Dua Doa Besar

artOrang-orang Kristen cenderung terlibat secara berlebihan, secara mekanis dan teknis, bahkan di dalam diskusi-diskusi mengenai doktrin kita. “Kedatangan kedua” adalah kasus untuk hal tersebut. Fokus kita cenderung kepada, “Akankah kita mengalami penganiayaan?” Atau “Siapakah Antikris itu?” “Berapa banyak waktu yang saya miliki untuk bersiap-siap?” — dan bukannya hidup dalam pengharapan yang penuh sukacita akan kembalinya Yesus.

Orang-orang Kristen mula-mula, mungkin karena penganiayaan yang berat, nampaknya merindukan kehadiran Yesus yang sesungguhnya. Kepercayaan mereka hanya satu, baik di dalam hati mereka maupun di dalam pikiran mereka. Stefanus, martir pertama, ketika dia mati berseru, “Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kisah 7:59). Mereka sangat merindukan Parousia (kehadiran) Juru Selamat mereka, “karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam alam maut” (Wahyu 12:11).

Rasul Paulus dan Yohanes menunjukkan semangat yang sama dalam dua doa yang singkat yang tulus yang hanya terdiri dari tiga kata. Doa ini berdering keras sebagai seruan penuh gairah dan seruan profetis yang menggema di dalam roh setiap orang Kristen yang tulus. Paulus dan Yohanes, keduanya mengetahui bahwa Yesus akan kembali ketika Dia dapat, dan mereka mungkin tahu, Dia tidak akan kembali hingga setelah mereka mati. Mereka tidak takut akan penganiayaan atau kesukaran atau roh Antikris. Mereka melayani Allah dengan berapi-api. Doa-doa mereka merupakan harapan besar dan gairah bagi gereja-gereja.

Ketika Paulus menyelesaikan surat pertamanya kepada jemaat di Korintus, setelah menyediakan jawaban-jawaban yang membantu bagi sejumlah masalah gereja, dan tanpa diragukan lagi sedikit letih, dia menyerukan suatu solusi akhir bagi setiap keadaan, “Oh Tuhan, datanglah!” (1 Korintus 16:22). Dalam bahasa Aram Maranatha.

Yohanes, setelah melihat nubuatan sorga mengenai penglihatan kejadian-kejadian menakjubkan yang akan datang, menutup kitab Wahyu 22:20, dengan sebuah doa yang menguasai setiap hati orang-orang Kristen di mana-mana, “Datanglah, Tuhan Yesus!”

Doa-doa pedih ini menggambarkan, bahwa gereja mula-mula lebih berfokus pada kembalinya Yesus, dan apa yang diharapkan dari doa-doa tersebut lebih dari masalah-masalah sekunder yang sering kali menguasai pikiran-pikiran modern. Mereka memiliki dokrin hati dan bukan pikiran atau kepala. Hal-hal tertentu, yang mereka percayai secara tulus akan berkembang dengan sendirinya. Gereja seharusnya berkonsentrasi kepada tugas penting yang ditinggalkan untuk mereka.

Nasehat Petrus dalam hal ini cukup beralasan:

Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi la sabar terhadap kamu, karena la menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dasyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup, yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam nyala api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

(2 Petrus 3:8-13)

Marilah kita mengingat doa apostolik tersebut, “Oh Tuhan, datanglah!”, “Datanglah, Tuhan Yesus.” Mungkin kita bahkan dapat menambahkan dengan seruan kita sendiri, ” Datanglah dengan cepat, Tuhan Yesus!”

Oleh: Pdm. Josep Tatang

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …