Mia meletakkan pulpennya dan menghentikan kegiatannya saat itu, padahal belum sampai satu jam dia mengerjakan pr. Mia beranjak dari tempat duduknya, dan kembali menggenggam gadgetnya. Seperti remaja lainnya Mia tidak bisa jauh dari gadget dan sosial media, hampir setiap saat dia memijat layar sentuh HP nya dan mengungkapkan perasaan di sosial media.
Setelah Mia bermain-main dengan gadgetnya dia mengambil buku berwarna kuning miliknya yang berada di atas rak, kemudian keluar dari kamarnya.
Mia berjalan dengan santai sambil membuka buku kuningnya buku bertuliskan sketch book itu sudah terisi dengan gambar-gambar karyanya, dia tersenyum sambil memuji dirinya dalam hati betapa hebatnya dia dalam hal seperti ini.
Setelah beberapa saat dia berjalan sampailah dia pada sebuah taman, Mia duduk di bangku taman dan kemudian membuka buku sketsanya, dia membolak–balikan halaman buku mencari halaman yang kosong. Setelah menemukan halaman yang kosong Mia mulai memegang pensil dan bersiap untuk menggambar. Namun tiba-tiba seekor kupu-kupu hinggap di buku Mia, tanpa pikir panjang Mia lantas mengusir kupu-kupu itu dengan tangannya.
Kupu-kupu itu pun terbang, tapi bukannya terbang manjauh, kupu-kupu berwarna putih dengan corak coklat di tepi sayapnya itu terbang di sekitar Mia. Kupu-kupu itu hinggap di bahu Mia, Mia kemudian mengusirnya lagi, kemudian kupu-kupu itu hinggap di tangannya, Mia lantas menggerakkan tangannya yang dihinggapi kupu-kupu itu hingga kupu-kupu itu terbang lagi.
Awalnya Mia bersikap biasa saja tapi kupu-kupu tersebut tak kunjung terbang menjauhinya, hingga ia jadi kesal. Mia pun mencari bangku lain untuk menghindari kupu-kupu tersebut. Namun kupu-kupu itu sudah seperti bayangan kedua Mia , dia terus mengikuti kemanapun Mia pergi, orang-orang di sekitar taman mulai memandangi Mia dengan aneh, Mia yang juga merasa malu karena dipandangi orang-orang di sekitarnya memutuskan untuk meninggalkan taman dan menghentikan kegiatannya.
Akhirnya Mia pun kembali ke rumahnya, sebenarnya dia pergi ke taman untuk mencari ketenangan dan mencari inspirasi untuk gambar barunya. Terlebih lagi karena dia malas mengerjakan pr nya yang dianggapnya sulit tersebut, sebenarnya PR Mia tidak terlalu susah, dia hanya beralasan dan menge-depankan sifat malasnya saja.
Mia kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di kasurnya lagi, dia melihat ke sekeliling kamar ternyata kupu-kupu putih itu tidak mengikutinya lagi. Dia masih bingung kenapa ada seekor kupu-kupu yang mengikutinya. Mia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri meja belajarnya dan menutup buku prnya yang masih terbuka.
Mia melihat keluar jendela, dahinya berkerut tanda keheranan, dilihatnya kupu-kupu putih yang sedari tadi mengikutinya terbang kesana kemari mengitari kebun Mia hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya sebenarnya hal yang dilakukan kupu-kupu itu sangat biasa namun entah kenapa Mia sangat ingin melihatnya. Kemudian kupu-kupu itu terbang menuju kamar Mia, Si kupu-kupu masuk kamar Mia dan hinggap di punggung tangan kanannya kemudian ke tangan kirinya begitu seterusnya, kemudian Mia mengangkat tangannya yang dihinggapi kupu kupu tersebut.
“apa yang kau lakukan kupu-kupu?. Tanganku ini bukan bunga, lebih baik kau kembali ke kebun ku saja”.
Kupu-kupu itu kemudian terbang ke atas buku pr Mia, melihat tingkah kupu-kupu itu Mia merasa aneh sepertinya kupu-kupu itu ingin memberitahukan sesuatu, Mia pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah kupu-kupu itu, tiba-tiba terbersit di pikirannya untuk duduk di depan meja belajarnya dan membuka buku prnya lagi, Mia memegang pulpennya lagi dan bersiap untuk menulis. Kupu-kupu itu pun mulai hinggap di tangan kiri Mia, Mia kembali tersenyum sekaligus merasa aneh kupu-kupu ini sepertinya tidak takut dengannya, tidak seperti kupu-kupu lain yang terbang menjauhinya.
Mia mulai mengerjakan pr nya lagi, walaupun Mia masih tampak malas untuk mengerjakan tapi dia merasa bahwa kupu-kupu tersebut ingin Mia mengerjakan pr, ketika Mia selesai mengerjakan pr kupu-kupu putih yang hinggap di tangannya itu terbang ke luar kamarnya melalui jendela yang terbuka.
Hal ini tidak hanya terjadi satu kali keesokan harinya Mia mendapati kupu-kupu tersebut di sekolah saat itu pelajaran sedang berlangsung, semua temannya mencatat materi di papan tulis dan hanya Mia yang pura-pura mencatat, kemudian kupu-kupu tersebut masuk lewat jendela dan sesekali hinggap di tangannya dan juga bukunya, tapi kemudian Mia menggerakkan tangannya untuk mengusir kupu-kupu itu dari tangannya, namun kupu-kupu itu hanya terbang di sekitar Mia saja lama kelamaan teman-teman Mia dan gurunya memandang ke arahnya dan Mia pun berhenti mengusir kupu-kupu itu dan mulai mencatat seperti teman-temannya.
Setelah lebih dari seminggu berlalu Mia tidak lagi melihat kupu-kupu tersebut di sekitarnya. Dia sadar bahwa umur kupu-kupu itu sangat singkat. Suatu hari Mia pergi ke taman membawa sketch booknya dia menggambar sosok perempuan bersayap kupu-kupu yang di punggung tangannya hinggap seekor kupu-kupu kecil. Kemudian di halaman selanjutnya dia menulis.
“Terima kasih kupu-kupu kecil kau telah mengajarkanku hal yang berharga Yaitu untuk selalu mengerjakan kewajibanku dengan ikhlas dan bersungguh sungguh untuk tidak menurut pada sifat malas yang kumiliki, dan untuk melakukan hal yang bermanfaat dalam hidupku. Ku ingin seperti dirimu yang selalu memberikan manfaat kepada bunga di sekitarmu dalam umurmu yang singkat itu. Ku ingin seperti dirimu yang selalu rajin mengerjakan kewajibanmu dan tak penah mengeluh terima kasih kupu-kupu ku yang cantik kuharap kita bisa bertemu lagi di saat yang lain”
Sekarang Mia bukan gadis yang malas lagi dan dia telah berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan kewajibannya dengan ikhlas dan sungguh sungguh serta menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain sepajang hidupnya.
GBI Pasir Koja 39 Bandung