Hati Seorang Hamba

Oleh : Indri Haans

Ketika saya baru saja masuk dalam pelajaran mengenai penundukkan diri, dan saya benar-benar belum secara total memahaminya, suatu hari saya mengomel kepada Tuhan. “Tuhan, Engkau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan. Engkau adalah Allah. Engkau tidak perlu tunduk kepada siapapun juga!”
                Kadang-kadang saya heran bahwa Tuhan tidak membuka bumi dan menyuruhnya menelan saya. Dia tidak lakukan itu. Dia dengan sabar, tetapi terus menerus menaruh dalam pemikiran saya bahwa saya harus membaca Filipi 2:5-11.
                Dalam hubungan dengan suami, sikap dan teladan Yesuslah yang harus kita contoh (ayat. 5).
Yesus adalah Allah! Dia tidak perlu tunduk kepada siapapun juga. Tetapi Dia tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah. Dia telah melepaskan hak-Nya secara total (Fil. 2:7-8).
Agak mengagetkan ketika menyadari itu, tetapi fungsi kita sebagai seorang istri adalah sebagai seorang hamba. Kita harus mengosongkan diri kita sendiri seperti yang Yesus lakukan dan mengambil rupa seorang hamba.
Apa yang harus Anda lakukan minggu ini bagi suamimu “dalam rupa seorang hamba?” bagaimana Anda perlu mengosongkan diri Anda sendiri dari keegoisan untuk menjadi seorang hamba? Dapatkah Anda berpikir tentang sesuatu yang spesifik?
                Penundukkan diri kepada suami akan memproses pengelupasan atas lapisan kemapanan dan kemandirian, dan mengizinkan kerendahan hati. Yesus, ketaatan-Nya yang manis bersinar itu adalah proses seumur hidup.
                Penundukkan diri kepada suami akan memberikan kekuatan kepada suami Anda sebagai seorang laki-laki. Itu memastikan peranan yang Allah telah berikan kepadanya. Keuntungan lain dari penundukkan diri kepada suami adalah bahwa itu biasanya akan membuat dia lebih menarik bagi Anda dan Anda lebih menarik bagi dia. Allah mengetahui itu ketika dia membangun sistem itu!
                1 Korintus 11:7-9 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. 8) Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. 9) Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
               Ayat 7, ..tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Kita harus menyinarkan suami kita sama seperti bulan yang menyinarkan matahari. Kedua, kita berasal dari laki-laki. Kita adalah tulang rusuknya – penolongnya. Ketiga, kita diciptakan untuk kepentingan laki-laki. Kita harus menjadi temannya, tidak meninggalkan dia sendirian melainkan menjadi seorang penolong untuk tunduk kepadanya. Inilah yang firman Allah katakan tentang kita. Ini adalah peranan kita dan fungsi kita. Itu adalah satu berkat. Itu adalah satu kehormatan.
“Tuhan, saya ingin memenuhi maksud-Mu dalam menciptakan saya. Saya ingin menjadi alat dalam tangan-Mu untuk menjadi berkat bagi suami saya. Saya berdoa di dalam nama Yesus. Amin.

Kiat untuk Ibu
Ketika anak-anak datang kepada Anda meminta satu keputusan keluarga yang perlu dibuat, miliki satu tanggapan yang standar, “Tanyakan ayahmu.” Jika “ayah” mengirim balik anak kembali kepada Anda, buat satu pembicaraan dengan suami Anda. Minta dia untuk membuat keputusan akhir. Kadang-kadang anak-anak Anda akan mencoba untuk bolak-balik di antara Anda dan suami untuk menuntut apa yang mereka inginkan hingga satu diantara Anda akan menyerah. Tolak permintaan itu. Katakan pada mereka bahwa apapun yang ayah putuskan berlaku sebagai hukum.

Check Also

Artikel Wanita April 26 copy

IMAN UNTUK MENANG – 7

Artikel Wanita April 26 copy Dalam pertandingan yang ditayangkan secara nasional di televisi dari Norman, …