Doa, Pujian dan Penyembahan adalah Senjata Kita

Sebagai manusia, seringkali kita diperhadapkan dengan berbagai macam masalah yang membuat kita takut dan terpuruk. Entah apa yang harus kita perbuat, kita tidak tahu dan takut untuk melangkah. Kita menjadi cemas dan ragu, lalu mencari jawaban pada kerabat terdekat, orang yang kita anggap lebih berpengalaman, atau bahkan kita mungkin mencari “orang pintar” (semacam dukun/paranormal).

Dalam kitab 2 Taw. 20, bangsa Moab dan Amon bersekutu untuk menyerang bangsa Yehuda. Dalam kondisi yang terdesak, raja Yehuda yang bernama Yosafat menjadi takut dan gentar, dia dan rakyatnya merasa lemah dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengalahkan bangsa yang besar itu. Namun, dia melakukan hal yang tepat, antara lain:

  • Mencari TUHAN (2 Taw. 20:3), tinggal dalam hadirat TUHAN, memusatkan hati dan pikiran pada TUHAN sampai TUHAN berbicara padanya. Ketika kita mendapatkan masalah yang tidak kunjung selesai, kita perlu tanyakan kepada diri kita, seberapa sering kita mencari TUHAN dan bertanya apa maunya Tuhan dalam kehidupan kita.
  • Memerintahkan seluruh bangsa Yehuda untuk berpuasa (2 Taw. 20:4). Bukan Yosafat saja, melainkan seluruh rakyat Yehuda tanpa terkecuali. Kita dapat lihat bahwa kesatuan hati dan penundukkan diri dari bangsa Yehuda sangat luar biasa. Pernahkah kita melakukan hal itu? Puasa itu bukan hanya persoalan tidak makan dan tidak minum, serta menahan hawa nafsu saja, melainkan tinggal di dalam Tuhan dan taat akan segala perintah Tuhan (Luk. 5:33-35).
  • Meminta pertolongan dari pada TUHAN melalui kata-kata doa dan seruan dari hati (2 Taw. 20:6-12). Walaupun Yosafat berdoa terkesan apa adanya, namun justru itulah yang Tuhan mau karena disitulah letak ketulusan hati Yosafat. Kapan terakhir kali kita berbicara tulus apa adanya kepada Tuhan melalui doa dan seruan hati kita? Tahukah kita bahwa Tuhan mendengarkan jeritan hati yang paling dalam, sekalipun kata-kata kita tidak tersusun dengan baik, bahkan ketika kita tidak sanggup lagi berkata-kata?

Perkataan doa Yosafat yang tulus pada TUHAN, serta kesatuan hati bangsa Yehuda membuat TUHAN tidak tinggal diam dan berkata melalui seorang Lewi yang dihinggapi Roh TUHAN bahwa bukan Yosafat dan bangsa Yehuda yang akan berperang melainkan Allah, TUHAN berjanji bahwa bangsa Yehuda akan melihat kebesaran TUHAN membawa kemenangan bagi bangsa Yehuda (2 Taw. 20:15-17). Ketika mendengar perkataan itu, Yosafat beserta bangsa Yehuda merespon dengan percaya, sujud menyembah, dan memuji-muji TUHAN. Sekalipun Yosafat belum melihat, namun ia percaya (2 Taw. 20:18-19). Berapa banyak diantara kita percaya janji TUHAN, walaupun kita tidak atau belum melihat atau merasakan itu? Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yoh. 20:29).

Nampaklah disini bahwa senjata yang dimiliki bangsa Yehuda bukanlah palu atau tombak atau gada, melainkan melodi, seruan, doa, puji-pujian, nyanyian pada Allah (2 Taw. 20:20-22). Bangsa Yehuda sama sekali tidak bertempur secara fisik. Raja Yosafat tadinya hanya meminta agar TUHAN menghalau musuhnya saja, dan meluputkan bangsa Yehuda. Namun jawaban TUHAN tidak hanya menghalau musuhnya saja, bahkan bangsa Yehuda dibuat TUHAN menerima berkat hasil jarahan dari bangsa Moab dan Amon (2 Taw. 20:23-25).

Dalam Perjanjian Baru, ketika anak kecil menyambut Tuhan Yesus, Ia menyukai kepolosan, dan ketulusan anak kecil itu (Mrk.10:15-16). Saat ini, kita sebagai orang Kristen alangkah baiknya bersyukur karena memiliki kebebasan untuk berhubungan dan bersekutu dengan Tuhan. Setelah kebangkitan dan naiknya Yesus ke Surga. Roh Kudus yang adalah Allah sendiri telah dicurahkan kepada kita, sehingga kita dapat berbicara langsung apapun, kapanpun, dan dimanapun. Tidak ada lagi yang dapat membatasi kita untuk berhubungan dengan Tuhan. Mari kita datang untuk memuji, menyembah dan berdoa pada Tuhan dengan hati rindu dan tulus apa adanya. Lagu-lagu pujian dan penyembahan terlahir dari doa dan hubungan yang erat dengan Tuhan. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya seseorang yang sedang menyanyi dan menyembah Tuhan dapat berekspresi dengan bermazmur, mengangkat tangan, melompat dan menari bagi Tuhan. Ini adalah sesuatu yang normal dilakukan oleh orang-orang yang memfokuskan hati dan pikirannya pada Tuhan. Hal itu bukan untuk pamer dan dilihat orang, melainkan bagaimana kita mengekspresikan kekaguman kita pada Tuhan.

Pernahkah kita berseru dan berdoa pada Tuhan, lalu menerima jawaban doa yang sesuai bahkan melebihi ekspektasi kita? Seperti TUHAN menjawab doa Yosafat. Tuhan senang memberikan jawaban doa di atas ekspektasi kita, bahkan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan timbul dalam hati setiap orang yang mengasihi-Nya (1 Kor. 2:9). Tuhan rindu semua yang letih lesu dan berbeban berat datang kepada-Nya, jiwa kita akan berikan ketenangan dan kelegaan (Mat. 11:28-30).

Dalam kehidupan kita saat ini, marilah bergaul intim dengan Tuhan dan jadikan seruan, doa, puji-pujian dan penyembahan kepada Tuhan sebagai senjata untuk menyatakan kemenangan atas pertempuran akan masalah-masalah/pergumulan-pergumulan dalam kehidupan kita.

Oleh: Hagi Aryanto

Check Also

Artikel Utama

BERSAKSI ITU MENYENANGKAN

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans 2 Timotius 4:2, 8Menginjil itu tidak mudah. Namun, menginjil/bersaksi …