Amsal 18:12. Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.
Rendah hati bukanlah sebuah tujuan yang bisa dicapai, namun lebih kepada arah perjalanan seumur hidup. Tidak ada satupun kita yang sudah lulus dan diwisuda dari proses menjadi rendah hati. Jika hari kemarin kita bergumul dengan keangkuhan hati untuk tidak mau mengampuni kesalahan saudara kita, hari ini mungkin kita bergumul dengan kesombongan untuk ingin terlihat paling berhasil diantara rekan-rekan kita. Jika tahun lalu kita ingin terlihat paling benar di hadapan semua orang sehingga sangat terganggu jika ada orang yang sedikit saja menilai kita negatif, tahun ini mungkin kita bergumul dengan keangkuhan untuk keberhasilan-keberhasilan dalam pelayanan. Jika seringkali kita angkuh dengan selalu bersikap defensif serta membenarkan dan membela diri, mungkin sesekali kita begitu sombong dengan memperlakukan orang lain secara kasar dan tidak adil. Sampai kapanpun kita tidak bisa dengan 100% yakin mengatakan “tahun lalu aku sombong, tapi tahun ini aku sudah rendah hati”.
Yeremia 17:9, mengatakan “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? “, sekalipun terkadang kita merasa segala sesuatu kita lakukan dengan motivasi yang benar, adakalanya masih tersembunyi motivasi meninggikan diri di dalam hati kita yang licik. Keangkuhan memang sudah diturunkan kepada seluruh umat manusia sejak nenek moyang kita Adam dan Hawa yang tidak puas dan tidak percaya penuh kepada Tuhan, sehingga melanggar firman Tuhan dengan mengambil buah pengetahuan yang baik dan yang jahat.
Namun berita baiknya, proses menjadi rendah hati adalah arah yang benar untuk mendapatkan perkenanan dan peninggian dari Allah. Ada kalanya berkat, jalan keluar dan mujizat tidak hanya memerlukan doa dan iman, tapi memerlukan kerendahan hati sebagai karakter Ilahi. Kerendahan hati bukan berarti rendah diri dan tidak memiliki semangat untuk menghadapi persoalan serta tantangan, kerendahan hati justru membutuhkan semangat serta kerajinan namun tetap merasa aman dan bergantung sepenuhnya kepadaTuhan. Fokus dari kerendahan hati adalah kemuliaan nama Tuhan, bukan pembuktian dan pembenaran diri kepada orang lain. Fokus dari kerendahan hati adalah “Yesus harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”.
Jika hari ini kita memerlukan figur rendah hati, akan sulit kita temukan teladan yang sempurna, karena semua orang pasti masih punya kadar angkuh dan sombong. Teladan sempurna kerendahan hati hanya bisa kita lihat melalui pribadi Tuhan Yesus. Jika hari ini kita ingin membanding-bandingkan kadar kerendahan hati kita, janganlah kita banding-bandingkan dengan orang lain, tapi mari bandingkan dengan pribadi Yesus yang kerendahan hati-Nya sempurna. Selama kita masih mau terus belajar menjadi pribadi yang rendah hati, selama itu pula kita yakin bahwa kita berjalan ke arah yang benar. Mari bersama-sama berjalan ke arah kerendahan hati, arah yang penuh perkenanan dan kehormatan dari Tuhan.
Oleh: Timotius Witono
GBI Pasir Koja 39 Bandung