MEMBANGUN KEJUJURAN DALAM KELUARGA

artikelAmsal 11:11 “Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.”

Keterbukaan atau kejujuran dalam pernikahan itu sangat penting, meski kejujuran mungkin akan melukai tapi janganlah sengaja melukai dengan berkata hal-hal yang jujur. Dan keterbukaan berkaitan erat dengan kepercayaan dan kedewasaan hubungan itu sendiri.  Alkitab sendiri mengatakan “Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak” (Yak. 5:12).  Artinya Kejujuran adalah sesuatu yang utuh; ¼ jujur,  ½ jujur, atau ¾ jujur sekalipun adalah tidak jujur, karena jika seseorang berkata ½ jujur, berarti ada ½  dari informasi tersebut yang merupakan kebohongan. Tidak ada kebohongan di dalam kejujuran.

Penyair Romawi abad pertama, Juneval, menulis, “Kejujuran dipuji-puji, meskipun yang berkata jujur akan mati kelaparan”. Kejujuran dipuji oleh setiap orang, oleh karena kejujuran merupakan kebajikan. Mengapa kejujuran merupakan kebajikan? Apa yang menjadikannya benar? Dari mana datangnya kejujuran? Ide tantang kejujuran datangnya dari Tuhan. Kejujuran adalah sifat Tuhan. Tuhan adalah kebenaran, dan apa yang berlawanan dengan kebenaran adalah dosa. Tuhan memerintahkan agar kita menjunjung tinggi kejujuran. Jika ada orang yang mengaku mengenal Tuhan, kejujuran akan menjadi salah satu dari sifat orang tersebut. Apa itu kejujuran?

Jujur didefinisikan sebagai (1) Hati yang lurus; tidak berbohong atau berkata apa adanya, (2) Tidak curang atau mengikuti aturan yang berlaku (3) Tulus iklas; tidak munafik atau bermuka dua. Jadi, jujur adalah sikap moral yang sejati, yang berasal dari hati yang bersih, lalu diterjemahkan ke dalam tutur kata dan perbuatan. Kejujuran tidak datang dari luar, melainkan datang dari dalam diri manusia ketika seseorang mengakui kebenaran Allah. Dalam Alkitab, Tuhan telah menetapkan dengan sangat jelas, bahwa berdusta, menipu, dan mencuri itu salah (baca Kel. 20:15-16; Im. 19:11-13). Tuhan mengulangi ketetapan-Nya ini sepanjang sejarah. Tuhan menghukum mati Akhan yang tidak jujur (Yos. 7:11), Tuhan juga menghukum mati Ananias dan Safira yang berbohong (Kis. 5:3-4). Siapa saja yang tidak jujur, melawan Tuhan karena hal itu melanggar ketetapan-Nya.

Pria atau wanita  yang mengindahkan standar Tuhan tentang kejujuran akan dilindungi dari beban rasa bersalah. kalau Anda jujur, Anda tidak selalu harus menoleh-noleh. Tentu saja, hati nurani seseorang bisa gelap karena sering berbuat salah (1 Tim. 4:2). Tetapi kendati begitu, akibatnya selalu merusak (Ams. 14:12). Standar Tuhan tentang kejujuran memberikan hati nurani yang jernih, dan hubungan yang tidak terputus dengan Tuhan. “Tuhan, siapa yang boleh menumpang di kemahmu?”Tanya pemazmur Daud. “Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.” (Maz. 15:1-2). Ketidakjujuran tidak bisa membantu, melainkan merusak jalan seseorang dengan Tuhan; tetapi pria atau wanita yang “tidak bercela pikiran dan perbuatannya” akan menuai imbalan”di berkati  dan diselamatkan Tuhan (Maz. 24:4-5)

Keterbukaan dalam pernikahan sangat berkaitan dengan 2 hal: Pertama berkaitan erat dengan kepercayaan, jadi kalau kita tahu pasangan kita terbuka kepada kita, level kepercayaan juga akan meningkat. Kedua, keterbukaan sangat berkaitan dengan berapa dewasa atau matangnya hubungan kita. Yang dimaksud adalah hubungan yang dangkal seringkali juga diikuti dengan ketertutupan, tapi keterbukaan yang tuntas menunjukkan hubungan ini adalah hubungan yang matang karena masing-masing pihak bisa menerima pasangannya dengan baik.

