
Ketika gadis itu mengakhiri kesaksiannya, Kay berpikir, “Aku telah menjadi orang baik, tetapi aku belum pernah punya hubungan pribadi dengan Tuhan.” Saat itu, dengan kesadaran tersebut, segala sesuatu nampak tidak berarti. Kay kemudian diam-diam berdoa agar Tuhan masuk dalam hati dan hidupnya. Saat pertemuan terakhir, sang pelatih mengalami kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia sangat yakin bahwa ia tidak sendirian. Kay sekarang mempunyai tujuan baru dalam hidupnya: tidak hanya melatih, tetapi juga membagikan iman Kristen-nya kepada orang lain.
Kay melihat setiap tantangan sebagai sesuatu yang harus dihadapinya sendiri hingga ia mengundang Tuhan dalam hidupnya. Sekarang, ia sadar bahwa Tuhan akan selalu bersamanya. Ia begitu kagum bahwa pemahaman ini telah menguatkan setiap geraknya dan memberinya keyakinan pada setiap keputusan baru. Ia telah berkata kepada timnya, pada hari pertama yang melatih mereka, bahwa persiapan adalah kunci untuk menghadapi tantangan apa pun, dan dengan pikiran tersebut, Kay mulai mempelajari Alkitab. Ia berusaha keras, sekeras usahanya untuk memahami imannya, ketika ia melatih para pemainnya untuk melakukan free throw dan jump shots. Ia juga meneliti Alkitab untuk mempertajam kemampuannya mendiskusikan imannya dengan orang lain. Pelatih ini juga bergabung dengan Persekutuan Atlet Kristen dan menjadi anggota aktif di gereja lokal. Ketika ia yakin telah memahami imannya dan aturan-aturan yang datang bersamanya, ia mencari jalan untuk mengajar orang lain.
Kay masih menjadi calon pelatih di North Carolina State dan baru setahun bertobat ketika ia mulai membagikan keyakinan rohaninya. Pada salah satu pidatonya, ia berbicara kepada orang-orang muda yang berkumpul untuk mendengarnya, “Yang membuat pohon mampu berdiri tegak mengatasi badai bukanlah ukurannya, melainkan sistem akarnya. Dengan mengarahkan hidup kita kepada Tuhan, berdoa, dan memelajari firman Tuhan, kita dapat mengembangkan sistem akar pribadi yang kompleks dan kuat untuk mengalahkan badai kehidupan.”
“Demikian pula jika kita mengambil bagian dalam tim olahraga,” ia menambahkan. “Jika kita bekerja keras dan menginvestasikan pikiran, hati, dan roh kita, kita akan mampu mengatasi tantangan dalam pertandingan. Kita dapat menjadi pemimpin tidak hanya di lapangan, tetapi juga di sekolah dan masyarakat.”
Saat menyampaikan hal tersebut, pelatih ini berusaha membuat beberapa orang muda menyadari pentingnya hal itu. Hampir tidak disadarinya bahwa bertahun-tahun kemudian, caranya menghidupi kata-kata yang diucapkannya tersebut akan menjadi penyemangatnya pada pertempuran paling sengit dalam hidupnya. Saat itu, menjadi orang Kristen adalah salah satu dari hal termudah yang pernah ia lakukan.
Selama 14 tahun berikutnya, tim Kay memenangkan tiga gelar Atlantic Coast Conference, medali emas di Goodwill Games 1986 di Moscow, dan kejuaraan dunia. Sebagai pelatih dan orang Kristen, Kay sukses. Sesungguhnya, semuanya terasa begitu mudah. Semua yang ia sentuh nampak berhasil. Bagi perempuan cerdas ini, hidup hanya menawarkan tantangan-tantangan yang sangat dapat dikendalikan. Hidup dalam iman merupakan salah satu latihan paling sederhana yang bisa ia bayangkan.
Ketika ia bersiap-siap untuk melatih tim basket Olimpiade 1988, hidup dan iman menjadi tantangan yang jauh lebih besar. Pada pertengahan Juli, tepat setahun sebelum pertandingan dan perasaan gembira berada di puncak dunia, Kay menjalani pemeriksaan fisik rutin. Mengingat umurnya, dokternya menyarankan agar melakukan mamografi. Tes memperlihatkan sesuatu dalam dadanya yang terlihat mencurigakan. Setelah melakukan biopsi, dokternya memberi kabar buruk, “Kay, kamu mengidap kanker.”
Ketika kata-kata….bersambung
GBI Pasir Koja 39 Bandung