JADILAH UMAT YANG MEMUJI DAN MENYEMBAH

Artikel Utama
Oleh: Pdm. Drs. Dede Imawan

Seperti layaknya seorang imam, kehidupan kita seharusnya tidak lepas dari penyembahan kita kepada Tuhan. Kita mengetahui, bahwa sebagai imamat yang rajani, kita tidak hanya punya akses untuk menghadap kepada hadirat Tuhan, tetapi juga perlu membawa korban persembahan setiap kali kita menghadap kepada hadirat-Nya. Kita datang untuk memberi, bukan hanya untuk menerima atau meminta berkat-Nya.

Ulangan 16:16-17
Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.”
Jadi jelas di sini ditekankan, bahwa mereka (bangsa Israel) untuk tidak menghadap hadirat Tuhan dengan tangan yang hampa. di Kitab Kejadian, kita menemukan bahwa sebelum Hukum Taurat ada, Abraham hendak pergi untuk menghadap kepada hadirat Tuhan.

Kejadian 22:1-3
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
Abraham mengenal siapa Tuhannya, sebab dia mempunyai hubungan yang dekat dengan-Nya. Untuk Abraham, segala sesuatu yang ada padanya adalah milik Tuhan dan dia menempatkan dirinya hanya sebagai seorang pengelola. Tidak heran ketika Tuhan meminta dia mempersembahkan anaknya, Abraham taat karena jika yang Empunya mau mengambil apa yang menjadi kepunyaan-Nya, siapa Abraham dan tak mungkin juga ia bisa untuk menghalangi-Nya? Bahkan Ketika yang diminta adalah untuk mempersembahkan satu-satunya yang terbaik yang ada padanya, Abraham tidak keberatan.

Amsal 9:10
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.
Mengapa banyak anak-anak Tuhan yang mengalami kesulitan untuk memberi, apalagi untuk memberikan persembahan kepada Tuhan? Karena mereka menempatkan diri mereka menjadi sebagai pemilik, bukan sebagai pengelola seperti halnya Abraham, dan itu akibat mereka tidak mengenal dengan benar siapa pribadi yang Maha Kudus sehingga mereka tidak menaruh rasa hormat dan tunduk kepada TUHAN.

Kejadian 29:9-19
menuliskan bagaimana Abraham lulus dalam sebuah ujian ketaatan, dan membuktikan bahwa dia tidak segan-segan untuk mengembalikan apa yang sudah menjadi milik-Nya Tuhan. Ia menempatkan, bahwa Tuhanlah yang paling utama dalam hidupnya, dan maka dari itulah Tuhan juga tidak segan-segan untuk memberkati Abraham secara berlimpah-limpah.
Kalau dari Perjanjian Lama, mereka datang menghadap Tuhan dengan membawa persembahan dari binatang yang mati, maka sebagai imamat yang rajani, kita di Perjanjian Baru menghadap Tuhan dengan persembahan yang lebih baik, yaitu membawa tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Dan itulah ibadah kita yang sejati, OUR TRUE WORSHIP.

Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Pengertian worship sebenarnya sangatlah luas, tetapi sayangnya sering dikerucutkan hanya sebagai musik dan jenis lagu rohani saja. Sehingga dalam pikiran banyak umat Tuhan, urusan worship hanya kepada pemusik dan hamba Tuhan saja dan bukan urusan mereka. Yang penting adalah mereka bisa ikut menyembah dalam ibadah hari Minggu. Worship adalah urusan kita semua dan sudah semestinya menjadi gaya hidup keseharian kita, apalagi sebagai orang yang percaya kepada Yesus, karena kita ini diciptakan untuk menyembah-Nya, dan untuk membawa hormat serta pujian bagi nama Tuhan.

Wahyu 4:11
Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.

Yesaya 43:7
Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Penyembahan atau worship akan membawa transformasi. Penyembah akan menjadi persis seperti siapa yang disembahnya. Pemazmur membuktikan ini.

Mazmur 115:4-8
Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya.
Para penyembah berhala akan mengalami kematian secara rohani persis seperti berhala yang disembahnya. Mereka memiliki panca indera yang lengkap, namun semua seolah tidak berfungsi sehingga mereka hidup dalam kegelapan dan ketersesatan. Bandingkan dengan apa yang ditulis dalam

Keluaran 34:27-30
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.” Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman. Ketika Musa turun dari gunung Sinai –kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu–tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN. Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia.

Ada perubahan yang bisa dilihat dari orang yang suka menghabiskan waktu dalam hadirat Tuhan, akibatnya bisa dilihat oleh orang lain. Demikian juga jika kita menjadi penyembah yang benar, maka kita akan menjadi seperti yang kita sembah. Sepanjang bulan September 2023 kita akan diajar dan dibawa dalam pujian dan penyembahan kepada TUHAN yang hidup. Pasti TUHAN memberkati kita semua, dan mengubah pola pikir kita kepada kebenaran firman TUHAN sehingga Tuhan Yesus bisa menjadi semakin nampak dalam hidup kita. Umat GBI Pasirkoja menjadi pemuji dan penyembah dalam Roh dan Kebenaran. Amin.

Check Also

Artikel Utama 1

MENGAPA TUHAN MEMBENTUK KELUARGA?

Oleh: Pdp Martin Sastrawidjaja Mazmur 128: “Berkat atas rumah tangga” Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang …