1 Petrus 1:15-16, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Arti kata kudus menurut bahasa Yunani “hagios” berarti dipisahkan. Terpisah dari dosa dan dengan demikian dikuduskan bagi Allah. Suatu makna untuk menjelaskan kualitas yang diperlukan untuk berdiri bersama Allah dan untuk layak melayani-Nya. Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.”
Di berbagai belahan dunia yang fana ini, manakala kelompok Kristen tergolong minoritas dalam suatu masyarakat, tidak mengherankan bila selalu ditekan untuk menyesuaikan diri dengan ukuran-ukuran yang berlaku dari masyarakat tersebut. Sedangkan tekanan yang terus-menerus pada setiap orang dapat mengikis standar moral mereka. Sementara itu, penyesuaian dengan standar moral dunia berarti melawan kekudusan. Bagaimana sesungguhnya mereka harus bersikap?
Orang Kristen diperintahkan untuk menjadi lain dengan dunia. Perintah ini dapat dipahami melalui nasehat Paulus dalam Roma 12:1-2, ”Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Tuhan aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan; itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang baik yang berkenan kepada Tuhan dan yang sempurna.” Inti dari nasehat ini adalah menjaga kekudusan.
Di satu sisi, orang Kristen harus hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dan tidak boleh dikuasai oleh hawa nafsu. Pada sisi yang lain, orang Kristen juga harus mempunyai standar moral Ilahi yaitu hidup kudus dan menjadi serupa dengan Kristus. Filipi 2:5 dan 8, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampat mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Kita menyadari bahwa tidak mudah mencegah setiap pikiran yang tidak murni merasuk ke dalam pikiran kita. Namun kita memang harus mengendalikan pikiran-pikiran kita yang tinggal di dalam benak kita dan berkembang. Tuhan memberi kita jalan-jalan dimana kita dapat mengembangkan pemikiran yang murni dan kehidupan pikiran kita pada umumnya, karena kita memiliki Kristus, “berubahlah oleh pembaharuan budimu!” Pembaharuan adalah suatu proses yang berlanjut dan berulang-ulang secara terus menerus. Kemenangan yang dicapai hari ini tidak menjamin bahwa kita dapat memenangkan pertempuran hari esok. Untuk mengendalikan pikiran-pikiran kita, maka kita harus mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang benar. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Sarana yang paling efektif untuk mengisi dan mengendalikan pikiran adalah menghafalkan ayat-ayat Alkitab (firman Tuhan). Sementara kita menghafal berbagai bagian dari Alkitab, pikiran kita akan kembali kepada-Nya bila kita mengalami pencobaan. Oleh karena itu, sebagai insan kristiani yang mumpuni dituntut untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dan tidak boleh dikuasai oleh hawa nafsu serta memiliki standar moral Ilahi yaitu hidup kudus dan menjadi serupa dengan Kristus.
Tiga macam Kekudusan
- Kekudusan secara posisi; Ibrani 10:10, “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” Melalui kasih karunia dan ketetapan Allah, bangsa Israel dalam Perjanjian Lama dipisahkan dan dinyatakan sebagai suatu umat yang kudus bagi Allah. Keluaran 19:6, “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” Sedangkan dalam Perjanjian Baru dikuduskan melalui pekerjaan penebusan dosa oleh Yesus Kristus. Ibrani 10:14, Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.
- Kekudusan secara hubungan; 1 Tesalonika 5:23-24, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” Setelah dikuduskan secara roh pada waktu lahir baru , kita perlu secara terus menerus dikuduskan dalam kehidupan sehari hari .
- Kekudusan yang sempurna; 1 Yohanes 3:2, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” Pengudusan yang sempurna atas diri seorang percaya akan terlaksana pada saat kedatangan Tuhan Yesus kedua kali kelak. Ketika sangkakala Allah dibunyikan, tubuh yang fana digantikan tubuh yang baka, kekal dan mulia seperti Kristus di dalam segala kesempurnaan-Nya, dan kita mencerminkan kemuliaan Tuhan .
Kekudusan adalah hasil dari suatu hubungan
Hosea 2:19-20, “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.”
Ayat 19 menjelaskan bahwa Allah telah meminang kita di dalam kebenaran, keadilan dan kasih yaitu kekudusan. Jadi kekudusan adalah akibat alamiah dari hubungan intim dengan kuasa Yesus Kristus sang mempelai pria. Mereka yang telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan Yesus adalah mempelai wanita-Nya akan memotivasi untuk menyenangkan Tuhan sang mempelai pria melalui hubungan intim dengan mengakui otoritas-Nya mengenali dan menghargai serta berusaha untuk menyenangkan-Nya.
Demikian pula kita akan menghasilkan kekudusan jika kita senantiasa berada dibawah kaki Yesus melalui doa dan penyembahan yang tulus dengan dasar karena mengasihi-Nya.
Oleh: Dede Imawan
GBI Pasir Koja 39 Bandung