MELAKUKAN TELADAN TAK PERLU MENUNGGU KETIKA …

Oleh: Kevin Eldiwan

Titus 2:7
“…dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Sebuah peribahasa yang sudah tidak asing yang artinya, perbuatan seseorang akan selalu diingat, baik kebaikannya ataupun kesalahannya meskipun orang tersebut sudah mati.
Seiring berjalannya waktu, umur terus bertambah dan pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Mungkin seringkali kita berpikir apakah bisa terus bertahan dalam sebuah titik kehidupan, seperti masa muda, masa kebangkitan ekonomi dalam kehidupan, atau masa apa pun yang kita idam-idamkan dalam kehidupan. Siapa pun ingin seperti demikian, di mana masa itu sangatlah menyenangkan. Tetapi kita harus tetap melangkah melewati beberapa masa dalam kehidupan dan tidak bisa membuat waktu itu berhenti.
Oleh karena itu, apa yang sudah kita bagikan untuk sesama, bahkan untuk generasi selanjutnya? Teladan atau pembelajaran apa yang sudah kita salurkan? Mari kita ambil waktu beberapa menit ke depan dalam pembacaan artikel ini untuk merenungkan kembali apa yang telah kita berikan.

Di suatu hari ada seorang reporter yang mewawancarai seorang gitaris terkenal di luar negeri. Gitaris itu menyatakan “Penting bagi saya untuk membagikan skill dan ilmu yang saya miliki kepada generasi selanjutnya, sejauh apa yang bisa dibagikan, tanpa dikurangi tanpa dilebihkan, no more, no less…”. Jawaban sang gitaris ini sangat baik untuk dijadikan teladan, mengapa? Karena ada banyak orang yang lebih suka untuk menyembunyikan sesuatu yang istimewa dari dirinya dan cenderung menghindar untuk memberikan teladan karena mereka menganggap: “Mengapa harus saya? Biar orang lain saja yang diteladani, saya tidak perlu sibuk untuk itu.” Hal ini sudah menjadi banyak pemikiran banyak orang dan bukanlah sesuatu yang dianjurkan kepada kita sebagai orang percaya untuk menjadi pola pikir soal memberikan teladan.

Keteladanan adalah kesanggupan untuk memberi pengaruh dan dampak positif pada sesama dan generasi selanjutnya melalui sikap, tingkah laku, tutur kata, kasih, loyalitas, dan komitmen. Mengapa keteladanan sangat diperlukan? Supaya orang-orang sekitar kita bahkan generasi selanjutnya dapat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Keteladanan ini sendiri diperlukan demi kelangsungan masa depan gereja-gereja.

Bagaimana caranya menjadi teladan? Seringkali kita memikirkan perkara-perkara yang terlalu jauh di luar jangkauan untuk menjadi teladan, padahal sebenarnya menjadi teladan itu bisa dimulai dari hal-hal dasar yaitu sebagai berikut:
– Menjaga perkataan.
Perkataan yang baik menunjukkan kedewasaan dalam karakter serta iman. Apa yang keluar dari mulut mencerminkan pikiran dan hati kita. Jika kata-kata yang baik, maka pikiran dan hati kita baik, begitu pula sebaliknya. Bagaimana cara kita menjaga perkataan kita?
* Berdoa meminta pertolongan Tuhan untuk senantiasa menjaga mulut dan bibir (Mazmur 141:3).
* Tahu kapan harus diam dan berbicara (Mazmur 39:2).
* Tidak menjadi provokator melalui gosip, berita tidak benar serta fitnah.

– Menjaga tingkah laku.
Tidak cukup hanya belajar pandai untuk memahami firman Tuhan, tapi semua yang telah kita baca dan renungkan dapat dipraktekkan dalam tingkah laku sehari-hari. Tingkah laku yang menyerupai Yesus, mengampuni, tidak mendendam, rendah hati, tidak egois dan selalu penuh sukacita. Mari bertingkah laku seperti apa yang ada di dalam firman Tuhan.

– Membangun Kasih (1 Korintus 13:4-8).
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

– Menjaga Kesucian (Roma 12:2).
Kesucian berasal dari kata “suci” yang berarti keadaan hati yang terpelihara dari pengaruh dunia atau tidak serupa dengan dunia ini. Banyak yang dunia tawarkan, tetapi kita harus pandai untuk menjaga kesucian di dalam dunia ini. Menjaga kesucian di dalam ini bukan hanya sekedar tidak melakukan dosa secara lahiriah, tapi juga kesucian di dalam batiniah, yaitu sikap hati yang tidak mengandung unsur kejahatan yang bukan berasal dari Tuhan.

Mari, sebagai anak muda, 1 Timotius 4:12 sangat menjelaskan, bahwa menjadi teladan itu tak perlu menunggu menjadi tua, sudah berpengalaman dan sebagainya. Mulai dari tindakan-tindakan yang dijelaskan di atas, kita bisa melakukan langkah awal dari keteladanan kita. Tuhan Yesus memberkati!

Check Also

Artikel Link

PRAISE AND WORSHIP (TALKSHOW)

Oleh: Tirza Raidishya Fairha Ayumi Handi Minggu, 22 September 2024 Ibadah Link Youth berkesempatan mengadakan …