Kehidupan berkeluarga dengan suasana yang  damai, ceria sangat diharapkan setiap anggota keluarga. Kehidupan yang diharapkan tersebut dapat tercipta jika ayah, ibu dan anak melakukan kebenaran firman Tuhan yang salah satunya adalah kejujuran dalam keluarga, lalu bagaimana membangun kejujuran dalam keluarga?

Hal-hal yang dapat dilakukan dalam membangun kejujuran:

  1. Kejujuran dimulai dengan komitmen (Keputusan yang bulat) di dalam Tuhan

Mzm. 119:112, “Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapanMu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.” Ini adalah komitmen awal pemazmur yang menghasilkan  perbuatan-perbuatan yang tercantum di ayat-ayat setelah 112, dan puncak keputusannya menghasilkan perbuatan jujur , ayat 128: Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci. Sebuah kejujuran dimulai dengan pertemuan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Pemazmur menyadari bahwa Tuhan adalah sumber hidup dan sumber kebahagiaannya, baginya tidak ada kebahagiaan di luar ketaatan pada Firman Tuhan. Karena itu ia berkomitmen untuk mencondongkan hatinya untuk ketetapan-ketetapan Tuhan/Firman Tuhan, bukan untuk beberapa hari, atau beberapa bulan, tapi untuk SELAMA-LAMANYA. Dan keputusan untuk taat ini membawa dia pada komitmen berikutnya komitmen hidup jujur. Tidak ada seorangpun mampu membangun kejujuran yang berkenan di hadapan Tuhan tanpa pertolongan Tuhan. Dan sebaliknya, Tuhan sanggup mengubah orang  yang sangat tidak jujur menjadi jujur oleh kuasanya.

  1. Kita membangun kejujuran dengan mempercayai Janji Tuhan

Orang jujur akan memiliki hidup kekal (Mat. 5:10).  Kejujuran yang didasarkan kebenaran diri sendiri adalah “keangkuhan terselubung” yang tidak diperkenan Tuhan.  Tanpa penebusan Kristus, segala kesalehan kita seperti kain kotor di hadapan Tuhan (Yes. 64:6).  Kejujuran sejati: yaitu bertindak dan berkata benar atas dasar kebenaran Tuhan, bukan atas dasar kebenaran yang kita bangun sendiri.  Dan Tuhan menjanjikan hidup kekal bagi setiap orang yang hidup dalam kebenaran-Nya.

Dalam hubungan suami istri 100 % harus terbuka, kalau sampai seseorang tidak berani terbuka menunjukkan hubungan itu sendiri yang nampaknya belum dewasa. Di masa pacaran keterbukaan sudah harus mulai dilakukan, tapi pada waktu pernikahan, kebiasaan dan kesepakatan untuk saling terbuka itu harus tetap dibina. Namun keterbukaan bukanlah suatu lisensi atau izin untuk menyakiti pasangan kita. Sebagai contoh misalnya, kita ini mengharapkan suami kita jadi manager, sampai sekarang masih belum, masih karyawan terus-menerus. Lalu atas nama keterbukaan kita berkata, saya sangat kecewa sekali kamu kok dari dulu tidak pernah jadi manager, terus jadi karyawan.

Ef. 4:25 berkata : “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Alkitab meminta kita jujur, terbuka, berkatalah yang benar tidak ada alasan untuk kejam atau untuk sengaja menyakiti. Kejujuran mungkin akan melukai tapi jangan sampai sengaja melukai dengan berkata hal-hal yang jujur itu.

Oleh: Hokie Wijaya

 

 

 

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …