah menolak Kristus anda tetapi saya tidak suka orang kristen anda. Jika orang kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus seperti dalam alkitab, seluruh India sudah menjadi kristen hari ini. Dan kepada misionaris yang lain Gandhi berkata : Injil itu lebih kuat kuasanya saat dijalankan/ dipraktekkan ketimbang dikhotbahkan.
Terlepas dari cara M.Gandhi mengenal Yesus seperti apa, namun fakta di atas menjelaskan dampak dari orang-orang Kristen yang tidak melakukan firman Tuhan.
2. Mao Tse Tung,
Presiden pertama Republik Rakyat Tiongkok, negara dengan penduduk terbesar di dunia. Mao Tse Tung memimpin Partai Komunis Tiongkok kepuncak kekuasaan dan pada tahun 1947 PKT telah siap bertempur menumbangkan Partai Nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek. Pada tahun 1949 pasukannya merebut kemenangan dan PKT menguasai mutlak seluruh daratan Tiongkok. Pada 1-10-1949 di Tiananmen Mao memproklamirkan Republik Rakyat Tiongkok. Namun dibalik semua itu perjalanan hidup Mao semasa kecil penuh dengan tekanan batin terutama dari ayahnya yang seorang penuntut akan tetapi tidak sesuai dengan keinginan anaknya. Ditambah perlakuan rasialisme dari salah seorang pastur yang sangat membekas di hatinya. Saat itu Mao bersekolah di sekolah yang didirikan oleh para misionaris dari Eropa. Oleh karena suatu hal pastur itu mengatakan kepada Mao : “anjing kuning”, kata-kata hinaan. Pengalaman masa kecil ini mempengaruhi ideologinya sampai seumur hidupnya, komunis dan anti Tuhan.
3. Agresi militer Belanda ke I dan II :
Bahwa setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17-8-1945, Belanda masih ingin kembali menguasai Indonesia, dan sampai serah terima kedaulatan tanggal 27 Desember 1949 Belanda melakukan dua kali agresi militer yaitu pada 21 Juli 1947 dan 19 Desember 1948.
Alm. dr. J. Leimena (Leimena adalah pahlawan nasional Indonesia, salah satu pendiri Partai Kristen Indonesia, dan di era terakhir Presiden Soekarno sebagai Wakil Perdana Menteri II) memberi tanggapan yang dimuat dalam terbitan brosur pada tahun 1949 berjudul : Perselisihan Indonesia-Belanda, sebagai berikut :
Berulang-ulang saya sendiri telah menerangkan kepada anggota-anggota delegasi Belanda dan dari delegasi menteri-menteri bahwa sesuatu aksi militer akan merugikan benar pekerjaan Gereja, Zending dan Missie. General Synode dari Hervormde Kerk di negeri Belanda dalam bulan September 1948 dan pemimpin-pemimpin dari Hervormde Kerk dan Zending di Indonesia pada permulaan bulan desember 1948, telah menyampaikan surat masing-masing kepada pemerintah Belanda dan Wakil Tinggi Mahkota di Indonesia dengan permintaan supaya perselisihan Indonesia-Belanda jangan diselesaikan dengan aksi militer, karena aksi demikian akan merugikan pekerjaan gereja dan zending.
Bagaimanakah kita dapat mengharap, bahwa orang akan menerima ajaran-ajaran Injil dari orang-orang yang termasuk suatu bangsa yang menyebabkan kesengsaraan, kesedihan dan terror dengan tindakan keras?.
4. Karl Heinrich Marx
Kedua orang tua Marx adalah keturunan rabbi Yahudi, dan dari merekalah Marx mewarisi otaknya yang luar biasa. Pada waktu Marx berumur 6 tahun seluruh keluarganya pindah dari agama Yahudi ke Protestan. Perpindahan ini sebenarnya karena terkait profesi ayahnya. Marx menyaksikan eksploitasi kejam yang diderita oleh para buruh pabrik di Eropa pada permulaan revolusi industri dan kapitalisme terpimpin.
Kegagalan-kegagalan revolusi Eropa 1848-1849 menyebabkan Marx berpindah ke Inggris sampai wafatnya. Marx hidup menderita tiada tara, kalau tidak ada Engels anak seorang pengusaha (yang menjadi sahabatnya) pasti mereka sudah mati kelaparan. Dari keenam anaknya hanya tiga yang dewasa. Kemelaratan Marx inilah kemelaratan di tengah-tengah masyarakat Kristen yang selalu meneriakkan ajaran kasih, turut mewarnai pandangan Marx terhadap agama yang tidak sanggup mengatasi penghisapan manusia oleh manusia.
Tak dapat disangkal gereja telah gagal menantang penyelidikan sejarah Injil yang menggugat keaslian Injil. Dan telah gagal pula menghadapi kehancuran sosial, kebengisan dan penghisapan manusia oleh manusia. Malah gereja telah dipakai sebagai alat oleh kaum yang berkuasa untuk mengeruk tenaga kaum buruh yang miskin, yang menyebabkan Marx mengutuk agama. Dan pada 1848 itulah Marx dan Engels menyusun Manifesto Partai Komunis yang merupakan pamflet paling garang yang pernah ditulis oleh manusia. Itulah sepenggal sejarah timbulnya ajaran Marxisme dan Komunisme yang mempengaruhi banyak negara, termasuk Indonesia sampai pecah G 30 S 1965.
Demikian kiranya menjadi perenungan bagi kita semua bahwa mengaplikasikan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari disamping bermanfaat bagi diri sendiri juga mempengaruhi keberhasilan misi pekabaran Injil.
Oleh: Ir. Slamet Taslim
GBI Pasir Koja 39 Bandung