EKONOMI KERAJAAN ALLAH

Artikel Utama 1
Oleh: Pdt. Simon Irianto

Banyak orang merasa, bahwa Tuhan tidak berurusan dengan perekonomian kita. Dia hanya peduli soal kekekalan dan rohani. Anggapan, bahwa semua hal yang bersifat materi harus kita usahakan sendiri, berjerih lelah tanpa harus melibatkan Tuhan. ”Biar saya miskin di sini tapi kaya di sorga.”

Nah, yang jadi pertanyaan bagaimana kita bisa menjadi berkat, menolong orang lain, membiayai misi, bila untuk keperluan kita sendiri saja kita harus berharap dari kebaikan orang lain? Padahal, pada saat Tuhan memanggil Abraham dalam Kejadian 12:1-2,Tuhan berjanji akan membuat Abraham menjadi bangsa yang besar, diberkati, memiliki nama yang masyur bahkan menjadi berkat bagi bangsa- bangsa. Dan itu digenapi Tuhan sepenuhnya dalam Kejadian 24:1, dikatakan Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati Tuhan dalam segala hal, bukan saja secara rohani, tetapi dia menjadi orang yang sangat dihormati dan terpandang. Dan yang luar biasa. Rasul Paulus dalam surat Galatia 3:9-13 menuliskan, bahwa mereka yang hidup oleh iman diberkati sama seperti Abraham, karena melalui karya Kristus, berkat Abraham itu menjadi milik bangsa-bangsa lain. Haleluya!

Untuk mengalami berkat Abraham itu, kita perlu menerapkan prinsip-prinsip kerajaan Allah dalam menjalankan profesi kita.

Pertama kita harus menerapkan prinsip: ‘Menabur dan Menuai’. Kejadian 26:12-33, kita belajar dari Ishak bagaimana bahkan di masa sulit kita masih bisa menuai berlipat ganda, semakin banyak menabur semakin banyak menuai.
2 Korintus 9:6-12, selain itu kita harus memiliki 4 hal penting untuk menjadi berhasil.
1. Memiliki roh yang antusias. (Roma 12:11).
2. Tidak bermalas malasan. (Amsal 18:9).
3. Cakap dan rajin (Amsal 22:29).
4. Harus menjadi orang yang berintegritas dan bisa dipercaya (Amsal 22:1).

Bila hal ini ada pada diri kita maka janji berkat Abraham itu menjadi milik kita

Prinsip yang sama pentingnya dalam ekonomi Kerajaan Allah adalah memiliki mentalitas kerajaan Allah. 1 Tawarikh 29:10-18, belajar dari seorang raja yang sangat berhasil dalam segala hal, Daud mengganggap semua keberhasilan dan kesuksesan itu dari Allah dan untuk kepentingan-Nya. Sikap seperti ini yang akan membuat kita tidak menjadi sombong dan lupa diri, serta memuaskan hawa nafsu ketika menjadi sukses. Kita hanyalah bendahara Tuhan, semua yang kita peroleh adalah milik-Nya. Jabatan, harta, semuanya kita pakai dalam pimpinan-Nya dan takut akan Dia, maka sukses dan kebahagiaan sejati akan menjadi milik kita. PASTI!!

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …