IMAN UNTUK MENANG – 3

C Care Cell copy 2

Empat tahun setelah kemenangan pertama sekolah menengah itu, dengan empat gelar yang disandangnya, Kay meninggalkan Allen Jay High School untuk kembali ke almamaternya. Setelah satu musim yang sukses di sana, ia pindah ke Elon College. Dalam empat musim, timnya memenangkan delapan dari 10 pertandingan. Sekarang, keyakinan A. Doyle Early yang ditunjukkan pada dirinya sembilan tahun lalu benar-benar terbukti. Untuk sepenuhnya membuktikan bahwa kepala sekolah itu benar membutuhkan perjalanan karier yang membawa bola basket perempuan masuk ke tingkat perguruan tinggi.

Pada 1975, North Carolina State University, di Raleigh, mulai melakukan pencarian untuk merekrut pelatih purna waktu tim basket perempuan. Tim basket laki-laki secara konsisten telah bertengger di antara tim-tim papan atas nasional. Namun, program basket perempuan baru-baru ini masuk ke tim universitas. Universitas menghendaki pelatih dengan keterampilan kepemimpinan yang kuat sekaligus seseorang dengan karakter yang bagus. Pemimpin bidang olahraga menilai Kay Yow memiliki kedua syarat tersebut. Yow menerima pekerjaan itu, tetapi dengan keraguan besar.

Ketika Kay menginjakkan kaki di kampus perguruan tinggi yang besar, ia merasa sangat ragu. “Apa yang telah aku lakukan?” Kay bertanya pada dirinya sambil tetap melangkahkan kakinya. Untuk pertama kalinya sejak karirnya dalam pelatihan, ia ragu apakah ia dapat melakukan tugas itu dan cenderung percaya bahwa ia tidak bisa melakukannya. Jauh dalam hatinya, ia merasa hal ini adalah tantangan besar untuk gadis dari kota kecil.

Kay sedang menata ruangan kantornya ketika siswa bernama Laurie Moore mendekatinya dan bertanya apakah Yow dan para pemainnya akan menghadiri pertemuan khusus untuk tim mereka. Pengurus Campus Crusade for Christ mengadakan pertemuan dan mengharapkan semua tim kampus hadir. Jika atlet-atlet kampus menunjukkan keberanian mereka untuk berpihak pada Kristus, kelompok Crusade berpikir bahwa siswa biasa lainnya akan mengikuti teladan tersebut. Awalnya, Kay menolak sambil menyebutkan tugas-tugas lain, tetapi Moore tidak menyerah. Akhirnya, setelah berbagai alasan, Kay menerima undangan tersebut. Tiga dekade kemudian, ketika jam berdetak mundur di turnamen NCAA dan barangkali juga dalam hidupnya, ia bertanya- tanya mengenai apa yang akan terjadi seandainya ia tidak pergi pada malam musim gugur yang telah lama berlalu itu.

Duapuluh siswa berkumpul pada malam pertengahan 1970-an itu. Segera setelah doa pembukaan, dan baru beberapa menit pertemuan, pelatih yang sudah bosan ini membiarkan pikiran yang mengembara ke daftar “tugas yang harus dilakukan”. Meski nampaknya sedang memerhatikan, ia sebenarnya tidak peduli pada pertemuan yang sedang berlangsung. Ia sedang merencanakan kegiatan untuk latihan pertamanya. Kelalaiannya hampir membuat ia melewatkan pertanyaan yang akan secara dramatis mengubah hidupnya: “jika kamu meninggal sekarang apakah kamu akan pergi ke surga?”.

Seperti dikejutkan oleh kilat yang menyilaukan dan guntur yang menggelegar, kepanikan melanda seluruh tubuh Kay. Mengguncangkan hatinya bak gempa bumi besar. Ia belum pernah merasakan tekanan sedemikian besar, bahkan ketika ia masih menjadi pemain sekolah menengah dan harus membuat lemparan bagus untuk memperoleh kemenangan. Ia ragu, “Apakah aku akan pergi ke surga?” Ia terpaku pada pikiran yang mengerikan itu ketika siswa itu melanjutkan, “Apakah yang menjadi Nomor Satu dalam hidupmu? “Basket”, Kay mengaku. “Seluruh hidupku adalah tentang basket dan itu salah.”

Tambahan….
bersambung….

Check Also

Artikel Wanita April 26 copy

IMAN UNTUK MENANG – 7

Artikel Wanita April 26 copy Dalam pertandingan yang ditayangkan secara nasional di televisi dari Norman, …