Ketaatan

Ketika kita mempelajari hubungan kita dengan Allah, yang adalah prioritas utama kita, kita menyeimbangkan keyakinan dengan ketaatan. Keyakinan adalah bersandar pada Allah, mengizinkan Dia untuk mengendalikan hidup kita. Ketaatan adalah melakukan apa yang Dia perintahkan.
Dalam 1 Samuel 15:1-3, ada perintah yang sangat keras dan sulit untuk ditaati, Saul harus menumpas orang Amalek, termasuk bayi-bayinya! Mengapa Allah yang penuh dengan kasih meminta hal ini? Allah menempatkan orang-orang Amalek di bawah rencana penghakiman Ilahi-Nya. Mereka telah memenuhi piala penghakiman atas dosa-dosa mereka. Walaupun sangat berat, hukuman itu sangat adil! Akan jadi apa bayi-bayi Amalek ini kelak ketika mereka bertumbuh? Allah telah mengetahui bahwa mereka akan bertumbuh sama berdosanya seperti orangtua mereka dan tidak akan berbalik kepada Dia. Dia memberikan perintah kepada Saul untuk melaksanakan hukuman Ilahi itu.
Coba perhatikan reaksi Saul terhadap Allah:
Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka (Ay. 8-9).
Tidak ada Ketaatan Setengah-setengah
Sebagai satu perlawanan langsung akan perintah yang dinyatakan Allah, Saul mengecualikan raja orang Amalek, dan kambing-kambing terbaik, lembu-lembu tambun, dan domba-domba, dan semua yang bagus. Dia memang menghancurkan orang-orang dan semua yang “tidak berharga”. Inilah yang dinamakan “ketaatan setangah-setengah”. Ketaatan setengah-setengah sama saja dengan tidak taat sama sekali.
Pernahkah Anda tergoda untuk mentaati Allah setengah jalan? Apakah itu di bidang keuangan? Atau pekerjaan? Atau waktu pribadi dengan Allah? Apakah itu ada hubungannya dengan suami Anda? Atau anak-anak?
Reaksi Allah: menyesal menjadikan Saul raja. Reaksi Samuel, berseru-seru kepada Tuhan semalam-malaman. Reaksi Saul, pergi ke Karmel dan mendirikan suatu tanda peringatan (ay. 10-12). Saul membela dirinya sendiri (ay. 16-21). Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim (ay.23).
Satu Langkah Ketaatan yang Memerdekakan
Sebagai seorang isteri, saya berulang-ulang bergumul mengenai satu perkara. Saya ingin menjalankan setiap tugas gereja yang dimintakan kepada saya, tetapi David tidak ingin saya melakukannya, saya rewel dan menggerutu dan menuduh dia tidak serohani saya. David berargumen bahwa saya tidak menyediakan waktu cukup untuk mengurus dia dan anak-anak. Saya begitu bersemangat untuk melayani Allah dan saya merasa sepertinya David menghalangi saya. Apa yang seharusnya saya lakukan?
Allah memakai 2 Samuel 15:22-23 untuk menangkap saya. “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” Saya ingin mempersembahkan “korban sembelihan” kepada Allah dengan semua pekerjaan baik yang saya lakukan di gereja, tetapi saya tidak ingin mentaati perintah langsung-Nya untuk tunduk kepada suami saya. Aduh! Saya tersentak.
Perlahan tapi pasti, saya mulai mengubah cara saya menerima tuntutan kegiatan yang beraneka ragam. Saya akan katakan kepada orang yang menelepon saya, “Terima kasih untuk meminta saya. Saya akan tanyakan dulu pada David dan menghubungi Anda kembali.” Saya tidak bisa menggambarkan kepada Anda betapa langkah ketaatan itu telah memerdekakan saya.
Allah memberikan kepada David hikmat yang saya perlukan untuk menempatkan diri saya ke tempat yang benar dalam pelayanan, sementara saya mengimbangi tanggung jawab saya untuk keluarga saya. Saya bisa katakan kepada Anda berdasarkan pengalaman bahwa firman Allah adalah benar. “Mendengarkan adalah lebih baik daripada korban sembelihan.”
Tujuan utama pelajaran hari ini adalah membantu Anda untuk melihat bahwa kita harus mentaati Allah hanya karena DIA adalah Tuhan dan kita bukan. Dalam melakukan keinginan kita, kita bisa menyerahkan hidup kita kepada ke-Tuhanan-Nya. Ambil langkah pertama hari ini. Katakan kepada Allah, “Kehendak-Mu adalah amanat bagiku!”
Kiatuntuk Ibu
Lekatkan satu catatan di telepon yangmengatakan: “Terima kasih telah meminta kesediaan saya. Saya akan tanyakan dulukepada suami saya.”
Oleh: Indri Haans
GBI Pasir Koja 39 Bandung