
Fondasi Teologis Pentakosta Ketiga; Pdm. Drs. Josep Tatang, M.Th.; Penerbit Cipta Agung; Cetakan pertama: 2020; 92 halaman.
Kata ‘Pentakosta’ secara etimologis berasal dari Bahasa Yunani ‘Pentekoste’ yang berarti ke lima puluh. Peristiwa Pentakosta Kesatu dapat kita baca dalam Kisah Para Rasul pasal 2 yang bercerita tentang dicurahkannya Roh Kudus atas 120 orang murid Tuhan Yesus setelah lima puluh hari kebangkitan-Nya. Pentakosta Kedua diyakini sebagai peristiwa pencurahan Roh Kudus di Azusa Street, di Kota Los Angeles, Negara Bagian California, Amerika Serikat, pada tahun 1906 memiliki daya jangkau yang sama dengan peristiwa Pentakosta di Yerusalem. Hal ini dapat dilihat bahwa gerakan Pentakosta yang lahir setelah peristiwa di Azusa Street itu telah melahirkan suatu gerakan yang awalnya dianggap sebagai salah satu sekte/bidat dalam Protestanisme. Selanjutnya gerakan itu melahirkan gereja-gereja beraliran Pentakosta yang berkembang pesat selama seratus tahun terakhir di berbagai belahan dunia dan sekali lagi mengubah sejarah dunia. Pengaruh Pentakosta juga dirasakan oleh gereja-gereja ‘mainstream’ yang sudah ada sebelumya. Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa gereja-gereja Pentakosta merupakan bagian besar dari kekristenan dunia. Buku ini memberikan dasar atau fondasi bagi argumen Pentakosta Ketiga yang sedang dibangun oleh Pdt. Dr. (H.C.) Ir. Niko Njotoraharjo, seorang pendeta senior Gereja Bethel Indonesia yang menggembalakan jemaat lebih dari 300 ribu orang. Fondasi yang dimaksud tentunya terkait dengan Teologi Pentakosta yang unik dan berbeda dari teologi lainnya. Diyakini bahwa akan segera terjadi pencurahan Roh Kudus seperti narasi dalam Kisah Para Rasul 2 dan Azusa Street dengan dampak penginjilan yang mendunia, dengan Indonesia sebagai titik awalnya.
Di Indonesia, gereja-gereja Pentakosta merupakan gereja dengan jumlah jemaat yang cukup besar. Pengaruh gereja-gereja Pentakosta di Indonesia sangat dirasakan bukan hanya oleh orang-orang Kristen, tetapi juga oleh umat beragama lain secara keseluruhan. Gereja-gereja Pentakosta telah membentuk wajah kekristenan di Indonesia.
Penulis menyusun buku ini menjadi tiga bab utama: 1) Pendahuluan: Latar Belakang Pentakosta Ketiga, 2) Kajian Teoritis Tentang Pentakosta, dan 3) Pentakosta Ketiga.
Pdm. Drs. Josep Tatang (Oey Seng Toan), M.A., M.M., M.H., M.Th. lahir di Bandung pada 24 Maret 1969. Beliau menempuh pendidikan Sarjana Bahasa Inggris di STBA Yapari-ABA, Master of Arts in Christian Leadership di STT Bandung, Magister Manajemen di Universitas Katolik Parahyangan, Sarjana dan Magister Hukum di Universitas Langlangbuana, dan Magister Teologi di STT Kharisma. Dan saat ini beliau sedang menyelesaikan pendidikan Doktor Teologi (D.Th.) di STT REAL Batam, Kepulauan Riau. Beliau berjemaat di Gereja Bethel Indonesia Jl. Pasir Koja No. 39 sejak tahun 1976 dan dibaptis tahun 1985. Menjadi Pdp (Pendeta Pratama) tahun 2002 dan Pdm (Pendeta Madya) tahun 2012. Beliau menikah dengan Meilia Tedja, dan mereka dikaruniai tiga orang anak: Glory Euodia, William Josep, dan Veronica Lan. Beliau juga melayani sebagai dosen tetap di STT Kharisma sejak tahun 2006.
GBI Pasir Koja 39 Bandung